Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rupiah Melemah ke Rp17.798 per Dolar AS Senin Sore Ditopang Arus Keluar Asing

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rupiah Melemah ke Rp17.798 per Dolar AS Senin Sore Ditopang Arus Keluar Asing
BAGIKAN:

Rupiah jatuh ke level Rp17.798 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (28/9) sore. Mata uang Garuda ini merosot 75 poin atau setara 0,42 persen dibandingkan posisi perdagangan sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan global yang melanda berbagai mata uang utama Asia.

Kondisi rupiah ternyata bukan anomali lokal. Mayoritas mata uang regional memang bergerak melemah terhadap dolar AS pada sesi yang sama. Peso Filipina terdepresiasi 0,11 persen, ringgit Malaysia melemah 0,25 persen, dan dolar Singapura turun tipis 0,05 persen. Sementara itu, won Korea Selatan mencatatkan depresiasi lebih dalam sebesar 0,36 persen. Di sisi lain, yuan China dan dolar Hong Kong bertahan di posisi datar, menunjukkan ketahanan tertentu di tengah volatilitas.

Tren pelemahan tidak terbatas pada kawasan Asia. Beberapa mata uang negara maju juga turut tergerus. Euro Eropa turun 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi minim 0,01 persen, dolar Kanada melemah 0,10 persen, dan franc Swiss anjlok 0,34 persen. Namun, ada pengecualian menarik di mana yen Jepang justru menguat 0,29 persen dan poundsterling Inggris naik 0,12 persen terhadap dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengidentifikasi pemicu utama penurunan nilai tukar rupiah. Menurutnya, tekanan datang dari kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling berkelindan. "Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kombinasi faktor internal, yaitu permintaan dolar dari importir dan arus keluar dana asing, serta faktor eksternal berupa penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Faktor internal ini menjadi sorotan utama bagi pelaku pasar domestik. Permintaan dolar untuk membiayai impor yang tetap tinggi menciptakan keseimbangan negatif bagi cadangan valas dalam negeri. Ditambah lagi dengan keluaran modal asing atau *outflow*, tekanan jual terhadap rupiah semakin tajam. Dinamika ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi dalam negeri masih memerlukan penguatan agar tidak terus rentan terhadap gejolak eksternal.

Analisis Redaksi

Pelemahan dolar AS yang memicu koreksi global sekaligus tekanan spesifik pada rupiah mengindikasikan pasar masih dalam mode 'wait and see' terkait arah suku bunga Federal Reserve. Bagi investor, penguatan indeks dolar global membuat aset risiko, termasuk mata uang berkembang, kurang menarik. Situasi ini membutuhkan kehati-hatian dalam mengelola portofolio, terutama bagi sektor yang sangat sensitif terhadap biaya valuta asing.

Ke depan, fokus harus diarahkan pada pengendalian komponen inflasi domestik dan penguatan likuiditas agar *arus keluar dana asing* tidak menjadi tren struktural. Jika permintaan dolar importir tidak dapat diimbangi oleh inflasi dana asing, rupiah akan tetap rentan terhadap guncangan kecil pada pasar global. Stabilitas nilai tukar kini menjadi variabel kunci bagi kepercayaan investor jangka panjang.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸