Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pertamina Serahkan 45 Alat Tenun untuk Pulihkan Ekonomi Perajin Desa Sade

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pertamina Serahkan 45 Alat Tenun untuk Pulihkan Ekonomi Perajin Desa Sade
BAGIKAN:

Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Agustus lalu telah memutus mata pencaharian ratusan perajin tenun. PT Pertamina (Persero) merespons krisis ini dengan menyerahkan 45 unit alat tenun beserta program pendampingan pelatihan, sebuah langkah strategis untuk menghidupkan kembali roda ekonomi berbasis budaya di kawasan tersebut.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, di panggung Festival area Pertamina Mandalika International Circuit. Momentum ini dipilih bukan tanpa alasan; lokasi tersebut menjadi saksi bisu bagaimana industri pariwisata dan energi bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat adat setempat. Bantuan ini menyasar warga yang kehilangan peralatan kerja serta infrastruktur vital seperti toko seni, lumbung, dan Bale Baleq akibat musibah kebakaran.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa inisiatif di bawah payung Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini bertujuan memulihkan produktivitas keluarga terdampak. "Melalui bantuan 45 alat tenun serta pendampingan pelatihan, kami berharap para perajin Desa Adat Sade dapat kembali bekerja dan menghasilkan karya," ujar Arya. Ia menekankan bahwa tradisi tenun bukan sekadar komoditas, melainkan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.

Arya menambahkan bahwa kehadiran Pertamina di Mandalika membawa semangat tumbuh bersama masyarakat. Program ini dirancang agar warga sekitar turut merasakan manfaat dari berkembangnya pariwisata global di Lombok. "Dukungan bagi perajin Desa Sade juga menjadi upaya menjaga tradisi tenun agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya," katanya. Hal ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam memperkuat potensi lokal demi kemandirian ekonomi.

Apresiasi datang dari Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sade, Thalib. Bagi warga, ketersediaan alat produksi adalah prioritas utama pasca-bencana. "Setelah musibah, salah satu kebutuhan warga adalah peralatan untuk kembali bekerja. Kami berterima kasih atas bantuan Pertamina karena alat tenun ini membantu para perajin memulai kembali kegiatan mereka," tutur Thalib. Ia berharap pemulihan usaha perajin akan berdampak positif pada kunjungan wisatawan yang mencari autentisitas kain Sasak.

Analisis Redaksi

Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, intervensi Pertamina ini menunjukkan pola tanggung jawab korporasi yang matang: tidak hanya memberikan uang tunai, tetapi mengembalikan aset produktif. Kehilangan alat tenun berarti hilangnya kemampuan menciptakan nilai tambah. Dengan mengganti aset fisik dan menyediakan transfer pengetahuan melalui pelatihan, Pertamina memastikan bahwa dampak jangka panjang dari kebakaran—yaitu kemiskinan struktural baru—dapat dicegah. Ini adalah contoh nyata bagaimana CSR efektif ketika menyentuh akar masalah kapasitas produksi, bukan sekadar gejala sosial.

Selain itu, sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata massal di Mandalika seringkali rapuh. Jika masyarakat lokal merasa tersingkir atau hanya menjadi penonton, resistensi sosial bisa muncul. Langkah Pertamina yang mengintegrasikan pemulihan ekonomi Desa Sade dengan ekosistem wisata Mandalika merupakan mitigasi risiko konflik horizontal. Namun, tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi pasar. Apakah kain hasil tenun pasca-pemulihan ini akan memiliki daya saing harga dan kualitas dibandingkan produk pabrikan? Keberhasilan program ini ke depan sangat bergantung pada akses pemasaran lanjutan yang mungkin belum sepenuhnya terekspos dalam rilis singkat ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸