Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Danantara Dorong Elektrifikasi KRL Menuju Sukabumi dan Cikampek, Target 2 Juta Penumpang

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Danantara Dorong Elektrifikasi KRL Menuju Sukabumi dan Cikampek, Target 2 Juta Penumpang
BAGIKAN:

Badan Peluang Investasi, Danantara, tengah mempercepat proses elektrifikasi jaringan Commuter Line dengan memperpanjang jalur Jakarta-Bekasi hingga Cikampek, Jakarta-Bogor ke Sukabumi, dan Jakarta-Rangkasbitung menuju Merak. COO Danantara Dony Oskaria menegaskan langkah ini bertujuan menyatukan sistem transportasi massal di Jabodetabek agar tidak lagi terpisah-pisah antar-manajemen. Pernyataan tersebut dilontarkan di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa lalu, sekaligus menandai pergeseran peran state-owned investment vehicle dalam infrastruktur transportasi publik.

Dony Oskaria mengungkapkan bahwa Danantara tidak hanya fokus pada perpanjangan jalur KRL, tetapi juga sedang mengkaji pendanaan proyek LRT Jakarta. Skema integrasi ini mencakup rute dari Manggarai ke Dukuh Atas, Kelapa Gading-JIS, hingga Velodrome-Stasiun Whoosh. "Yang LRT tentu sedang kita kaji karena ini bagian daripada integrasi moda mass transportation yang sedang kita siapkan," ujar Dony. Ia menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah menciptakan satu kesatuan sistem yang terhubung antara KAI, Pemprov DKI Jakarta, dan Danantara.

"Nanti ini akan terintegrasi seluruhnya, termasuk integrasi LRT dengan MRT dan juga dengan Busway jadi ini akan menjadi satu kesatuan, ini yang sedang kita bicarakan nanti dengan Pak Gubernur," imbuh Dony. Ia menolak adanya sekat administratif yang memecah belah pengelolaan moda transportasi. "Jadi sehingga tidak terpisah-pisah mana yang menjadi porsi KAI, mana yang porsi daripada Jakpro dan lain sebagainya. Ini akan menjadi satu kesatuan. Kurang lebih demikian," tegasnya. Strategi ini dirancang agar efisiensi operasional dan pengalaman pengguna dapat terstandarisasi secara nasional.

Secara teknis, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, membenarkan bahwa pengembangan KRL Commuter Line merupakan bagian dari strategi peningkatan kapasitas. Bobby menyatakan bahwa jalur Jakarta-Bogor akan diperpanjang hingga Lido dan Cigombong, sementara jalur Bekasi akan diperluas dari Cikarang menuju Cikampek. "KAI terus menyiapkan pengembangan jaringan KRL melalui penambahan elektrifikasi," kata Bobby saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (24/9/2026). Ia memastikan bahwa seluruh proyek ini akan dikerjakan secara bertahap dengan target penyelesaian pada tahun 2028.

Tantangan terbesar terletak pada peningkatan volume penumpang secara signifikan. Bobby menargetkan layanan kereta listrik mampu melayani dua juta pelanggan per hari di wilayah aglomerasi Jabodetabek. "Pengembangan ini dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kapasitas layanan KRL menuju dua juta pelanggan per hari," ujar Bobby. Angka ini mengindikasikan pergeseran fundamental dalam mobilitas urban, di mana kereta menjadi tulang punggung utama, bukan sekadar pelengkap. Dengan target tersebut, tekanan pada infrastruktur jalan tol dan kendaraan pribadi diharapkan akan berkurang drastis dalam satu dekade ke depan.

Analisis Redaksi

Masuknya Danantara ke dalam skema integrasi moda transportasi menunjukkan perubahan paradigma investasi negara. Tidak lagi sekadar membangun aset fisik, melainkan mengorkestrasikan ekosistem layanan. Jika skema integrasi LRT, MRT, dan Transjakarta berhasil digabung dengan KRL, biaya koordinasi operasional akan turun, namun risiko kegagalan sistemik akan meningkat jika salah satu simpul bermasalah. Publik harus mengawasi sejauh mana transparansi dana yang dialokasikan oleh Danantara, mengingat skala proyek yang sangat masif.

Target 2 juta penumpang per hari adalah ambisi yang sangat tinggi. Untuk mencapai angka itu, konektivitas last-mile dari stasiun ke permukiman harus diperbaiki secara simultan. Tanpa transportasi pengumpan yang andal, elektrifikasi jalur jarak jauh seperti menuju Sukabumi atau Merak hanya akan melayani segmen komuter yang sudah terbiasa naik kereta, bukan menarik pengguna baru dari angkutan umum lain. Peringatan terhadap risiko kemacetan di stasiun akhir perlu diantisipasi sejak sekarang.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah pembentukan badan koordinasi terpadu yang mengawasi interopabilitas tiket dan jadwal antar-mode. Dony menyebut diskusi dengan Gubernur DKI akan menjadi kunci. Namun, tanpa sinergi kuat antara KAI dan Pemprov, proyek ini berisiko menjadi "puzzle" yang tidak akan pernah lengkap. Publik perlu meminta jadwal pasti per tahapannya, bukan hanya janji penyelesaian 2028, untuk memastikan akuntabilitas anggaran negara.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ