AirNav Paparkan Sukses FRTO di Forum ICAO Montreal, Hemat USD 8 Juta

AirNav Indonesia memaparkan keberhasilan penerapan Free Route Operation (FRTO) di wilayah udara kepulauan dalam forum strategis industri penerbangan dunia. Presentasi ini disampaikan langsung oleh Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, saat tampil sebagai panelis di sesi FUA & Free Route Airspace pada acara ICAO Air Navigation World - Air Traffic Flow Management (ATFM) 2026.
Kegiatan yang berlangsung di markas ICAO, Montreal, Kanada, pada 5-9 Oktober 2026 tersebut menjadi panggung bagi AirNav untuk berbagi pengalaman teknis. Materi utama yang dibawakan berjudul "Sequencing Free Route Operation (FRTO) Across Indonesia's Archipelagic Airspace" menyoroti kompleksitas manajemen lalu lintas udara di negara dengan lebih dari 17.000 pulau.
Inisiatif FRTO sejatinya telah bermula sejak tahun 2020, dipicu oleh penurunan drastis pergerakan lalu lintas udara akibat pandemi COVID-19. Menindaklanjuti permintaan International Air Transport Association (IATA), AirNav berkoordinasi erat dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk menguji konsep User Preferred Route (UPR). Proses uji coba melibatkan Indonesia Air Traffic Controllers Association (IATCA) guna memastikan kesiapan personel dan prosedur keselamatan sebelum implementasi penuh.
Setelah melalui penilaian risiko keselamatan secara bertahap, FRTO akhirnya diberlakukan sepenuhnya di Flight Information Region (FIR) Jakarta dan Ujung Pandang pada 5 Oktober 2023. Ruang lingkup operasional mencakup ketinggian FL330 hingga FL600. Tantangan terbesar terletak pada luasnya ruang udara yang ditangani AirNav, yakni sekitar 7,79 juta kilometer persegi, serta kebutuhan koordinasi intensif dengan 10 FIR negara tetangga.
Dampak efisiensi dari kebijakan ini terbukti signifikan sepanjang periode 2020-2025. Sebanyak 10.578 penerbangan tercatat memanfaatkan FRTO di dua FIR utama tersebut. Pada tahun 2025 saja, jumlah pengguna melonjak 82 persen dibandingkan tahun sebelumnya, naik dari 2.770 menjadi 5.030 penerbangan. Peningkatan adopsi ini didorong oleh kemampuan sistem otomasi AirNav dalam mengantisipasi pola konflik antarpesawat yang lebih dinamis tanpa mengorbankan standar separasi.
Berdasarkan perhitungan internal AirNav Indonesia, pemanfaatan FRTO pada 2025 menghasilkan penghematan biaya bahan bakar maskapai sebesar USD 8,04 juta. Selain keuntungan ekonomi, langkah ini juga berkontribusi terhadap lingkungan dengan menghindari emisi karbon dioksida (CO₂) sebanyak 5.426 ton. Efisiensi lintasan turut memangkas jarak tempuh dan waktu terbang, memberikan nilai tambah kompetitif bagi operator pesawat.
Analisis Redaksi
Pemaparan di forum ICAO ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemimpin inovasi navigasi penerbangan di kawasan Asia-Pasifik. Keberhasilan integrasi FRTO lintas batas—termasuk operasi penuh dengan FIR Oakland, Port Moresby, dan Australia—menunjukkan bahwa kolaborasi regional mampu mengatasi hambatan geografis kepulauan. Namun, publik perlu waspada bahwa kebebasan memilih lintasan harus selalu diimbangi dengan kompetensi personel yang terus ditingkatkan sesuai standar ICAO APAC Project 30/10.
Masa depan layanan navigasi akan bergeser ke arah Trajectory-Based Operations (TBO). Bagi pelaku usaha, stabilitas regulasi dan investasi teknologi otomasi menjadi kunci keberlangsungan efisiensi ini. Jika konsistensi pemeliharaan sistem dan pelatihan pilot controller terjaga, potensi penghematan biaya logistik nasional dapat meningkat lebih jauh seiring pemulihan penuh trafik udara global pasca-pandemi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
