Update KM Virgo: 52 Meninggal, Tim SAR Temukan 10 Jenazah Baru di Perairan Masalembo

Tim SAR gabungan kembali menemukan sepuluh jenazah korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan, pada Jumat (25/9). Penemuan ini menambah daftar duka menjadi total 52 orang meninggal dunia dari keseluruhan 160 korban yang telah ditemukan sejauh ini. Sementara itu, upaya pencarian masih terus berlangsung intensif untuk menjangkau 83 penumpang lainnya yang hingga kini berstatus hilang.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa seluruh unsur SAR tidak akan berhenti mengoptimalkan pencarian. "Kami terus mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Setiap informasi dan temuan di lapangan akan segera ditindaklanjuti," ujar Syafii dalam keterangan resminya, Jumat. Ia menekankan fokus utama operasi adalah memberikan kepastian bagi keluarga korban yang menunggu kabar dengan cemas.
Dalam operasi hari ini, tim penyelam gabungan berhasil mengevakuasi lima korban dari dalam badan kapal. Proses evakuasi dilakukan secara berlapis; para korban dipindahkan ke KN SAR Kamajaya serta KRI Gusti Ngurah Rai, sebelum akhirnya diterbangkan menggunakan helikopter HR-3601 menuju Lanud Syamsudin Noor. Koordinasi lintas instansi terlihat kental dalam penanganan logistik medis darurat ini.
Selain penemuan di dalam bangkai kapal, tiga korban lain ditemukan oleh tim SAR di sekitar Sungai Cabang PT Kumai Sentosa, Kabupaten Sukamara. Dua korban tambahan lagi dilaporkan ditemukan di wilayah Sandurian, Kabupaten Seruyan. Seluruh jenazah tersebut kemudian dievakuasi menuju RSUD Sukamara untuk identifikasi awal, sebelum direncanakan dibawa ke RS Bhayangkara Banjarmasin untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur hukum dan medis.
Sebagai pengingat kronologis, KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita. Kapal yang membawa 243 orang ini sedang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Diduga kuat akibat cuaca buruk, kapal tersebut tenggelam dan baru ditemukan dalam kondisi terbalik pada hari yang sama. Operasi pencarian saat ini mencakup penyelaman mendalam, penyisiran permukaan laut, serta dukungan pemantauan udara.
Analisis Redaksi
Penambahan jumlah korban meninggal yang signifikan dalam satu hari menunjukkan kompleksitas medan pencarian di perairan Masalembo. Arus bawah laut yang kencang dan visibilitas rendah menjadi tantangan teknis terbesar bagi tim penyelam. Fakta bahwa sebagian besar korban ditemukan di lokasi terpencil seperti Sungai Cabang dan Sandurian mengindikasikan adanya dispersi tubuh akibat arus, sehingga radius pencarian harus diperluas secara strategis, bukan sekadar mengandalkan titik jatuh kapal.
Masyarakat perlu mewaspadai potensi kelanjutan operasi yang mungkin memakan waktu lama mengingat banyaknya korban hilang. Transparansi data dari Basarnas sangat krusial untuk mencegah spekulasi liar yang dapat mengganggu psikologis keluarga korban. Langkah selanjutnya yang logis adalah percepatan proses identifikasi DNA di RS Bhayangkara agar setiap jenazah yang ditemukan bisa segera dikembalikan kepada pihak keluarga, sekaligus memastikan akurasi statistik korban yang tersisa.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

BPS: Penumpang LRT Jakarta Melonjak 66 Persen Sepanjang September 2026, Transjakarta Tembus 39 Juta Orang

Wisatawan ke Jakarta Capai 8,58 Juta Perjalanan, Naik 6,37 Persen Sepanjang September 2026

Jaga Aliran Limbah: Sudin SDA Kepulauan Seribu Bersihkan Bak Kontrol IPAL Panggang Antisipasi Banjir
