Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pezeshkian Tutup Pintu Dini untuk Trump: Sanksi dan Pengkhianatan Kesepakatan Jadi Penghalang

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pezeshkian Tutup Pintu Dini untuk Trump: Sanksi dan Pengkhianatan Kesepakatan Jadi Penghalang
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Pezeshkian menyatakan bahwa selama Washington terus menekan Teheran melalui sanksi ekonomi dan ancaman militer, dialog tatap muka menjadi mustahil untuk dilaksanakan.
  • Peringatan ini disampaikan Pezeshkian dalam wawancara eksklusif dengan Margaret Brennan di program Face the Nation milik CBS.
  • Ia menggambarkan lanskap hubungan bilateral yang kini diliputi keraguan mendalam.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas menutup peluang pertemuan langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berdalih bahwa tembok ketidakpercayaan antara kedua negara masih terlalu tebal untuk diabaikan. Pezeshkian menyatakan bahwa selama Washington terus menekan Teheran melalui sanksi ekonomi dan ancaman militer, dialog tatap muka menjadi mustahil untuk dilaksanakan.

Peringatan ini disampaikan Pezeshkian dalam wawancara eksklusif dengan Margaret Brennan di program Face the Nation milik CBS. Ia menggambarkan lanskap hubungan bilateral yang kini diliputi keraguan mendalam. Menurutnya, kerumitan tersebut berakar dari serangkaian perundingan sebelumnya yang dinilainya gagal berbuah eksekusi nyata. "Ada atmosfer ketidakpercayaan yang telah berkembang antara Iran dan Amerika Serikat," ujarnya, menekankan bahwa retorika diplomasi tidak lagi cukup tanpa jaminan aksi.

Ketidakpercayaan ini, lanjut Pezeshkian, dipicu oleh pelanggaran Washington terhadap kesepakatan tertulis yang sudah ditandatangani. Ia menuding AS tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati, sebuah klaim yang menurutnya menghancurkan fondasi kepercayaan. "Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka," tegasnya. Tuduhan ini merujuk pada praktik AS yang dianggap terus melanggar perjanjian damai atau pengurangan tensi di masa lalu.

Alih-alih memuji semangat diplomasi, Pezeshkian justru menyerukan eskalasi tekanan yang dilakukan AS. "Setiap hari, mereka meningkatkan sanksi terhadap kami. Setiap hari, mereka mengancam kami, menyerang kami, dan mereka tidak menghormati apa yang telah mereka tulis," rincinya. Pertanyaan retorisnya menggantung di udara: apakah AS benar-benar akan menindaklanjuti pembicaraan jika mereka saja yang tidak menghormati kontrak sebelumnya?

Di tengah kebuntuan ini, situasi politik memanas seiring kehadiran Trump di Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, tempat Pezeshkian dan pejabat Iran juga berada. Sebelumnya, Trump menyatakan kesiapannya untuk bertemu, namun kini ia membayangi pidatonya dengan ultimatum: membuat kesepakatan atau menghancurkan negara tersebut. Ironisnya, saat kebuntuan diplomasi ini terjadi, Iran pekan ini justru mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebuah langkah strategis yang hingga kini belum mendapat tanggapan resmi dari Washington.

Analisis Redaksi

Langkah Pezeshkian untuk memblokir jalur diplomasi langsung bukanlah sekadar strategi tawar-menawar biasa, melainkan cerminan putus asa Teheran yang merasa terdesak secara struktural. Narasi "pengkhianatan kontrak" yang dibangun oleh presiden muda ini bertujuan untuk memvalidasi posisi keras Teheran di hadapan publik dalam negeri yang kelelahan oleh sanksi. Dengan menempatkan tanggung jawab kegagalan hubungan sepenuhnya di pundak AS, Pezeshkian berhasil membalikkan narasi bahwa Iran adalah pihak yang selalu membuka pintu perdamaian namun selalu ditolak atau diabaikan. Ini adalah manuver psikologis yang cerdik untuk meminimalkan kritik internal terhadap kepemimpinan baru yang masih muda di panggung geopolitik yang dingin.

Yang perlu diwaspadai adalah eskalasi retorika Trump tentang "menghancurkan" Iran yang muncul bersamaan dengan proposal pembukaan Selat Hormuz. Ketidakresponsifan AS terhadap proposal Selat Hormuz, ditambah dengan ancaman eksplisit Trump, menciptakan zona bahaya di mana miscalculation (kesalahan perhitungan) bisa memicu konflik terbuka. Jika Teheran menilai bahwa diplomasi diabaikan dan hanya ada pilihan antara tunduk atau berperang, mereka akan memperkuat aliansi dengan sekutu regional dan militerisasi selat strategis tersebut. Dunia harus bersiap dengan skenario terburuk di mana ultimatum "kesepakatan atau kehancuran" bukan sekadar retorika kampanye, melainkan sinyal persiapan operasi militer yang akan mengunci pasokan energi global.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ