Prabowo Lantik Komjen Dedi Prasetyo Gantikan Jabatan Kepala BRAN via Keppres 105/P/2026
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Komjen Dedi Prasetyo sebagai Kepala Badan Reforma Agraria Nasional (BRAN) menggantikan posisi sebelumnya, sebuah keputusan strategis yang tertuang dalam Keputusan Presiden No 105/P/2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan Kepala Staf Kepresidenan serta Kepala BRAN. Penunjukan mantan Wakapolri ini menandai pergeseran pendekatan pemerintah dalam menangani sengketa lahan melalui figur dengan latar belakang penegakan hukum yang kuat.
Dedi Prasetyo merupakan lulusan Akpol tahun 1990 yang mengawali kariernya sebagai Perwira Pertama di Polda Jawa Timur sebelum menjabat Kapolsek Deket pada 1992. Setahun kemudian ia dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Lamongan, lalu dimutasi kembali ke Akpol hingga akhirnya menjabat Kapolsek Serpong pada 1997 serta Kapuskodalops di Polres Marabahan dan Polres Banjar pada 1999.
Karier perwira tinggi ini terus bergulir ketika ia dirotasi ke SSDM Polri dan menjabat Sekretaris Pribadi Wakapolri periode 2004-2005. Ia kembali ke Polda Jawa Timur pada 2005 untuk memegang jabatan Kabag Bin Polwil Madura sekaligus Kakorsis SPN Mojokerto, menunjukkan rekam jejak operasional yang padat di tingkat wilayah sebelum naik ke jajaran pimpinan pusat.
Jabatan strategis semakin melekat saat Dedi ditunjuk menjadi Kasat Serse Polwiltabes Surabaya pada 2007, memimpin Polresta Kediri pada 2008, dan menjabat Kapolres Lumajang pada 2009. Selanjutnya ia menghabiskan enam tahun berkarier di bidang SDM Polri dengan berbagai posisi krusial mulai dari Karo SDM Polda Maluku Utara, Karo SDM Polda Kalimantan Tengah, Kabagrenmin SSDM Polri, hingga Kabagmutjab Robinkar SSDM Polri.
Puncak karier kepolisian Dedi tercapai setelah mendapat kenaikan pangkat menjadi Brigjen pada 2017 usai dipercaya sebagai Wakapolda Kalteng. Selang setahun kemudian, ia ditunjuk menjabat Karo Penmas Divisi Humas Polri, sebuah portofolio komunikasi publik yang melengkapi pengalaman lapangan dan manajemen sumber daya manusia sebelum kini memimpin reforma agraria nasional.
Analisis Redaksi
Penunjukan seorang jenderal polisi aktif ke pucuk pimpinan BRAN mengindikasikan bahwa Presiden Prabowo memandang konflik agraria tidak lagi semata-mata sebagai masalah administrasi pertanahan, melainkan isu keamanan dan ketertiban yang memerlukan penanganan tegas. Latar belakang Dedi yang kaya akan pengalaman reserse, humas, dan manajemen SDM Polri menjadi modal vital untuk menavigasi dinamika sengketa lahan yang sering kali melibatkan resistensi sosial tinggi dan potensi gesekan horizontal di lapangan.
Transisi kepemimpinan ini juga membawa konsekuensi logis berupa perubahan kultur kerja di internal BRAN yang sebelumnya lebih didominasi oleh birokrat sipil dan ahli pertanahan. Publik perlu mewaspadai apakah pendekatan keamanan yang melekat pada sosok Dedi akan berjalan seimbang dengan aspek keadilan sosial dan redistribusi tanah, atau justru cenderung memprioritaskan stabilitas di atas penyelesaian akar masalah kepemilikan yang berlarut-larut.
Langkah selanjutnya yang patut dicermati adalah bagaimana Dedi menerjemahkan mandat Keppres 105/P/2026 ke dalam kebijakan operasional yang konkret dalam enam bulan pertama masa jabatannya. Keberhasilan Badan Reforma Agraria Nasional di bawah komando baru ini akan sangat bergantung pada kemampuan sang kepala badan dalam mensinergikan instrumen kepolisian dengan mekanisme hukum agraria tanpa mengorbankan substansi reforma agraria itu sendiri.
BERITA TERKAIT (Politik)

Gerindra Jatim Proses PAW Tiga Kader DPRD Terlibat Narkoba, Tetapkan Zero Tolerance

Jazuli Juwaini Klaim RUU Pemilu Rampung Sebelum Tutupnya Masa Sidang 2026

PKB Buka Opsi Hak Angket dan HMP untuk Selidiki Legalitas Suket Ijazah Gibran
