Rosan: Investasi Hilirisasi Menembus 30 Persen, 75 Persen Berada di Luar Jawa
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkap data krusial mengenai peta sebaran modal asing. Sekitar 75 persen investasi di sektor hilirisasi kini terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Fakta ini menandai pergeseran signifikan dalam distribusi pembangunan ekonomi nasional yang selama ini cenderung Jawa-sentris.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan dalam gelaran Investor Daily Summit 2026 pada Rabu (7/10). Ia menegaskan bahwa dominasi lokasi investasi di luar Jawa bukan sekadar kebetulan geografis, melainkan hasil dari kebijakan strategis pemerintah untuk meratakan pertumbuhan. Data menunjukkan kontribusi investasi hilirisasi terhadap total penanaman modal di Indonesia telah mencapai angka 30 persen.
Angka tersebut mencatat kenaikan progresif dibandingkan periode sebelumnya. Jika dahulu kontribusi hilirisasi hanya berkisar di level 25 persen dari total investasi, saat ini posisinya sudah mendekati 30 persen. Meskipun demikian, Rosan mengakui bahwa komposisi sektoral masih belum sepenuhnya merata. Sektor mineral tetap mendominasi aliran dana besar dalam kategori hilirisasi ini.
Namun, fokus pemerintah tidak lagi terbatas pada tambang saja. Rosan menjelaskan adanya perluasan dorongan hilirisasi ke sektor perkebunan, kelautan, dan bidang lainnya. Perbedaan mendasar terletak pada rasio antara nilai investasi dengan dampak sosialnya. Nilai uang yang masuk ke sektor non-mineral mungkin tidak sebesar mineral, namun efek penggandaannya terhadap penyerapan tenaga kerja jauh lebih masif.
Contoh konkret diberikan melalui proyek pengolahan kelapa beserta produk turunannya di Morowali. Investasi senilai US$100 juta tersebut telah selesai dibangun dan beroperasi penuh. Proyek ini terbukti mampu menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Ini membuktikan tesis bahwa intensitas padat karya bisa dicapai tanpa harus bergantung pada kapital raksasa ala pertambangan.
Di sisi lain, ekosistem nikel memperlihatkan kematangan rantai pasok yang utuh. Mulai dari pengolahan bijih nikel, produksi anoda dan katoda, sel baterai, battery pack, hingga fasilitas daur ulang baterai kini tersedia di dalam negeri. Rosan menyebut kondisi ini sebagai "the whole ecosystem" yang berhasil dibangun Indonesia. Keberhasilan ini berdampak langsung pada lonjakan nilai ekspor.
Data historis memperkuat argumen tersebut. Ekspor nikel yang pada rentang 2016-2017 hanya bernilai sekitar US$3,3 miliar, melonjak drastis menjadi US$33 miliar pada tahun 2025. Kenaikan sepuluh kali lipat ini merupakan buah dari industrialisasi dan value added yang tercipta melalui proses hilirisasi. Bagi Rosan, ujung tombak dari seluruh program hilirisasi ini pada akhirnya adalah industrialisasi itu sendiri.
Analisis Redaksi
Pergeseran bobot investasi ke luar Jawa sekaligus diversifikasi ke sektor agro-maritim menandakan kedewasaan strategi ekonomi nasional. Ketergantungan berlebihan pada komoditas mentah atau satu jenis logam mulai dikurangi. Pemerintah tampaknya menyadari bahwa stabilitas sosial-politik di daerah penghasil sumber daya alam sangat ditentukan oleh kualitas hidup warganya, yang erat kaitannya dengan ketersediaan lapangan kerja formal seperti kasus pabrik kelapa di Morowali.
Tantangan utama ke depan bukanlah menarik investor baru, melainkan memastikan keberlanjutan operasional dan transfer teknologi. Angka ekspor nikel yang naik sepuluh kali lipat memang impresif, namun volatilitas harga global tetap ancaman nyata. Oleh karena itu, penguatan kapasitas SDM lokal agar mampu mengisi posisi manajerial dan teknis di pabrik-pabrik hilirisasi menjadi prasyarat mutlak. Tanpa intervensi pendidikan vokasi yang agresif, risiko ketimpangan struktural antara pemilik modal asing dan pekerja lokal akan semakin melebar.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Uji Produksi Minyak Prabumulih Melebihi Target 192%

BPS Catat Inflasi Oktober 2026 Turun Jadi 3,23%, Harga Bensin dan Emas jadi Pemicu

Lonjakan Harga Pangan Awal November: Bawang Merah Melonjak 89,7%
