Anugerah Pratama Mundur dari NasDem ke PSI, Singgung Jargon Tanpa Mahar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Muhammad Anugerah Pratama, anggota DPRD Kota Palu periode 2024-2029, resmi mengundurkan diri dari Partai NasDem dan beralih ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sekjen NasDem, Hermawi Taslim, memastikan pengunduran diri Nugie sapaan akrabnya telah diterima dan disahkan oleh DPP sejak 5 Agustus. Langkah ini bukan sekadar pindah partai, melainkan refleksi dari dinamika internal yang merasuk hingga ke lingkaran keluarga elit politik nasional. Pengunduran diri Nugie, yang juga anak kandung Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali, menandai berakhirnya statusnya sebagai kader NasDem sekaligus memunculkan narasi baru tentang transparansi politik di partai banteng moncong putih.
Hermawi Taslim membenarkan kabar tersebut pada Rabu (30/9), dengan menegaskan bahwa prosesnya telah melalui hierarki partai yang ketat. "Sudah disetujui oleh Ketua DPW Sulteng, dan diamini oleh DPP," ujar Hermawi saat dikonfirmasi. Ia mengungkapkan bahwa inisiatif tekanan untuk mundur datang langsung dari Ketua DPW NasDem Sulteng, Nilam Sari Lawira, yang tidak lain adalah ibu kandung Nugie dan istri Ahmad Ali. "Karena Ketua DPW Sulteng adalah ibu kandungnya sendiri, anggota DPR RI dapil Sulteng. DPP selalu searah dan sejalan dengan DPW," kata Hermawi, menggarisbawahi bagaimana relasi personal dan struktural beririsan dalam keputusan politik ini. Konsekuensinya, Nugie otomatis kehilangan kursi dewan di Kota Palu.
Nugie sendiri tampil terbuka menyikapi perihatan tersebut. Saat dikonfirmasi, ia memprioritaskan masa depan kariernya di atas konflik emosional sesaat. "Saya lebih fokus ke karier saya ke depan. Untuk perasaan, belakangan," ujarnya mengutip Antara. Keputusan berlabuh di PSI didasari oleh penilaian objektif terhadap kontribusi sang ayah, Ahmad Ali, yang telah mendedikasikan 11 tahun pengabdiannya di NasDem. "Yang paling mendasar itu karena bapak saya yang sudah mengurus NasDem selama 11 tahun. Menurut saya, sebagai sebuah partai penting untuk menghargai kadernya," katanya. Bagi Nugie, PSI kini menawarkan ruang bagi generasi muda yang selama ini terasa sempit di partai lama.
Pola pikir Nugie berubah drastis setelah mengadu pengalaman langsung dengan janji kampanye NasDem. Ia menyinggung ketidaksesuaian antara slogan partai dengan realitas di lapangan. "NasDem dari awal jargonnya partai tanpa mahar. Setelah saya masuk di dalam, menurut saya tidak sesuai," ungkapnya. Pernyataan ini cukup tajam, mengingat isu transparansi dan anti-mahar adalah benteng ideologis NasDem sejak didirikan. Dengan meninggalkan partai yang menggaungkan nilai-nilai itu, Nugie secara implisit menyatakan bahwa nilai tersebut tidak tercermin dalam praktik organisasi. Bagi seorang politisi muda, integritas ideologis seringkali menjadi harga mati dalam menentukan arah karier politik jangka panjang.
Langkah Nugie juga dipandang sebagai bagian dari strategi memperluas pengaruh politik Ahmad Ali di ranah nasional. Nugie menyatakan keputusannya bukan semata urusan pribadi, melainkan upaya melanjutkan karier politik dan mengembangkan gagasan yang belum terealisasi maksimal di NasDem. Ia melihat PSI sebagai platform yang lebih responsif terhadap aspirasi kaum muda. "NasDem dari awal jargonnya partai tanpa mahar. Setelah saya masuk di dalam, menurut saya tidak sesuai," ungkapnya lagi, mengonfirmasi bahwa friksi internal menjadi pemicu utama. Dengan bergabung ke PSI, Nugie berharap bisa lebih efektif menggalang suara pemilih muda yang kritis terhadap praktik politik transaksional.
Analisis Redaksi
Pengunduran diri Anugerah Pratama bukan sekadar mutasi karier biasa, melainkan sinyal gesekan antara ideologi parta dan praktik elitis di lapangan. NasDem, yang sejak awal membangun reputasi di atas slogan 'Partai Tanpa Mahar' dan reformasi politik, kini harus menghadapi kritik dari salah satu putera kader pentingnya sendiri. Jika jargon tanpa mahar dianggap kontradiktif dengan pengalaman internal, ini membuka celah legitimasi yang dapat dimanfaatkan oleh partai oposisi untuk menggugat integritas sistem rekrutmen NasDem. Publik akan menguji apakah kritik Nugie merupakan anomali atau cerminan masalah sistemik yang lebih luas.
Secara strategis, alih kepalahan ini memperkuat sayap Ahmad Ali di legislatif dan eksekutif di tingkat lokal, sekaligus memperdalam kemitraan psikologis antara PSI dan elit NasDem lama. Bagi PSI, merekrut 'anak' dari birokrat NasDem senior adalah magnet daya tarik bagi pemilih muda yang skeptis. Namun, bagi NasDem, kehilangan representasi generasi penerus di tingkat kota seperti Palu bisa menjadi preseden bahwa partai gagal menampung aspirasi kader muda mereka sendiri. Masa depan dinamika ini akan ditentukan oleh konsistensi PSI dalam membuktikan bahwa mereka benar-benar bebas dari praktik politik transaksional yang ditinggalkan oleh Nugie.
BERITA TERKAIT (Politik)

MA Batalkan Suket Ijazah Gibran, Elite Politik Tuntut Penegasan Status Wapres

Demokrat Nilai Gibran Tak Lagi Memenuhi Syarat Wapres Usai MA Putuskan Suket Tidak Sah

Klarifikasi Wamendagri: Insentif Rp1 Triliun untuk Pemda Cakup Stunting, Rumah, dan Inflasi
