Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Harga Cabai Rawit Merah Sentuh Rp99.150, Jelang Tembus Angka Psikologis Rp100.000 per Kg

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Harga Cabai Rawit Merah Sentuh Rp99.150, Jelang Tembus Angka Psikologis Rp100.000 per Kg
BAGIKAN:

Presisi inflasi pangan kembali terganggu oleh lonjakan harga cabai rawit merah. Pada Senin (28/9), rata-rata harga komoditas pedas ini di pasar tradisional seluruh Indonesia menyentuh level Rp99.150 per kilogram (kg). Angka tersebut naik Rp2.700 atau setara 2,8 persen dibandingkan posisi Jumat (25/9) yang masih berada di kisaran Rp96.450 per kg. Dengan selisih hanya Rp850, harga nasional kini nyaris menyentuh ambang psikologis Rp100.000 per kg.

Pergerakan harga sepanjang pekan menunjukkan tren naik meski sempat koreksi ringan. Tercatat Rp95.000 per kg pada 21 September, harga melaju ke Rp95.850 (22/9), turun tipis ke Rp94.950 (23/9), lalu memantul ke Rp96.050 (24/9) dan ditutup di Rp96.450 (25/9). Jika dilihat dari rata-rata cabai rawit secara nasional, angkanya juga terkerek menjadi Rp86.350 per kg, naik dari Rp84.700 per kg pada pekan lalu.

Disparitas harga antar-daerah kian mencolok. Gorontalo memimpin dengan harga tertinggi Rp155.000 per kg, disusul Maluku Utara Rp151.250 dan Sulawesi Utara Rp132.500 per kg. Di kawasan timur Indonesia, harga di Kalimantan Tengah, Papua, dan Kalimantan Utara sudah menembus Rp100.000, yakni Rp111.250, Rp106.450, dan Rp105.650 per kg. Sebaliknya, wilayah Jawa relatif lebih tenang; DKI Jakarta di Rp71.100, Jawa Barat Rp67.000, Jawa Tengah Rp57.400, DI Yogyakarta Rp60.500, dan Jawa Timur Rp53.400 per kg.

Lanskap komoditas pangan lain menunjukkan dinamika berbeda. Cabai merah besar justru turun Rp1.100 menjadi Rp56.300 per kg, sementara cabai merah keriting merosot 3,6 persen ke Rp66.750 per kg. Cabai rawit hijau hampir stagnan di Rp68.000 per kg. Pada kelompok bawang, bawang merah turun tipis ke Rp37.050 per kg, namun bawang putih naik 1,03 persen menjadi Rp39.400 per kg dibandingkan pekan sebelumnya.

Kenaikan harga cabai rawit merah bukan sekadar fenomena pasar lokal, melainkan sinyal tekanan likuiditas yang terasa di dompet konsumen. Bagi pedagang eceran dan industri olahan pangan, volatilitas harga di level hampir Rp100.000 per kg meningkatkan risiko margin keuntungan. Stabilitas harga pangan menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat jelang akhir tahun.

Analisis Redaksi

Lonjakan harga cabai rawit merah hingga nyaris tembus Rp100.000 per kg mengindikasikan gangguan pasokan yang belum pulih. Pola kenaikan bertahap sepanjang September ini menunjukkan bahwa permintaan tidak seimbang dengan ketersediaan pasokan, terutama di wilayah luar Jawa. Jika tren ini berlanjut, inflasi kelompok makanan dan minuman akan semakin menekan daya beli, memperlebar kesenjangan antara harga komoditas dan pendapatan rata-rata.

Perbedaan harga ekstrem antara wilayah timur (Gorontalo, Maluku) dan Jawa menjadi warning sign bagi distribusi logistik. Biaya transportasi dan akses distribusi masih menjadi bottleneck utama. Pasar di Jawa yang relatif stabil menandakan pasokan lokal masih memadai, tetapi ketergantungan pada pasokan luar Jawa membuat harga di wilayah timur rentan terhadap fluktuasi cuaca atau gangguan logistik.

Ke depan, koordinasi antar-lembaga perlu diperkuat untuk menjaga pasokan cabai rawit merah dan bawang putih. Jika harga tidak terkendalikan di level Rp100.000, potensi kenaikan lebih lanjut harus diantisipasi, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru yang biasanya memicu lonjakan permintaan. Stabilitas harga pangan adalah prasyarat bagi kepercayaan publik terhadap pengelolaan ekonomi nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸