Kartolaksono: Otomotif Indonesia Wajib Multipathway, Jangan Tiru 100% EV Eropa-China
Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Indonesia sebaiknya tidak meniru sepenuhnya strategi transisi energi negara-negara Asia Timur dan Eropa yang berfokus total pada kendaraan listrik sepenuhnya. Guru Besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Reksowardojo, menegaskan bahwa posisi geografis dan kekayaan alam dalam negeri menuntut pendekatan multipathway yang realistis. Pernyataan ini disampaikan di forum Evolution Forum pada Rabu (30/9), menegaskan bahwa ekosistem otomotif nasional memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki negara-negara beriklim sub-tropis.
Perbedaan fundamental antara Indonesia dan negara-negara maju terletak pada ketersediaan bahan bakar nabati cair. Iman menggarisbawahi bahwa China, Amerika, Jepang, dan Eropa tidak memiliki kekayaan alam sebesar Indonesia yang terbukti menjadi nomor satu di sektor tersebut. "Jadi kita harus multipathway itu pesan saya," ujar Iman dalam pidatonya. Ia menegaskan bahwa posisi tawar unik ini mengharuskan Indonesia untuk merancang jalur teknologi yang sesuai dengan kearifan lokal, bukan sekadar mengadopsi kebijakan luar negeri secara mentah.
Kesimpulannya, pilihan teknologi kendaraan masa depan di Indonesia tidak boleh bertumpu pada satu jenis sumber energi saja. Pemanfaatan mesin pembakaran dalam (ICE) yang efisien, teknologi hibrida, kendaraan listrik (EV), hingga biofuel harus berjalan berdampingan. "Arahnya bukan 100 persen EV gitu. Tidak, tapi multipathway, istilahnya, bahasa kerennya gitu-gitu ya," katanya. Kombinasi ini mencakup penggunaan ICE efisien, hibrida, EV, dan biofuel sebagai satu kesatuan sistem yang saling melengkapi.
Dalaman analisis Iman juga menyentuh aspek sumber daya manusia (SDM) dan regulasi. Ia menyuarakan kekhawatiran bahwa industri otomotif nasional terjebak pada pemenuhan angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara formalitas semata. "Sumber daya manusianya kita harus bisa menangani itu sendiri," lanjutnya. Menurut Iman, keberhasilan implementasi biodiesel di Indonesia selama lebih dari dua dekade terakhir membuktikan bahwa tantangan terbesar bukan di ranah teknis, melainkan dinamika sosial, ekonomi, dan politik. Kepastian regulasi jangka panjang dan keterlibatan sektor swasta menjadi kunci utama agar investasi biofuel tetap terjaga di tengah pergantian kebijakan.
Keberhasilan Indonesia dalam mengimplementasikan biodiesel selama 20 tahun terakhir menjadi landasan penting untuk strategi transisi energi otomotif nasional. Iman mencatat bahwa keberlanjutan program tersebut terwujud berkat adanya regulasi yang kuat, dukungan pendanaan, serta peran aktif pelaku usaha. Pembelajaran dari keberhasilan biodiesel ini diharapkan dapat diterapkan agar strategi transisi energi di sektor otomotif menjadi lebih mandiri dan berkelanjutan, tidak lagi bergantung pada satu narasi global yang tidak selalu cocok dengan kondisi lokal.
Analisis Redaksi
Sikap tegas Iman Kartolaksono Reksowardojo ini sesungguhnya adalah peringatan keras terhadap fenomena 'copy-paste' kebijakan energi global di Indonesia. Dengan menolak sentralisasi pada 100% kendaraan listrik, Indonesia sedang memposisikan dirinya sebagai pemain utama di pasar biofuel global, bukan sekadar pengonsumsi teknologi. Pendekatan multipathway ini secara logis melindungi ekosistem industri otomotif yang sudah mapan sambil membuka ruang bagi teknologi bersih berbasis hayati yang menjadi keunggulan komparatif terbesar negeri ini.
Yang perlu diwaspadai dari uraian ini adalah potensi konflik antara kepentingan industri kendaraan listrik murni dan pendukung biofuel. Jika regulasi tidak segera dikunci secara permanen, fluktuasi kebijakan di masa depan bisa mematikan investasi sektor swasta yang kini mulai masuk. Keberhasilan 20 tahun terakhir dalam biodiesel hanyalah modal awal; tanpa keberlanjutan komitmen politik dan hukum, ancaman geopolitik atau perubahan harga komoditas global bisa dengan cepat membalikkan arah transisi ini. Indonesia tidak boleh kalah cepat oleh narasi dominasi EV asing.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Debut Apollo EVO di Amerika: Hypercar $3.3 Juta dengan Mesin V12 800 HP dan Eksekusi Keras

Lelang Honda Vario 150 Pelat Merah di Jakarta: Harga Limit Rp 2,86 Juta, Kondisi Rusak Berat

BYD Klaim 5.000 Pekerja Lokal di Pabrik Subang, Targetkan 20.000 Penyerapan Naker Saat Kapasitas Maksimal
