Kabut Ambon Kiriman Asap Karhutla Papua, Maluku Tengah Masuk Fokus Pantauan

Asap tebal yang menyelimuti Kota Ambon bukan akibat kebakaran lokal yang tak terkendali, melainkan kiriman dari Papua, Buru, dan Seram, ungkap Kepala Dinas Kehutanan Maluku Haikal Baadila.
"Asap yang ada di Kota Ambon saat ini bukan murni berasal dari karhutla Pulau Ambon, tetapi merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Papua, sebagian besar di Papua, serta sebagian kecil di Pulau Buru dan Pulau Seram," kata Haikal di Ambon, Kamis (8/10) dikutip dari Antara.
Menurut Haikal, kebakaran hutan dan lahan di Pulau Ambon saat ini masih dalam kondisi yang dapat dikendalikan sehingga belum masuk kategori keadaan darurat. Ia menegaskan, kondisi baru dikategorikan parah apabila kualitas udara memburuk hingga mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, maupun transportasi.
"Kalau kualitas udara sudah parah, kemudian mengganggu transportasi, kesehatan dan lain-lain, baru kita anggap parah dan ada status tanggap darurat yang dikeluarkan oleh BNPB atau BPBD," ujar Haikal. Hingga kini, ancaman nyata masih berasal dari titik panas di wilayah kepulauan lain yang terbawa angin.
Dinas Kehutanan Maluku terus melakukan pemantauan setiap hari menggunakan citra satelit untuk mendeteksi titik panas (hotspot) di berbagai wilayah. Beberapa daerah yang menjadi perhatian utama dalam pemantauan ini antara lain Kabupaten Buru, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah khususnya wilayah Seram Utara, Seram Bagian Barat, serta Kepulauan Tanimbar.
Kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan menjadi tantangan tersendiri. Mobilisasi personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran sulit dilakukan secara cepat dibandingkan wilayah daratan. Oleh karena itu, pencegahan melalui sosialisasi dan kampanye kepada masyarakat di 11 kabupaten/kota serta patroli menjadi langkah krusial untuk menekan risiko meluasnya kebakaran.
H3 Analisis Redaksi
H3 Analisis Redaksi
Peringatan dari Dinas Kehutanan Maluku menegaskan bahwa ancaman utama saat ini bersifat trans-nasional, atau lebih tepatnya, trans-lokalis di kawasan timur Indonesia. Ketergantungan pada kualitas udara Ambon yang terpengaruh oleh kebakaran di Papua menyoroti keterbatasan mitigasi lokal terhadap sumber karhutla jarak jauh. Tanpa koordinasi penanganan karhutla yang efektif di wilayah asal, intervensi di Ambon hanya bersifat reaktif dan kosmetik.
Keterlambatan respons di wilayah kepulauan seperti Buru dan Seram menjadi blind spot serius. Jika tren peningkatan hotspot di wilayah-wilayah tersebut tidak tertangani melalui pendekatan preventif berbasis masyarakat, risiko status darurat bisa berubah dari "kewaspadaan" menjadi "darurat" dalam hitungan minggu. Pemantauan satelit adalah alat deteksi, bukan alat pemadaman; keberhasilannya bergantung pada kecepatan eksekusi di lapangan yang sering terhalang oleh keterbatasan logistik maritim.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Pramono Anung Pastikan DKI Ikuti Keputusan Pusat Soal Konser Andrea Bocelli 2026

Menekraf Percepat Aktivasi 80 Desa Kreatif dengan Fokus pada Talenta Akar Rumput

KemenPPPA Gelar Festival Anak Bermain di GBK untuk Kurangi Screen Time Anak
