Rupiah Tergerus ke Rp17.870 Pagi Ini, Tekanan Dolar AS dan Minyak Global Jadi Biang Keladi
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp17.870 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9) pagi. Mata uang Garuda terkoreksi 52 poin atau setara 0,29 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya, mencerminkan tekanan global yang masih menghantui pasar keuangan domestik.
Pelemahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang turut tertekan oleh penguatan greenback. Yuan China turun tipis 0,10 persen, sementara peso Filipina melemah 0,23 persen dan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,25 persen. Di kawasan yang sama, dolar Singapura menyusut 0,06 persen dan won Korea Selatan mencatat pelemahan paling dalam sebesar 0,34 persen terhadap dolar AS.
Situasi berbeda terlihat pada yen Jepang yang justru menguat 0,24 persen serta dolar Hong Kong yang naik marginal 0,01 persen. Dinamika serupa terjadi di antara mata uang utama negara maju. Euro Eropa dan poundsterling Inggris masing-masing turun 0,07 persen, diikuti koreksi 0,16 persen pada dolar Australia dan pelemahan 0,04 persen pada dolar Kanada. Hanya franc Swiss yang berhasil mempertahankan posisinya dengan penguatan kecil 0,02 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen negatif berasal dari dua sumber utama: ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dan gejolak harga komoditas energi. "Rupiah diperkirakan dibuka melemah seiring penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman menambahkan faktor geopolitik juga memperburuk keadaan. "Sementara itu, harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian," jelasnya. Berdasarkan analisis tersebut, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang sempit Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Analisis Redaksi
Kombinasi antara potensi kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak akibat tensi Timur Tengah menciptakan badai sempurna bagi mata uang emerging market seperti rupiah. Investor cenderung lari ke aset safe haven, yakni dolar AS, sehingga likuiditas di pasar lokal menipis. Kita perlu mewaspadai jika spekulasi kenaikan rate The Fed semakin solid; dampaknya bisa lebih parah daripada sekadar pelemahan harian saat ini karena arus modal keluar (capital outflow) dapat加速 secara signifikan.
Langkah Bank Indonesia kemungkinan besar akan tetap fokus pada stabilisasi volatilitas melalui intervensi ganda di pasar spot dan DNDF. Namun, ruang gerak otoritas moneter terbatas selama fundamental eksternal—terutama harga energi global—masih bergejolak. Bagi pelaku usaha importir, rentang Rp17.800–Rp17.950 menjadi batas psikologis penting untuk melakukan hedging currency sebelum ketidakpastian makro global makin memburuk menjelang akhir kuartal III.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
