IHSG Anjlok 1,51% ke 6.147 Setelah Nilai Minimum Saham Dipangkas Menjadi Rp1
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal bertahan di level psikologis 6.200 dan tumbang ke 6.147 pada penutupan perdagangan Senin (28/9). Koreksi ini setara dengan pelemahan 94,03 poin atau minus 1,51 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Pengecutan harga ini terjadi sehari setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi memotong batas minimum nilai saham yang diperdagangkan dari Rp100 menjadi Rp1, sebuah kebijakan yang langsung memantik aksi jual masif oleh investor domestik dan asing.
Dalam pantauan melalui RTI Infokom, likuiditas pasar menunjukkan geliat transaksi yang cukup besar dengan nilai mencapai Rp12,56 triliun. Total saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 37,24 miliar lembar. Namun, dominasi penjualan membuat papan skor bursa didominasi oleh warna merah. Secara spesifik, hanya 180 saham yang mampu menguat, sementara 532 saham terkoreksi dan 81 saham lainnya stagnan.
Kelemahan indeks ini tidak tersebar merata, melainkan ditopang oleh tekanan berat dari sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan regulasi. Sembilan dari 11 sektor acuan IHSG ditutup melemah, dengan sektor teknologi menjadi episentrum penurunan terdalam, yakni minus 4,48 persen. Sebaliknya, hanya dua sektor yang berhasil menahan laju koreksi dan mencatatkan penguatan tipis. Sektor transportasi memimpin pergerakan positif tersebut dengan kenaikan marginal sebesar 0,05 persen, sementara sektor lainnya tidak mampu memberikan sokongan berarti bagi indeks composit.
Pergerakan bursa domestik ini berjalan berseberangan dengan sentimen kawasan Asia yang menunjukkan pola divergen. Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong justru menguat 0,54 persen, diikuti Straits Times di Singapura yang naik 0,43 persen. Di sisi lain, tekanan jual juga menghantam bursa Asia lainnya; Shanghai Composite di China melemah 1,67 persen, sementara Nikkei 225 di Jepang turun 0,73 persen. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa investor Asia tengah melakukan penyesuaian portofolio secara dinamis, namun di Indonesia, kepanikan regulasi dinilai lebih dominan.
Menariknya, sentimen global dari benua biru dan amerika justru terlihat stabil hingga menguat, menciptakan kontradiksi terhadap pelemahan tajam di Jakarta. Indeks Eropa kompak naik, dengan DAX Jerman menguat 0,22 persen dan FTSE 100 Inggris plus 0,47 persen. Di bursa Amerika, dominasi hijau berlanjut dengan kenaikan NASDAQ Composite 0,48 persen, Dow Jones 0,93 persen, dan S&P 500 0,51 persen. Kesenjangan antara performa positif pasar maju dan pelemahan di pasar berkembang seperti Indonesia ini menjadi indikator bahwa masalah di pasar saham domestik saat ini bersifat idiosinkratik, yakni dipicu oleh faktor internal regulasi, bukan oleh guncangan ekonomi global.
Analisis Redaksi
Penurunan IHSG ke level 6.147 harus dibaca bukan semata sebagai koreksi teknikal biasa, melainkan sebagai reaksi pasar terhadap perubahan struktur fundamental pasar. Dengan batas minimum saham turun ke Rp1, likuiditas yang sebelumnya terkonsentrasi di saham-saham berkapitalisasi besar kini terancam terserap oleh ribuan saham bernilai nominal rendah yang kini lebih mudah ditransaksikan. Hal ini berpotensi menguras dana investor retail dan institusi yang sebelumnya memegang saham-saham gorengan. Tekanan di sektor teknologi dan mayoritas emiten mencerminkan upaya investor untuk memaksimalkan diversifikasi aset dan keluar dari instrumen berisiko tinggi yang tidak didukung fundamental kuat.
Untuk ke depan, pasar perlu memantau apakah koreksi ini akan terus berlanjut atau mereda dalam beberapa sesi. Jika volume perdagangan tetap tinggi namun harga tertahan di bawah 6.100, bisa jadi ini adalah fase bottoming process yang menyakitkan namun wajar. Namun, jika likuiditas menyusut drastis karena investor memilih wait and see, tekanan jual pada saham-saham blue chip tidak akan terelakkan. Regulator perlu mewaspadai potensi manipulasi harga pada saham-saham bernilai rendah yang kini lebih mudah dikendalikan karena biaya transaksinya yang nol atau mendekati nol, demi menjaga integritas pasar tetap terjaga di tengah volatilitas struktural ini.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
