Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Komling: Solusi Jemput Bola Sampah Organik di Gang Padat Jaksel

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Komling: Solusi Jemput Bola Sampah Organik di Gang Padat Jaksel
BAGIKAN:

April 2026 menandai titik balik sistem pengelolaan sampah di DKI Jakarta melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026. Aturan ini mewajibkan warga memilah sampah dari sumbernya, termasuk menangani sampah organik secara mandiri. Namun, bagi mayoritas penduduk kota, mengelola sisa makanan identik dengan bau tak sedap dan kerepotan logistik, terutama di area sempit yang minim lahan penyimpanan.

Merespons tantangan tersebut, Imam Basori alias Ibas, Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, meluncurkan program Kompos Keliling atau Komling. Inisiatif ini menjemput sampah organik langsung dari rumah ke rumah guna menyelesaikan masalah di tingkat hulu. "Kita selesaikan tingkat hulu dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, jadi kita jemput bola," ujar Ibas kepada CNNIndonesia.com, Selasa (8/9). Pendekatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi pilah sampah yang intensif bagi warga.

Kawasan RT 11 merupakan contoh nyata kepadatan urban; rumah-rumah saling berdempetan dengan lebar gang hanya cukup untuk dua sepeda motor. Meski demikian, lingkungan ini tampil hijau berkat mural budaya Betawi dan tanaman bertingkat di sepanjang jalan. Di pos satkamling, tersedia pojok baca, alat smart geprek, dan komposter mandiri sebagai bagian dari inovasi "Bangjali" atau Bareng Jaga Lingkungan. Program ini dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan lahan pembuatan Teba (tempat pengolahan sampah) konvensional.

Operasional Komling berlangsung setiap pukul lima sore menggunakan gerobak listrik yang dilengkapi komposter, genset portabel, dan pengeras suara. Tim terdiri dari satu penanggung jawab dan sekitar delapan anggota yang bergilir seperti piket satkamling. Sampah organik yang terkumpul diubah menjadi kompos dalam waktu enam jam. Jika volume melebihi kapasitas harian, kelebihan sampah ditampung di Koma (komposter mandiri) yang mampu menampung hingga 100 kilogram per siklus.

Edukasi dilakukan melalui pendekatan persuasif, mulai dari sosialisasi rutin, stiker pada gerobak, lomba pilah sampah, hingga penggunaan jingle unik. Lagu promosi itu berbunyi: "Kompos keliling mania/Kampung bersih, kagak berabe/Warga guyur, makin kece..." sebagai sinyal bagi warga menyiapkan sampah dapur. Hasil kompos kemudian dimanfaatkan untuk ketahanan pangan warga, membudidayakan tomat, cabai, dan bayam. Metode door-to-door memastikan tidak ada rumah yang terlewat, sehingga pemahaman warga meningkat drastis sejak tiga minggu pertama implementasi.

Antusiasme terlihat dari respons warga seperti Arief (23), relawan Karang Taruna yang menilai sistem ini memudahkan pembuangan sampah tanpa harus membuangnya sembarangan. Roy (43), warga lainnya, mengakui perubahan kebiasaan dari menumpuk sampah bulanan menjadi memilah harian. Ia berharap keberhasilan RT 11 dapat menular ke seluruh wilayah RW 7. Keterlibatan aktif keluarga, termasuk ibu-ibu dan anak-anak saat ayah mereka berhalangan, menunjukkan keberlanjutan sosial dari program ini.

Analisis Redaksi

Inovasi Komling membuktikan bahwa kebijakan top-down dari Pemprov DKI membutuhkan adaptasi bottom-up yang cerdas agar efektif di lapangan. Tantangan utama bukan sekadar aturan, melainkan perilaku dan infrastruktur fisik di permukiman padat. Dengan mengubah persepsi sampah organik dari beban menjadi aset produktif (kompos untuk pangan), Ibas berhasil menciptakan insentif ekonomi kecil bagi warga. Ini adalah studi kasus bagaimana desentralisasi solusi lingkungan di level RT/RW dapat mengisi celah implementasi regulasi provinsi.

Penting dicermati apakah model ini dapat direplikasi secara luas mengingat tingginya kebutuhan modal awal (gerobak listrik, komposter cepat saji) dan konsistensi SDM. Keberhasilan di sini sangat bergantung pada kepemimpinan lokal yang karismatik dan partisipasi aktif warga. Jika gagal mempertahankan momentum setelah fase honeymoon berakhir, potensi kembali ke pola lama tetap terbuka. Oleh karena itu, dukungan teknis dan finansial berkelanjutan dari pemerintah daerah menjadi kunci agar inisiatif serupa tidak mati suri setelah pilot project selesai.

Meow! Tanya Nesi!
😸