AHY Tegas: Importasi KRL Bekas Jepang dari KAI Harus Diringankan Alih Teknologi

Agus Harimurti Yudhoyono menolak secara implisit skema impor KRL bekas Jepang oleh KAI dengan menetapkan syarat mutlak: wajib ada alih teknologi. Mantan Pangkostrad itu menegaskan bahwa kerja sama internasional boleh, asalkan industri dalam negeri tetap hidup.
Di hadapan awak media di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (7/10), AHY menjelaskan posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Ia mengakui penambahan rangkaian kereta modern sangat dibutuhkan untuk melayani mobilitas masyarakat yang terus bertambah. "Kalau ada kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Jepang, saya rasa adalah sebuah kewajaran, tapi yang paling penting semangatnya juga adalah bagaimana industri perkeretaapian nasional juga hidup, berkembang," ujarnya. Pernyataan ini menjadi penanda bahwa pemerintah tidak membekukan impor, tetapi menjembatani kebutuhan transportasi dengan kedaulatan industri.
Langkah AHY tidak terlepas dari realita di lapangan: PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah terganjal aturan impor. KAI merencanakan mendatangkan KRL bekas berumur 25 tahun, dengan estimasi pakai 10 tahun di Indonesia. Namun, Kementerian Perdagangan membatasi usia impor maksimal 20 tahun. AHY mengakui hal ini dan menegaskan setiap kerja sama importasi wajib mengedepankan pengembangan industri nasional. "Ada transfer of technology yang kemudian kita kembangkan sendiri menjadi inovasi domestik yang dibutuhkan untuk ke depan," tegasnya. Ini berarti pemerintah tidak mau sekadar jadi pembeli barang jadi, melainkan ingin membangun ekosistem manufaktur lokal.
Secara struktural, kebijakan ini sejalan dengan rencana besar pemerintah memperluas jaringan Artikel TerkaitBEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Saham BREN hingga DSSA Dibatasi Bobotnya
Dampaknya bagi publik, rencana ini mengubah narasi dari sekadar penambahan armada menjadi penguatan BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Batu Bara Menguat, CPO Bergerak Volatil di Tengah Dukungan Permintaan Ekspor

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Saham BREN hingga DSSA Dibatasi Bobotnya

Finalis MediaMIND Ungkap Potensi Hilirisasi Timah dan Praktik Tambang Bertanggung Jawab di Kundur

Transformasi Bisnis Kimia Farma Tekan Rugi Bersih Jadi Rp13 Miliar