Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lima Tahun Pascamerger, Produktivitas Terminal Peti Kemas Pelindo Melonjak 70 Persen

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Lima Tahun Pascamerger, Produktivitas Terminal Peti Kemas Pelindo Melonjak 70 Persen
BAGIKAN:

Transformasi pasca-integrasi empat operator pelabuhan telah berhasil mendongkrak produktivitas terminal peti kemas secara signifikan. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat peningkatan output lebih dari 70 persen selama lima tahun pascamerger, sekaligus memangkas waktu singgah kapal dan durasi proses barang di pelabuhan.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan hasil positif tersebut pada Rabu (30/9). "Alhamdulillah, produktivitas meningkat lebih dari 70 persen. Dengan meningkatnya produktivitas, dampaknya pelanggan mendapatkan value yang lebih baik. Port stay juga jauh berkurang sehingga mereka menjadi lebih efisien," ujarnya. Efisiensi ini terwujud melalui standardisasi layanan, perbaikan sistematis, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia dari total 32 terminal yang kini dikelola secara terpusat.

Optimalisasi aset menjadi kunci utama percepatan kinerja tersebut. Aliran peralatan dari terminal dengan kelebihan kapasitas ke terminal yang lebih membutuhkan telah mengurangi hambatan operasional. "Beberapa terminal sebelumnya punya masalah terkait alat. Dengan merger, ada terminal yang kami modernisasi. Alat yang ada sebelumnya bisa diberikan kepada terminal yang membutuhkan," jelas Widyaswendra. Strategi ini tidak hanya memperbaiki port stay dan cargo stay, tetapi juga membuka peluang pengembangan rute baru yang sebelumnya terhambat oleh perbedaan kapasitas antar-terminal.

Keseriusan dalam pembenahan layanan ini mendapat sambutan positif dari industri pelayaran. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto, menyatakan bahwa perbaikan layanan selama lima tahun terakhir sudah dirasakan di berbagai wilayah. "Sejauh ini Pelindo selama lima tahun merger telah melakukan banyak improvement layanan secara terus-menerus dan sudah kami rasakan perbaikannya di semua area Pelindo," kata Carmelita. Meskipun demikian, ia berharap kepastian jadwal pelayaran bisa semakin terjaga melalui integrasi layanan yang lebih baik secara nasional.

Tantangan eksternal berupa pelemahan rupiah kini menjadi perhatian tersendiri bagi pelaku industri. "Pelemahan rupiah akan berdampak terhadap sejumlah biaya yang masih menggunakan dolar atau sangat dipengaruhi oleh nilai tukar," jelas Carmelita. Hal ini memicu dorongan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan efisiensi dari sisi pengusaha, tetapi juga menjaga struktur biaya industri agar tetap kompetitif di tengah fluktuasi nilai tukar. Namun, di balik catatan positif tersebut, konsistensi layanan di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Analisis Redaksi

Lima tahun merupakan waktu yang cukup krusial untuk menilai efektivitas mega-merger BUMN. Data lonjakan produktivitas 70 persen bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator bahwa standardisasi proses bisnis dan penggunaan Terminal Operating System (TOS) telah mulai menunjukkan hasil nyata. Namun, peringatan dari pengamat supply chain Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Raja Oloan Saut Gurning, menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan sistem belum sepenuhnya terjemahkan menjadi keseragaman kualitas layanan. Fenomena "segmented consistency" menunjukkan bahwa standar internal belum homogen secara nasional, terutama di terminal yang memiliki kendala geografis dan keterbatasan peralatan fisik.

Keberhasilan digitalisasi dan standardisasi prosedur tidak akan bermakna penuh jika tidak diiringi oleh pemerataan ketersediaan alat (equipment availability). Saut mengingatkan bahwa TOS yang sama akan menghasilkan output berbeda jika dijalankan pada terminal dengan STS berkecepatan tinggi dibandingkan terminal yang masih mengandalkan HMC tua atau derek kapal. Pelindo perlu menyadari bahwa persaingan logistik modern menuntut keandalan teknis yang merata. Tanpa penutupan gap infrastruktur fisik antar-terminal, potensi efisiensi biaya logistik nasional yang dijanjikan Pelindo tetap akan terhambat oleh ketimpangan operasional di wilayah-wilayah tertentu.

Ke depan, fokus harus bergeser dari sekadar integrasi sistem ke perbaikan aset fisik dan manajemen pemeliharaan. Dengan tekanan biaya akibat pelemahan rupiah, sektor pelayaran sangat rentan terhadap inefisiensi. Pemerintah dan Pelindo harus memastikan bahwa "standardisasi" tidak berhenti pada tataran prosedural, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur fisik di setiap titik layanan, agar janji konektivitas dan efisiensi benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh pelaku ekonomi di Indonesia.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸