Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Peserta Atraksi Kansoda'a Duduk di Atas Tandu dalam Prosesi Adat Masyarakat Wakatobi

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Peserta Atraksi Kansoda'a Duduk di Atas Tandu dalam Prosesi Adat Masyarakat Wakatobi
BAGIKAN:

Sejumlah peserta atraksi kansoda'a duduk di atas tandu saat prosesi adat masyarakat setempat berlangsung di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (2/10/2026). Ritual yang melibatkan pengangkatan manusia menggunakan tandu ini menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang masih dijaga ketat oleh warga kepulauan tersebut.

Pelaksanaan prosesi pada hari ini memperlihatkan kesiapan fisik dan mental para peserta. Mereka harus mampu menjaga keseimbangan tubuh sembari duduk di atas tandu yang digerakkan oleh sekelompok orang. Setiap gerakan menuntut koordinasi tinggi agar ritual berjalan tanpa hambatan berarti.

Masyarakat Wakatobi memang dikenal luas memiliki kekayaan budaya maritim yang kuat. Prosesi adat semacam kansoda'a bukan sekadar pertunjukan biasa bagi mereka. Tradisi ini mengakar dalam struktur sosial komunitas lokal sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan identitas kolektif.

Atraksi ini membutuhkan persiapan matang dari seluruh elemen masyarakat yang terlibat. Para pembawa tandu harus memiliki stamina prima karena beban yang ditanggung tidak ringan. Peserta yang duduk di atasnya pun wajib menguasai teknik tertentu agar tidak terjatuh selama prosesi berlangsung.

Bagi publik luas, pelestarian tradisi kansoda'a memberikan gambaran nyata tentang keragaman budaya Nusantara yang masih hidup. Ritual semacam ini menarik perhatian peneliti maupun wisatawan yang ingin memahami cara masyarakat pesisir merawat warisan nenek moyang mereka di tengah arus modernisasi.

Analisis Redaksi

Pelaksanaan prosesi adat kansoda'a di Wakatobi pada 2 Oktober 2026 membuktikan bahwa tradisi lisan dan ritual fisik masyarakat kepulauan belum tergerus zaman. Penggunaan tandu untuk mengangkut peserta menunjukkan adanya sistem gotong royong yang terstruktur rapi dalam budaya lokal. Ini bukan tontonan kosong, melainkan cermin dari kohesi sosial yang solid.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi komersialisasi berlebihan jika atraksi ini mulai dikemas semata-mata untuk kepentingan pariwisata massal. Ketika nilai sakral sebuah Wakatobi direduksi menjadi komoditas visual, makna asli kansoda'a bisa kehilangan rohnya. Pemerintah daerah dan tetua adat harus duduk bersama menetapkan batas tegas antara promosi budaya dan eksploitasi tradisi.

Langkah logis selanjutnya adalah pendokumentasian menyeluruh terhadap setiap tahapan prosesi ini oleh lembaga kebudayaan terkait. Catatan tertulis maupun audiovisual akan memastikan pengetahuan tentang kansoda'a tidak ikut terkubur ketika generasi tua tiada. Tanpa upaya pencatatan yang serius, warisan takbenda sekompleks ini sangat rentan mengalami kepunahan diam-diam.

Meow! Tanya Nesi!
😸