Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Mentan Amran Perintahkan Cek Lapangan Harga Cabai Tembus Rp200 Ribu per Kilogram

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mentan Amran Perintahkan Cek Lapangan Harga Cabai Tembus Rp200 Ribu per Kilogram
BAGIKAN:

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merespons tajam lonjakan harga cabai yang melonjak hingga menyentuh angka Rp200 ribu per kilogram di sejumlah daerah terpencil. Ia langsung menginstruksikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk turun ke lapangan. Tujuannya jelas: memastikan apa yang terjadi di tingkat petani dan memastikan tindakan korektif segera dilakukan. Inflasi pangan yang melanda kantong-kantong kemiskinan ini tidak bisa dibiarkan berlarut tanpa intervensi pemerintah pusat.

"Ya, pasti saya minta nanti Deputi Stabilisasi (Bapanas Hermawan) untuk turun cek," ujar Amran saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (5/10). Instruksi itu dilontarkan setelah ia meninjau data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan anomali harga ekstrem. Amran menegaskan bahwa persoalan harga cabai yang menembus lebih dari Rp100 ribu di beberapa wilayah sudah harus ditindaklanjuti segera. "Harus langsung ditindaklanjut (harga cabai melonjak)," tegasnya tanpa basa-basi.

Data BPS hingga minggu pertama Oktober 2026 mencatatkan fakta yang mengkhawatirkan. Harga tertinggi cabai rawit mencapai Rp200 ribu per kg di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Nduga. Sementara itu, harga cabai merah tertinggi tercatat Rp193.333 per kg di Kabupaten Halmahera Timur. Secara nasional, rata-rata harga cabai merah berada di level Rp63.913 per kg, naik 11,38 persen dibandingkan September 2026. Angka ini telah melampaui batas atas harga acuan penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp55 ribu per kg. Kenaikan serupa terjadi di 292 kabupaten/kota di Indonesia.

Amran tidak hanya menyoroti cabai. Ia juga menindak masalah disparitas harga pada komoditas ayam ras. Kondisi di mana harga di tingkat peternak jatuh, sementara harga yang dibayar konsumen tetap tinggi, menjadi fokus pemeriksaan berikutnya. "Cabai, ayam, jangan sampai harga di tingkat konsumen tinggi padahal tingkat produsen rendah," kata Amran. Ia memerintahkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Agung Suganda untuk turun langsung menyelidiki penyebab perbedaan harga tersebut. Pengecekan ini bertujuan memastikan tidak ada rantai distribusi yang merugikan petani maupun konsumen.

Konsentrasi pada dua komoditas ini bukan tanpa alasan. Data BPS menunjukkan 81,11 persen wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga cabai merah, dan 71,94 persen wilayah untuk cabai rawit. Rata-rata harga cabai rawit nasional mencapai Rp86.846 per kg, naik 10,21 persen, atau di atas HAP Rp57 ribu per kg. Menanggapi peringatan potensi tekanan harga yang lebih besar bulan depan, Amran memastikan intervensi akan segera dilakukan. Stabilitas harga pangan di daerah perbatasan dan terisolasi kini menjadi prioritas utama untuk mencegah gejolak sosial akibat inflasi yang tak terkendali.

Analisis Redaksi

Pilihan Mentan untuk turun langsung mengecek kondisi di lapangan merupakan langkah yang tepat dan krusial. Data menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak merata, dengan konsentrasi tertinggi di daerah yang secara logistik sulit dijangkau, seperti Intan Jaya dan Halmahera Timur. Ini mengindikasikan bahwa masalahnya bukan semata-mata pada produksi nasional, melainkan pada efisiensi distribusi dan rantai pasok yang memanjang di wilayah timur Indonesia. Jika harga di tingkat konsumen meroket sementara produsen (petani) tetap mendapat harga rendah, maka ada kebocoran struktural dalam sistem distribusi yang harus dibenahi segera.

Apa yang perlu diwaspadai adalah dampak psikologis terhadap inflasi nasional. Ketika harga bahan pokok seperti cabai dan ayam menembus ambang batas harga acuan, daya beli masyarakat, terutama di daerah terpencil, akan tergerus. Langkah logis selanjutnya adalah memastikan peran Bapanas dan Kementerian Pertanian bekerja sinergis, bukan berkejaran. Jika tekanan harga bulan depan justru meningkat seperti yang diperingatkan, pemerintah harus menyiapkan cadangan pangan strategis dan subsidi distribusi agar tidak terjadi kelangkaan artificial yang memperburuk situasi.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ