IHSG Diprediksi Koreks ke 5.850 Meski Menembus Level 6.102
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Dua analis besar pasar saham Indonesia memberikan proyeksi yang berbeda arah untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di perdagangan Selasa, 6 Oktober, pasca-menguat 1,36% pada sesi sebelumnya. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas dan Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas kini berselisih mengenai apakah reli pascakebakan akan berlanjut atau justru tergerus koreksi teknis.
Dalam riset hariannya, Herditya Wicaksana menegaskan bahwa posisi IHSG saat ini masih berada dalam bagian wave c dari wave (y), sebuah formasi yang secara teknis mengindikasikan potensi koreksi lanjutan. "Kami memperkirakan posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave c dari wave (y), sehingga masih berpotensi terkoreksi menuju area 5.850-5.911," ujar Herditya. Ia memproyeksikan rentang pergerakan hari ini berada di antara support 5.949, 5.872 dan resistance 6.187, 6.297. Untuk strategi portofolio, ia merekomendasikan saham ADRO, INCO, MEDC, dan MINA.
Sementara itu, Ivan Rosanova melihat gambaran yang sedikit lebih optimis, meskipun dengan peringatan ketat. "Jika mampu bertahan di atas 6.019, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.182. Namun, jika kembali turun di bawah 6.019, indeks berpotensi melanjutkan tren turun menuju 5.850," jelas Ivan. Menurutnya, indeks telah berhasil menembus level 6.102 yang menjadi kunci psikologis. Ivan memetakan support di 6.019, 5.850, dan 5.607, serta resistance di 6.182, 6.247, 6.423, dan 6.552. Ia merekomendasikan ADRO, AMRT, MEDC, dan TLKM sebagai pilihan amunisi pasar.
Konfirmasi data pasar pada Senin, 5 Oktober, menunjukkan tekanan beli yang cukup deras. IHSG ditutup melonjak ke 6.118, naik 81,97 poin. Volume transaksi tercatat fantastis, mencapai Rp9,93 triliun dengan 40,95 miliar saham berpindah tangan, mengutip data RTI Infokom. Dari sisi distribusi, 526 saham menguat, 153 terkoreksi, dan 114 stagnan. Angka ini menjadi basis awal bagi kedua analis untuk menguji kuatnya momentum bullish versus resistance dinamis.
Perbedaan analisis ini bukan sekadar soal optimisme atau pesimisme, melainkan soal pembacaan terhadap struktur harga. Ketika indeks menembus 6.102, para trader kini mengawasi ketat level 6.019 sebagai garis pertahanan terakhir. Jika level ini jebol, skenario koreksi ke 5.850 yang diprediksi Herditya menjadi skenario yang paling rasional secara teknis. Sebaliknya, bertahan di atas angka tersebut membuka jalan menuju 6.182. Ketidakpastian ini menuntut kejelian lebih dari para investor ritel yang selama ini mengandalkan momentum kenaikan tajam kemarin.
Analisis Redaksi
Disertai transaksi sebesar Rp9,93 triliun, reli IHSG pada Senin kemarin menunjukkan adanya akumulasi yang kuat, namun struktur harga yang dikemukakan oleh Herditya Wicaksana mengingatkan pada bahaya euforia sesaat. Penembusan level 6.102 memang penting, tetapi tanpa konfirmasi volume di atas resistance berikutnya, indeks rentan terhadap pullback. Konvergensi rekomendasi saham pada ADRO dan MEDC oleh dua sekuritas berbeda mengindikasikan bahwa sektor komoditas dan energi masih menjadi magnet utama bagi arus dana, terlepas dari arah indeks secara keseluruhan.
Yang perlu diwaspadai adalah kepekaan pasar terhadap level 6.019. Level ini bersifat biner: melanggarnya akan memicu trigger penjualan otomatis di kalangan trader teknikal, mempercepat indeks ke zona support 5.850. Bagi investor, periode ketidakpastian ini bukan waktu untuk menambahkan posisi agresif, melainkan waktu untuk ketat mengatur risk management dan mengamati apakah harga mampu 'menguap' (consolidate) dengan sehat di area 6.100-an sebelum menentukan arah berikutnya secara definitif.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BJS Buka Suara Dugaan Hilangnya Emas 2,2 Kilogram: Fasilitas Gadai Dinyatakan Lunas Sejak 2013

OJK Luncurkan Blueprint Strategis Keuangan Syariah, Targetkan Pertumbuhan Aset Melampaui 10%

DJP Klarifikasi Mitos Pajak Digital: Transfer Bank Bukan Objek PPN, Ini Mekanisme SPP-TDLN
