Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gadi Eisenkot Tolak Tawaran Koalisi Netanyahu, Jaga Kemerdeauan Politik di Tengah Impasse Knesset

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gadi Eisenkot Tolak Tawaran Koalisi Netanyahu, Jaga Kemerdeauan Politik di Tengah Impasse Knesset
BAGIKAN:

Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar, menegaskan secara mutlak bahwa ia tidak akan bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, sebuah keputusan yang dipertegas bahkan jika terdapat intervensi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan tegas ini diungkap Eisenkot dalam sebuah pertemuan tertutup baru-baru ini, menurut laporan kantor berita nasional Israel KAN pada Senin (2/11). Sikap ini muncul di tengah kebuntuan politik pasca-pemilu yang membingungkan lanskap koalisi di Yerusalem, di mana tidak ada satu pun blok yang berhasil meraih mayoritas absolut dari total 120 kursi Knesset.

Komitmen Eisenkot untuk menjaga independensi dari kepemimpinan Netanyahu didasarkan pada prinsip kedaulatan urusan dalam negeri. Dalam kutipannya, ia menyatakan, "Saya tidak akan duduk dalam pemerintahan yang dipimpin Netanyahu. Jika Trump mengundang saya, saya akan menghormati presiden dan hadir. Namun, saya akan menegaskan bahwa ini menyangkut urusan dalam negeri Israel dan saya akan mencegah segala bentuk campur tangan." Pernyataan ini sekaligus menjadi respons terhadap komentar Netanyahu sebelumnya yang membuka diskusi tentang pemerintahan luas, namun tetap berpegang pada syarat ia harus menjadi prime minister dan menolak koalisi yang bergantung pada dua partai Arab utama, Ra'am dan Joint List.

Peta Kekuatan Parlemen dan Rekomendasi Koalisi

Hasil pemilu parlemen pekan lalu menunjukkan keseimbangan kekuatan yang rapuh: blok Netanyahu meraih 53 kursi, sementara partai oposisi Yahudi memperoleh 48 kursi, dan partai Arab meraup 19 kursi. Kondisi impas ini memicu tiga partai oposisi kunci, yakni Partai Together pimpinan Naftali Bennett, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, dan Partai Yisrael Beytenu pimpinan Avigdor Lieberman, untuk merekomendasikan Eisenkot sebagai tokoh yang layak membentuk pemerintahan berikutnya. Rincian pergeseran kekuatan politik ini dapat dilihat dalam distribusi dukungan parlemen berikut:

  • Blok Netanyahu: Meraih 53 kursi.
  • Partai Oposisi Yahudi: Meraih 48 kursi.
  • Partai Arab: Meraih 19 kursi.
  • Potensi Koalisi Eisenkot: Bisa mencapai 67 anggota parlemen jika rekomendasi dari daftar partai Arab terwujud.

Meskipun potensi dukungan tersebut cukup besar, pembentukan koalisi tetap terhambat oleh sikap Avigdor Lieberman yang menolak bergabung dengan pemerintahan yang melibatkan partai Arab atau bergantung pada dukungan mereka. Hambatan internal ini menjadi tantangan utama bagi Eisenkot dalam merangkai koalisi yang stabil dan berfungsi.

Langkah Strategis Menuju Pembentukan Pemerintahan

Proses pembentukan pemerintahan kini memasuki fase krusial di mana para pemimpin oposisi dijadwalkan bertemu pada Selasa untuk menyelaraskan posisi sebelum Isaac Herzog, Presiden Israel, memulai konsultasi resmi selama dua hari dengan faksi-faksi parlemen pada Rabu. Langkah ini menjadi penentu apakah Eisenkot dapat memformasi pemerintahan alternatif atau apakah negara akan terjerumus ke dalam siklus pengulangan pemilu. Dengan penolakan Eisenkot terhadap kepemimpinan Netanyahu dan resistensi Lieberman terhadap koalisi Arab, dinamika politik Israel berada di persimpangan jalan yang kompleks, di mana kehati-hatian dalam negosiasi menjadi kunci utama untuk keluar dari kebuntuan legislatif saat ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸