Harga Telur Anjlok ke Rp17.100, DPR Janji Bawa Pelapor Peternak ke Presiden Prabowo
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Keluhan keras dari peternak ayam petelur soal harga telur yang anjlok jauh di bawah biaya produksi kini menjadi sorotan serius. Ketua Komisi IV DPR RI, RITitiek Soeharto, berjanji membawa persoalan ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto guna menekan kerugian yang terus membayangi para petani dan peternak di seluruh Indonesia.
Ritika menegaskan bahwa swasembada telur tidak bisa hanya diukur dari ketersediaan, tetapi juga dari keberlangsungan ekonomi pelakunya. "Ini sudah kami tampung, nanti kami akan perjuangkan di kementerian, dan insya Allah sampaikan ke Pak Presiden (Prabowo) ini," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN) pada Rabu (7/10). Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan harus memastikan peternak tetap sejahtera agar usaha tidak bangkrut.
Data yang disampaikan Pengurus PPN, Suwardi, menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Harga telur di tingkat peternak sejak April berada di kisaran Rp19.000-Rp20.000 per kg, jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) Bapanas No. 6/2024 sebesar Rp26.500 per kg. Bahkan pada Juni, harga menyentuh titik terendah Rp17.100 per kg. Akibatnya, peternak mengalami kerugian bersih Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari.
Dilema semakin dalam karena bahan pakan utama, jagung, harganya melonjak tajam. Di Lampung, harga jagung mencapai Rp8.400 per kg, sementara di NTB sekitar Rp7.700 per kg. Suwardi memperkirakan kebutuhan jagung lima bulan ke depan mencapai 223 ribu ton, namun stok di Bulog hanya tersisa sekitar 30 ribu ton setelah program SPHP. Peternak mengaku banyak yang sudah mengosongkan kandang karena tidak mampu membeli pakan.
Sebagai solusi, Titiek akan berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Bulog untuk menstabilkan harga jagung. Ia mengusulkan mekanisme penyerapan telur melalui program pemerintah agar tidak terjadi pemborosan produksi. "Kami akan berusaha sekeras mungkin... minta juga dikoordinasikan Bulog supaya harga jagungnya ini bisa distabilkan," kata Titiek. Langkah ini diharapkan dapat masuk dalam rapat terbatas kepresidenan untuk mengkoordinasikan kementerian terkait.
Analisis Redaksi
Konflik struktural antara harga pakan yang naik dan harga jual yang turun menciptakan jebakan likuiditas bagi peternak mikro hingga menengah. Jika harga jagung tidak distabilkan oleh Bulog dalam waktu dekat, ancaman kebangkrutan massal adalah konsekuensi logis yang tak terhindarkan. Angka kerugian harian Rp5.000-Rp7.000 per kg bukan sekadar statistik, melainkan indikator kegagalan transmisi harga di rantai pasok yang membuat upah kerja petani/peternak lebih rendah dari modal yang dibutuhkan.
Peran Komisi IV dalam eskalasi masalah ini menjadi penentu arah kebijakan. Dengan menjanjikan pembahasan di tingkat rapat terbatas Presiden, ada tekanan politik agar kementerian teknis tidak lagi saling lempar tanggung jawab antara Kementan dan Bulog. Permasalahan ini bukan semata teknis pertanian, tetapi masalah keberlanjutan ekonomi rumah tangga pedesaan yang terintegrasi dengan stabilitas harga pangan nasional di tingkat konsumen.
Meski janji koordinasi sudah digaungkan, implementasinya harus diuji pada kelancaran distribusi jagung. Data menunjukkan jebakan antara permintaan 223 ribu ton dan ketersediaan hanya 30 ribu ton stok Bulog. Tanpa intervensi impor atau realokasi yang cepat, risiko kegagalan panen telur berikutnya di tengah kemarau panjang dan El Nino akan memperparah defisit pasokan di pasar domestik dalam jangka menengah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KKP Targetkan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih dan 4.582 Kapal untuk Dongkrak Kesejahteraan hingga 2029

Sinar Mas dan Salim Group Buka Suara: Boss Sawit Diklarifikasi di Singapura terkait Karhutla

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital
