⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

RI Kucurkan Rp154 Miliar untuk Percepat Pengembangan Kelapa Nasional pada 2027

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

RI Kucurkan Rp154 Miliar untuk Percepat Pengembangan Kelapa Nasional pada 2027
BAGIKAN:

Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan kelapa sebagai komoditas strategis melalui rencana Coconut Area Development Plan yang akan diluncurkan pada 2027. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengumumkan alokasi kawasan seluas 51.721 hektare di berbagai wilayah tanah air guna memenuhi lonjakan permintaan global terhadap produk turunan kelapa.

Rencana induk tersebut memecah target menjadi dua komponen utama: ekspansi lahan baru sebesar 42.721 hektare dan peremajaan atau replanting seluas 9.000 hektare. Untuk menopang program ambisius ini, pemerintah telah menyiapkan pagu anggaran sekitar Rp154,58 miliar. Langkah ini dinilai krusial mengingat sebagian besar tanaman kelapa nasional kini berusia tua dan produktivitasnya menurun drastis.

Zulhas menegaskan bahwa nilai ekonomi kelapa saat ini melampaui banyak komoditas perkebunan lain. Perubahan pola konsumsi dunia turut mendorong harga pasar. "Orang sekarang minum kopi nggak pakai susu lagi, sudah pakai kelapa, santan. Itu terjadi di Tiongkok, Asia, India dan tempat-tempat lain, sehingga kelapa menjadi rebutan," ujar Zulhas saat menghadiri rangkaian World Coconut Day 2026 di Manado, Sulawesi Utara.

Tantangan teknis dalam budidaya juga menjadi sorotan utama. Masa tunggu panen kelapa dalam yang mencapai enam hingga tujuh tahun dianggap terlalu lama untuk bersaing dengan Thailand. Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan penyediaan varietas unggul yang mampu berbuah hanya dalam waktu tiga tahun. Intervensi ini mencakup percepatan pembibitan serta perbaikan manajemen kebun rakyat agar tidak tertinggal dalam rantai pasok global.

Selain hulu, fokus kebijakan bergeser ke hilirisasi industri. Zulhas menyebut koordinasi lintas kementerian—melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Hilirisasi, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara)—akan memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah. Tujuannya adalah menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi yang dinikmati langsung oleh perekonomian domestik.

Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas pembangunan nasional. Berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung mengembangkan kebun skala besar, pemerintahan saat ini memulai penguatan dari tingkat perkebunan rakyat. Kelapa ditetapkan sebagai komoditas nomor satu dalam daftar prioritas, menyusul kopi, cengkeh, dan cokelat.

Analisis Redaksi

Momentum penetapan kelapa sebagai komoditas unggulan pertama di bawah rezim Prabowo menandai pergeseran paradigma agraria nasional. Jika selama puluhan tahun perhatian publik terfokus pada sawit, kini negara mencoba mendiversifikasi risiko dengan mengangkat potensi 'emas putih' dari pekarangan rakyat. Alokasi dana Rp154,58 miliar mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan subsidi pupuk berskala nasional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan distribusi bibit varietas genjah (tiga tahun buah) ke tangan petani. Tanpa infrastruktur logistik benih yang solid, target luasan lahan hanya akan menjadi angka di atas kertas.

Indonesia berada di persimpangan kritis antara menjadi eksportir bahan baku murah atau pemain utama industri olahan global. Kompetisi dengan Thailand tidak bisa dimenangkan hanya dengan luas lahan, melainkan melalui efisiensi biaya produksi dan inovasi produk akhir. Keberhasilan program ini akan ditentukan oleh kemampuan Danantara dan kementerian terkait menarik investasi swasta ke sektor pengolahan kelapa lokal. Kegagalan menciptakan ekosistem hilir yang kompetitif hanya akan mengulang sejarah di mana kekayaan alam diekspor mentah, sementara nilai tambahnya dinikmati negara tetangga.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸