Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pramono Anung Tekankan Sinergi Lintas Sektor dalam Rakorda Penanggulangan Bencana Jakarta 2026

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Pramono Anung Tekankan Sinergi Lintas Sektor dalam Rakorda Penanggulangan Bencana Jakarta 2026
BAGIKAN:

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa status Jakarta sebagai kota global memaksa sistem penanggulangan bencana di wilayah ibu kota untuk beroperasi dengan kecepatan dan akurasi tinggi dalam merespons berbagai ancaman. Pernyataan tajam itu dilontarkan saat ia membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026 yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa (6/10). Forum yang bertema "Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana: Tantangan atau Peluang" ini menjadi panggung utama untuk menyelaraskan kembali barisan pertahanan kota sebelum musim kemarau panjang El Nino membawa konsekuensi yang lebih berat bagi permukiman padat.

Bukan sekadar retorika, Pramono Anung memberikan penekanan kuat bahwa keberhasilan mitigasi bencana tidak bisa dipikul oleh satu instansi saja. Ia merinci bahwa kesiapsiagaan menuntut koordinasi perangkat daerah bersama pemerintah pusat, aparat keamanan, dunia usaha, relawan, komunitas, dan masyarakat. "Dalam penanggulangan bencana, sinergi seluruh unsur menjadi kunci utama, yaitu antara perangkat daerah, BNPB, BMKG, TNI, Polri, Forkopimda, dunia usaha, relawan, komunitas, dan masyarakat," kata Pramono. Fokus utama kali ini tertuju pada pencegahan kebakaran di kawasan padat penduduk yang memiliki potensi risiko sangat tinggi seiring kondisi [kemarau panjang El Nino]. Gubernur menginstruksikan seluruh jajaran untuk meningkatkan kewaspadaan dan langkah pencegahan di wilayah-wilayah berisiko tersebut.

Isu banjir juga mendapat perhatian khusus, di mana Pemprov DKI Jakarta menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah sekitar, terutama dalam penataan sungai yang melintasi batas wilayah. Pembagian tugas menjadi jelas: Pemprov DKI berfokus pada pembebasan lahan untuk penataan 13 sungai utama, sementara pembangunan turap dilaksanakan oleh pemerintah pusat. "Hal yang berkaitan dengan perbatasan antarwilayah sebenarnya menjadi tugas pemerintah pusat, sedangkan Pemprov DKI Jakarta fokus pada pembebasan lahan seperti yang dilakukan di Sungai Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama," ujar Pramono. Detail teknis ini menunjukkan adanya upaya merampingkan birokrasi dalam menghadapi tantangan hidrologis yang kompleks di ibu kota.

Menurut Pramono, penanganan bencana tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Pemulihan warga terdampak perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan perangkat daerah sesuai kebutuhan. "Di Jakarta, penanganannya dilakukan secara menyeluruh dan tidak parsial melalui Dinas Sosial, Dinas PPKUKM, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pendidikan karena penanganan pasca-kejadian adalah hal yang utama," tegasnya. Kepala Pelaksana [BPBD Provinsi DKI Jakarta], Marulitua Sijabat, menambahkan bahwa Rakorda ini juga membahas kesiapan evakuasi, kecukupan logistik dan infrastruktur, serta pemenuhan kebutuhan pengungsi sesuai standar pelayanan minimum.

Rakorda Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026 ini menjadi forum penting untuk memperkuat kesiapsiagaan, koordinasi, serta respons lintas sektor terhadap berbagai risiko bencana. Marulitua menyatakan harapannya agar forum ini menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas kota. "Melalui Rakorda ini, kami mengharapkan dapat menjadi suatu momentum guna memperkuat kesiapsiagaan Jakarta terhadap bencana, pemetaan evakuasi, kecukupan logistik dan infrastruktur, serta penanganan kebutuhan pengungsi yang memenuhi standar pelayanan minimum," ujar Marulitua. Pramono menutup forum dengan menegaskan bahwa rapat ini merupakan ruang penting untuk memperkuat komitmen seluruh unsur dalam menghadapi berbagai risiko bencana di Jakarta.

Analisis Redaksi

Penekanan Pramono Anung pada "ketepatan dan kecepatan" mencerminkan kesadaran bahwa Jakarta, dengan dinamika perurbanannya yang masif, tidak memiliki margin error untuk respons bencana yang lambat. Pengakuan bahwa masalah perbatasan sungai menjadi tugas pemerintah pusat menunjukkan adanya ketergantungan struktural yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi titik rawan koordinasi saat krisis melanda. Fokus pada pembebasan lahan di Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama adalah langkah preventif yang krusial sebelum banjir terjadi.

Yang menarik adalah pergeseran narasi dari sekadar "menanggulangi" menjadi "pemulihan menyeluruh" yang melibatkan dinas-dinas non-keamanan seperti Dinas PPKUKM dan Pendidikan. Ini mengindikasikan bahwa Pemprov DKI mulai menyadari dampak ekonomi dan sosial jangka pendek pasca-bencana sama pentingnya dengan penyelamatan fisik. Namun, tantangan nyata tetap terletak pada eksekusi di lapangan: apakah sinergi antara 9 unsur yang disebutkan Pramono benar-benar berfungsi tanpa hambatan birokrasi saat keadaan darurat benar-benar diaktifkan?

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ