Menlu Sugiono: Reformasi PBB Mendesak, Indonesia Tawarkan Multilateralisme yang Lebih Kuat
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Indonesia mendesak reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengikuti dinamika abad ke-21 yang semakin bergejolak.
- Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan posisi ini di hadapan Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Sabtu (26/9) waktu setempat.
- Menurut dia, kepercayaan pada PBB berarti lembaga tersebut harus berevolusi seiring dengan dunia yang dilayaninya, bukan sebaliknya.
Indonesia mendesak reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengikuti dinamika abad ke-21 yang semakin bergejolak. Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan posisi ini di hadapan Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Sabtu (26/9) waktu setempat. Menurut dia, kepercayaan pada PBB berarti lembaga tersebut harus berevolusi seiring dengan dunia yang dilayaninya, bukan sebaliknya.
Pendapat itu disampaikan Sugiono saat menyampaikan pidato resmi, yang dipantau melalui siaran daring di Jakarta pada Minggu. Dia menyatakan bahwa Indonesia tetap meyakini peran PBB sebagai lembaga multilateral yang tak tergantikan untuk mewadahi kepentingan berbagai bangsa. PBB, lanjutnya, memberi ruang bagi negara-negara untuk mencari jalan tengah atas perbedaan pandangan tanpa harus menempuh jalan kekerasan atau konflik.
Sugiono menekankan bahwa PBB memberi aturan bersama di tengah perbedaan kepentingan. Lembaga ini memungkinkan penghimpunan kemampuan saat negara-negara tak bisa bertindak sendirian. Oleh karena itu, respons yang tepat untuk mengatasi multilateralisme yang belum sempurna adalah dengan mewujudkannya menjadi lebih kuat dan lebih baik. Sistem multilateral yang ideal untuk abad ke-21 harus lebih representatif, lebih ulet, dan mampu membawa hasil konkret bagi masyarakat dunia.
Pelaksanaan reformasi multilateral, khususnya di PBB, diakui tak mungkin selesai dalam semalam. Namun, semakin besarnya tantangan global menuntut dunia untuk bertindak sekarang juga. Sugiono menekankan pentingnya memperkuat kapasitas kolektif dalam menghadapi krisis, merespons kondisi kemanusiaan, serta menjaga perdamaian dan pembangunan.
Dalam kesempatan yang sama, dia turut menyoroti urgensi reformasi arsitektur keuangan internasional. Tujuannya adalah memastikan sistem keuangan dunia lebih memenuhi kebutuhan negara berkembang serta memperluas peluang mereka untuk menetapkan prioritas pembangunan. Di sisi lain, kemampuan Indonesia berkontribusi secara konsisten berakar dari keberhasilan membangun ketahanan nasional, persatuan dalam perbedaan, dan penghargaan terhadap HAM.
Delegasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB 2026 dipimpin langsung oleh Sugiono yang tiba di New York sejak Senin (21/9). Sebelum pidato utama, ia aktif mengikuti berbagai pertemuan tingkat tinggi dan bilateral. Keterlibatan aktif ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendorong perubahan struktural di forum multilateral.
Analisis Redaksi
Pernyataan Menlu Sugiono menandai pergeseran fokus Indonesia dari sekadar "mengikuti" norma PBB menjadi "mengakili" bahwa inti lembaga tersebut sedang tertinggal dengan realitas geopolitik saat ini. Menekankan urgensi reformasi kini, bukan nanti, adalah sinyal bahwa Jakarta melihat stagnasi struktur PBB sebagai hambatan nyata bagi penyelesaian krisis global.
Dampaknya, diplomasi Indonesia akan semakin agresif dalam menekan agenda representativitas, terutama dalam dewan tertinggi. Mengaitkan reformasi keuangan dengan ketahanan nasional adalah strategi cerdas: Indonesia ingin membuktikan bahwa keberpihakan kepada Selatan Global harus diimbangi dengan kekuatan ekonomi domestik yang stabil.
Langkah logis selanjutnya adalah lobi bilateral intensif dengan negara-negara anggota G77 untuk menyepakati dokumen reformasi bersama sebelum sidang berakhir. Jika tidak ada aksi nyata, retorika "evolusi PBB" hanya akan menjadi klise diplomatik yang mengikis kredibilitas Indonesia di forum internasional.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Korea Utara Tolak Tuduhan FBI Soal Peretasan Binance, Kim Yo Jong Sebut Klaim AS Retorika Absurd

Gelombang Besar Pemilih AS Hadiri TPS Pemilu Sela, Dinamika Politik Global Dipertaruhkan

Lukashenko Dorong Donald Trump Jadi Sekjen PBB untuk Bersihkan 'Rawa-Rawa' Organisasi
