Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Riset DBS: 5 Sektor Ini Kunci Peluang Bisnis Berkelanjutan Indonesia

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Riset DBS: 5 Sektor Ini Kunci Peluang Bisnis Berkelanjutan Indonesia
BAGIKAN:

Peluang bisnis di Indonesia kini tak lagi sekadar soal ekspansi volume, melainkan bagaimana mengintegrasikan ketahanan keberlanjutan dalam keputusan investasi dan alokasi modal. Pergeseran ini tergambar jelas dalam riset Bank DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks. Laporan ini mengulas keterkaitan sustainability dengan daya saing di lima sektor krusial: energi; teknologi, media dan telekomunikasi; kesehatan dan farmasi; pangan dan agribisnis; serta logam dan pertambangan.

Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menegaskan bahwa korporasi membutuhkan perspektif tajam untuk memprioritaskan langkah strategis jangka panjang. "Upaya ini dilakukan dalam membantu dunia usaha lebih memahami peluang, mengantisipasi risiko, sekaligus mengambil langkah yang tepat untuk pertumbuhan jangka panjang," ujar Anthonius. Setiap sektor, lanjutnya, memiliki dinamika unik yang menuntut pendekatan berbeda dalam menjalani transisi menuju standar global yang semakin ketat.

Dalam sektor energi, fokus bergeser tajam menuju elektrifikasi penuh. Pertumbuhan kendaraan listrik, pusat data, dan hilirisasi industri diproyeksikan melonjakan kebutuhan listrik secara signifikan. Hal ini membuka celah besar bagi pengembangan energi terbarukan, battery energy storage system (BESS), serta modernisasi jaringan transmisi. Di sisi teknologi, kemajuan AI dan ekonomi digital menuntut infrastruktur yang canggih, seperti green data center dan cloud infrastructure, yang kini jadi penentu daya saing Indonesia sebagai hub digital regional.

Sektor kesehatan dan agribisnis pun mengalami perubahan paradigma. Kesehatan kini berfokus pada penguatan rantai pasok farmasi dan peningkatan akses layanan spesialis. Agribisnis, di sisi lain, menggeser strategi dari sekadar ekspansi lahan ke upaya peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian, traceability, dan efisiensi cold chain. Di sektor logam, nilai tambah tidak lagi hanya dari penambangan, tetapi dari komponen baterai, daur ulang, dan produk logam rendah karbon yang memenuhi standar internasional.

Namun, tantangan terbesar bukan pada kurangnya peluang, melainkan pada kendala eksekusi. Banyak proyek strategis masih terjebak di fase kesiapan, kompleksitas struktur pembiayaan, hingga kepastian arus kas dan regulasi. Kemampuan menerjemahkan peluang menjadi proyek yang layak secara komersial menjadi kunci. Di sinilah peran Bank DBS Indonesia dinilai relevan, bukan hanya sebagai pemberi pinjaman, tetapi sebagai mitra yang menyediakan insights terarah untuk navigasi industri.

Analisis Redaksi

Riset Bank DBS ini mengisyaratkan bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak bisa dipisahkan dari standar keberlanjutan global. Sustainability kini bukan lagi beban kepatuhan (compliance cost), melainkan katalis utama bagi pertumbuhan pendapatan. Bagi investor dan korporasi, mengabaikan tren elektrifikasi atau transisi ke produk rendah karbon berarti mengambil risiko tersisih dari rantai pasok global. Laporan ini secara implisit memperingatkan bahwa kompetisi antar-negara semakin ditentukan oleh seberapa cepat industri lokal mampu mengadopsi teknologi hijau dan efisien.

Aspek yang perlu diwaspadai adalah gap antara potensi teoritis dan kesiapan infrastruktur. Meskipun peluang di BESS, AI, dan agri-teknologi terbuka luas, hambatan birokratis dan kepastian regulasi masih menjadi batu sandungan utama. Tanpa kejelasan aturan main, investor asing dan domestik akan cenderung memilih pasar yang lebih prediktif. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah yang mempercepat perizinan dan ketersediaan pendanaan struktural seperti yang ditawarkan bank-bank institusional menjadi kunci keberhasilan transisi ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ