Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Studi UGM: Panas Anomali 1 Derajat Celcius Potong Pendapatan UMKM 13-14 Persen

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: CNN Teknologi
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Studi UGM: Panas Anomali 1 Derajat Celcius Potong Pendapatan UMKM 13-14 Persen
BAGIKAN:

Naik satu derajat Celsius saja, kantong uang pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa mengempis drastis. Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Department of Economics College of William and Mary baru saja membongkar data yang memperlihatkan korelasi tajam antara suhu udara ekstrem dan anjloknya pendapatan pelaku usaha di Indonesia. Bukan sekadar teori, riset ini membuktikan bahwa tekanan fisik akibat cuaca panas ekstrem langsung memukul kinerja kognitif pekerja, sehingga mereka bekerja lebih lambat, sering beristirahat, dan mengalami penurunan akurasi.

Studi berjudul "Productivity impact of temperature change: evidence from Indonesia household-based enterprises survey" ini menarik karena menggunakan data nyata dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dicocokkan dengan rekam suhu dan curah hujan di berbagai wilayah. Fokusnya diarahkan pada usaha rumah tangga, yang merupakan tulang punggung ekonomi kita. Fakta menunjukkan bahwa sekitar 99 persen unit usaha di Indonesia adalah UMKM, dan mayoritas di antaranya beroperasi dari skala rumahan. Kelompok inilah yang paling rentan karena minimnya proteksi fisik dan sumber daya untuk bertahan di tengah iklim yang makin tak bersahabat.

Esa Azali Asyahid, salah satu peneliti utama, merinci dampaknya dengan angka yang bisa membuat geleng kepala. "Kami menemukan bahwa kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dari kondisi normal menyebabkan penurunan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan tiap pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen," tegas Esa, sebagaimana dikutip dari situs resmi UGM. Ia menjelaskan bahwa produktivitas pekerja berada di titik optimal pada suhu rata-rata tahunan 25 hingga 26 derajat Celsius. Namun, begitu angka itu terlampaui, efektivitas kerja langsung jatuh.

Keadaan di lapangan sudah mulai mengkhawatirkan. Rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia kini telah melewati ambang batas produktifitas tersebut. Di kawasan Jabodetabek misalnya, suhu maksimum harian tercatat bisa menembus 36 derajat Celsius. Paparan panas setinggi ini bukan cuma bikin gerah, tapi mengacaukan fungsi kognitif. Pekerja menjadi lambat dalam mengambil keputusan dan reaksi kerja pun kehilangan ketajamannya. Sektor-sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur, dan usaha makanan kini menjadi sasaran empuk penurunan produktivitas ini.

Para peneliti menyimpulkan bahwa krisis iklim kini melampaui isu ekologis murni; ia telah menjadi masalah produktivitas, kesejahteraan, dan pembangunan ekonomi. Perubahan iklim dinilai berpotensi memperlebar jurang ketimpangan karena sektor informal dan usaha kecil memiliki kapasitas adaptasi yang terbatas. Oleh sebab itu, pemerintah didesak untuk segera menggeser kebijakan agar lebih responsif. Langkah konkretnya mencakup perbaikan kualitas lingkungan kerja, pemberian insentif finansial, penyediaan teknologi pendingin, fleksibilitas jam kerja, serta perlindungan sosial yang cepat tanggap terhadap anomali cuaca.

Analisis Redaksi

Nomor 13-14 persen penurunan pendapatan itu bukan statistik biasa, itu adalah ancaman eksistensial bagi bisnis rumah tangga yang modalnya tipis. Ketika panas menggerus pendapatan hingga 20 persen per pekerja, daya beli masyarakat lapisan bawah ikut terdampak, yang pada akhirnya memperlambat sirkulasi ekonomi nasional. Jika suhu terus merangkak naik melewati 26 derajat Celsius, kita sedang menghadapi risiko deflasi struktural pada sektor riil berbasis tenaga kerja manual. Pemerintah tidak bisa lagi memandang iklim sebagai urusan terpisah dari ekonomi makro.

Langkah adaptasi yang diusulkan peneliti ini realistis, tapi butuh anggaran dan kemauan politik yang besar. Penyediaan teknologi pendingin dan insentif finansial untuk 99 persen unit usaha UMKM adalah tantangan logistik yang masif. Tanpa regulasi yang mengikat sektor-sektor padat karya untuk mematuhi jam kerja fleksibel di hari-hari terpanas, kerugian ekonomi akan terus menumpuk. Kita perlu waspada terhadap skenario di mana siklus panas ekstrem mulai menciptakan tekanan inflasi baru akibat penurunan efisiensi produksi, sementara di sisi lain pendapatan riil pekerja terus tertekan. Ini adalah titik kritis di mana perlindungan lingkungan sejati harus diidentikkan dengan perlindungan mata pencaharian rakyat.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸