Ribuan Siswa Prancis Turun ke Jalan, Guru Ikut Mogok Menuntut Perbaikan Pendidikan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gejala kerusuhan pendidikan melanda Prancis seiring ribuan siswa sekolah menengah atas turun ke jalan di 13 kota, sementara serikat guru merencanakan aksi mogok kerja lanjutan pada Selasa mendatang. Dari Brest di barat hingga Strasbourg di timur, gerakan ini berdampak pada 735 dari total 3.700 lycee di negara tersebut. Situasi memanas saat bentrokan dengan kepolisian dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, mengubah demonstrasi damai menjadi kekerasan jalanan yang memicu penangkapan massal, di mana 1.949 orang ditangkap, mayoritas di antaranya adalah pelajar.
Kemarahan dipicu rencana pemangkasan anggaran negara yang memperburuk krisis pendanaan sektor pendidikan. Puluhan ribu pekerja publik, termasuk guru dan tenaga kesehatan, sudah lebih dulu berunjuk rasa menuntut upah yang lebih tinggi. Serikat pekerja gabungan mengklaim 300 ribu orang terlibat dalam aksi mogok Selasa lalu, dengan 30 ribu di antaranya berada di Paris. Ryad Rani, pemimpin serikat siswa SMA, menegaskan pada Jumat (2/10) bahwa para siswa mengharapkan langkah konkret dari pemerintah yang sejauh ini belum mereka dapatkan.
Di lapangan, kondisi infrastruktur dan kualitas pengajaran menjadi target kritik utama. Kesia (15), seorang siswi di Pantin, kawasan pinggiran Paris, mengungkapkan kefrustasiannya kepada Reuters saat situasi mulai tegang: "Ada 35 siswa di setiap kelas, kursi di kelas tidak cukup, dan waktu istirahat makan siang selama satu jam (terlalu singkat) bagi semua orang untuk mendapatkan makanan." Ia kemudian berlari menjauh saat polisi mulai menembakkan gas air mata. Protes serupa juga menyasar bangunan sekolah yang rusak dan kekurangan guru yang kronis.
Menanggapi eskalasi ini, pemerintah Prancis menutup 400 sekolah menengah pada Jumat (1/10). Kementerian Dalam Negeri mencatat 1.027 sekolah menengah terdampak imbas kekerasan demonstrasi, dengan sekitar 100 sekolah mengalami kerusakan serius. Menteri Pendidikan Edouard Geffray meminta orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka, memperingatkan bahwa "Anak-anak berada dalam bahaya di jalanan" dan menyarankan mereka agar tidak pergi ke lokasi blokade. Dalam rapat darurat pada Kamis, sumber dekat perdana menteri menyatakan demonstrasi telah berubah dari protes menjadi kekerasan perkotaan.
Politikus tinggi saling melempar tudingan atas kerusuhan tersebut. Menteri Kehakiman Gerard Darmanin menuduh aksi tersebut ditunggangi pihak luar. Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia menuduh polisi menggunakan taktik kasar terhadap anak di bawah umur, termasuk penggunaan gas air mata dan peluru karet. Salah satu penyelidikan yang dibuka berfokus pada kasus remaja berusia 16 tahun yang mengalami cedera mata setelah ditembak dengan peluru karet nonmematikan. Sementara itu, Sandra Champain-Seller, seorang guru, menyatakan kekagetan atas kerusuhan tersebut tetapi menilai kecemasan siswa berakar dari tuntutan yang tidak didengar selama bertahun-tahun dalam konteks politik dan geopolitik yang kompleks.
Analisis Redaksi
Eskalasi konflik di Prancis ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika sosial negara tersebut, di mana kesenjangan investasi pendidikan mulai berdampak langsung pada stabilitas keamanan dalam negeri. Sikap pemerintah yang cenderung defensif, ditandai oleh penutupan ratusan sekolah dan penangkapan massal pelajar, justru berpotensi memperlebar jurang kepercayaan antara warga muda dan negara. Ketika institusi pendidikan sebagai fondasi kohesi sosial berubah menjadi titik api kekacauan, ini mengindikasikan kegagalan sistemik dalam merespons aspirasi generasi muda yang merasa terpinggirkan oleh kebijakan anggaran yang ketat.
Pelajaran berharga dari situasi ini adalah pentingnya dialog proaktif antara pemangku kebijakan dan masyarakat sipil sebelum ketegangan memuncak. Tuntutan peningkatan investasi pada pendidikan bukanlah sekadar isu sektoral, melainkan investasi jangka panjang untuk mencegah radikalisme sosial dan menjaga demokrasi. Jika pemerintah terus memperlakukan protes sebagai ancaman keamanan alih-alih undangan untuk reformasi, Prancis berisiko mengunci siklus ketidakpuasan yang dapat terus berujung pada kekerasan urban dan polarisasi sosial di masa depan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Tentara Yaman Laksanakan 951 Operasi Tempur dalam 24 Jam, Lebih dari 250.000 Warga Terpaksa Mengungsi
