Suriah Kaji Kirim 20 Ribu Tentara ke Yaman, AS Tak Keberatan
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dilaporkan tengah mempertimbangkan usulan untuk mengerahkan hingga 20.000 tentara ke Yaman guna memperkuat operasi militer yang didukung Arab Saudi melawan kelompok Houthi. Rencana ini muncul di tengah eskalasi konflik yang kembali memanas setelah Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah pada September lalu.
Negosiasi antara Riyadh dan Damaskus bertujuan membantu pemerintah Yaman yang diakui secara internasional merebut kembali wilayah yang kini dikuasai oleh kelompok bersenjata pro-Iran tersebut. Menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Amerika Serikat (AS), Washington pada prinsipnya tidak keberatan dengan wacana pengerahan pasukan ini karena dianggap dapat memperkuat kapabilitas tempur tanpa menarik keterlibatan langsung AS lebih jauh dalam konflik regional.
Pembahasan isu krusial ini turut terjadi dalam pertemuan bilateral antara al-Sharaa dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh pada Selasa. Sumber internal mengungkapkan bahwa pihak Saudi merasa perlu meningkatkan kekuatan militer mitra lokal mereka, mengingat tingkat pelatihan pasukan pemerintah Yaman dinilai masih berada di bawah standar dibandingkan efektivitas tempur pasukan Houthi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan telah dimintai pendapat terkait potensi mobilisasi ini. Pasukan yang menjadi sorotan mencakup ribuan petempur asing beraliran Islamis yang sebelumnya beroperasi di bawah naungan Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Keterlibatan elemen-elemen ini membawa risiko tersendiri; para analis menyoroti potensi peruncingan ketegangan sektarian mengingat latar belakang Sunni dari petempur HTS berhadapan langsung dengan ideologi Syiah Zaydi yang dianut oleh Houthi.
Meskipun demikian, ketidakpastian menyelimuti rencana tersebut. Reuters mencatat adanya pertimbangan bantuan militer lain dari Damaskus kepada Riyadh, namun Penasihat Kepresidenan Suriah Ahmad Zaidan secara tegas membantah adanya permintaan resmi pengerahan pasukan, menyebut laporan media tersebut tidak berdasar. Di sisi lapangan, Koalisi pimpinan Saudi mengklaim telah melancarkan serangan udara masif menggunakan 100 jet tempur yang menghancurkan 324 target Houthi, sementara balasan rudal dan drone terus mengarah ke infrastruktur vital seperti bandara Riyadh dan Abha.
Analisis Redaksi
Langkah Suriah mengkaji pengiriman puluhan ribu tentara menandai pergeseran dinamika geopolitik Timur Tengah yang signifikan, di mana aktor non-negara atau negara yang baru bangkit pasca-konflik internal mulai mengisi kekosongan keamanan di Yaman. Bagi Washington, dukungan diam-diam terhadap inisiatif ini merupakan strategi efisiensi biaya: mengurangi beban logistik koalisi Saudi sambil menjaga pengaruh AS melalui legitimasi diplomatik tanpa harus mengirim bot sendiri. Namun, memasukkan elemen ekstremis masa lalu seperti mantan kombatan HTS ke dalam medan perang sectarian adalah pedang bermata dua yang bisa memicu radikalisasi balik jika kontrol komando melemah.
Dampak bagi stabilitas global sangat nyata, terutama terkait keselamatan navigasi di Selat Bab el-Mandeb. Eskalasi militer yang melibatkan tenaga manusia skala besar dari Suriah akan mengubah sifat perang dari sekadar pertukaran rudal jarak jauh menjadi konflik darat konvensional yang panjang dan melelahkan. Publik perlu mewaspadai kemungkinan kegagalan diplomasi segera, karena intervensi militer eksternal sering kali memperpanjang durasi konflik daripada menyelesaikannya, sekaligus membuka celah bagi Iran untuk memanfaatkan narasi agresi asing demi memperkuat basis dukungan domestiknya di kalangan Syiah regional.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
