Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Diskominfotik Kembangkan Duta Antihoaks 2026 hadapi Ancaman Deepfake dan AI Generatif

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Nasional
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Diskominfotik Kembangkan Duta Antihoaks 2026 hadapi Ancaman Deepfake dan AI Generatif
BAGIKAN:

Provinsi DKI Jakarta menggenjot ketahanan informasi melalui peluncuran Duta Antihoaks Jakarta 2026, sebuah inisiatif strategis dari Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) untuk membekali generasi muda menghadapi disinformasi yang kini bermuatan kecerdasan buatan. Program ini menyasar perubahan lanskap digital yang kompleks, di mana manipulasi konten kini mencapai level deepfake dan kecerdasan buatan generatif.

Gerakan ini diproyeksikan mencapai puncaknya saat pengukuhan para duta berlangsung pada Oktober 2026. Setelah resmi dikukuhkan, para duta akan bertransformasi menjadi mitra strategis Diskominfotik dalam memperluas jangkauan literasi digital. Target mereka mencakup institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus, organisasi masyarakat, komunitas lokal, hingga ruang publik serta kanal digital yang kini menjadi sumber utama konsumsi informasi masyarakat.

Relevansi program ini mendesak mengingat bentuk hoaks telah bermutasi dari sekadar narasi palsu menjadi teknis yang jauh lebih licik. Modus penipuan digital kini melibatkan rekayasa foto, suara, hingga video yang sulit dibedakan dari kenyataan. Kondisi ini mengubah paradigma pertahanan informasi dari sekadar mengecek fakta menjadi kemampuan kritis terhadap kredibilitas media digital secara utuh.

Marulina Dewi, Kepala Diskominfotik DKI Jakarta, menegaskan bahwa tantangan di era AI bukan lagi soal membedakan mana berita benar dan mana salah. "Foto, suara, bahkan video dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan. Karena itu, pertahanan terbaik Jakarta bukan hanya teknologi, tetapi masyarakat yang kritis—yang terbiasa memeriksa sumber, memahami konteks, dan berpikir sebelum membagikan informasi," ujar Marulina dalam keterangannya. Prinsip ini menjadi landasan utama dalam seleksi calon duta.

Proses seleksi ketat dimulai dari 356 pendaftar yang lolos tahap administrasi dan pembinaan intensif sejak Juli 2026. Dari jumlah tersebut, terkurangi menjadi 10 finalis yang mempresentasikan proyek kampanye pada akhir September 2026. Para finalis ini telah melewati serangkaian In House Training dan pembekalan penyusunan kampanye. Penilaian tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga pada kemampuan implementasi, relevansi masalah nyata, serta dampak keberlanjutan program di lapangan.

Blok dewan juri melibatkan gabungan keahlian dari berbagai sektor, termasuk Rizki Ameliah dari BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital, figur publik seperti Merry Riana dan Dennis Adhiswara, serta Nong Darol Mahmada selaku Staf Khusus Gubernur Bidang Keumatan dan Keagamaan. Marulina menekankan bahwa proyek berpotensi akan didorong untuk bertransformasi menjadi gerakan massal. "Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang hanya kuat di atas panggung. Kami mencari anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasinya, turun ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi gerakan. Setelah terpilih, pekerjaan mereka justru dimulai," tegasnya. Ini menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kompetisi, melainkan mobilisasi sosial jangka panjang.

Analisis Redaksi

Pilihan DKI Jakarta untuk menggeser fokus dari teknologi ke 'manusia' menandai pergeseran strategis dalam penanganan disinformasi. Dengan mengangkat isu deepfake dan AI generatif, Diskominfotik mengakui batas keterbatasan verifikasi otomatis dalam menghadapi generative AI. Strategi 'Duta Antihoaks' berfungsi sebagai mekanisme 'human-in-the-loop', di mana kemampuan kognitif dan sosial anak muda menjadi tameng pertama sebelum hoaks viral. Ini adalah respons adaptif yang cerdas terhadap eskalasi teknologi pemalsuan.

Namun, efektivitas program ini bergantung pada kedalaman implementasi, bukan sekadar pengukuhan simbolik. Risiko utama adalah 'hoaks kebal' di mana masyarakat menjadi terlalu skeptis terhadap berita yang sah (misinformasi) atau sebaliknya, terlalu percaya pada algoritma. Marulina Dewi benar ketika menyebut bahwa 'pekerjaan dimulai' setelah terpilih. Tanpa ekosistem berkelanjutan yang didukung anggaran dan integrasi kurikulum, inisiatif ini berisiko menjadi proyek musiman. Keberhasilan akhirnya akan diukur bukan dari 10 finalis, tetapi dari berapa banyak orang yang secara rutin menerapkan verifikasi sumber sebelum membagikan konten.

Langkah logis berikutnya adalah integrasi materi kampanye Duta Antihoaks ke dalam kurikulum pendidikan formal dan pelatihan wajib pegawai negeri. Tanpa institusionalisasi ke dalam struktur pendidikan, literasi digital akan tetap bersifat sporadis dan rentan terhadap gelombang teknologi baru berikutnya. Kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital melalui BPSDM menjadi indikator positif bahwa ada keharmonikan kebijakan pusat dan daerah dalam membangun ketahanan nasional terhadap ancaman siber non-fisik.

Meow! Tanya Nesi!
😸