Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

KAI Perpanjang Rute KRL hingga Cikampek-Cigombong, Target Selesai 2028

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

KAI Perpanjang Rute KRL hingga Cikampek-Cigombong, Target Selesai 2028
BAGIKAN:

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, mengumumkan rencana perpanjangan jaringan KRL Jabodetabek ke dua arah strategis. Sisi timur akan diperluas dari Cikarang hingga Cikampek, sementara sisi selatan memanjang dari Bogor sampai Cigombong dan Lido. Proyek elektrifikasi ini ditargetkan rampung pada 2028 sebagai bagian dari ambisi KAI mengejar kapasitas angkutan hingga 2 juta penumpang per hari.

"Yang untuk Bekasi Line itu kita extend. Dari Cikarang itu kita extend sampai Cikampek, itu ada sekitar 42 kilo lagi ke sananya," ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (23/9). Ia menambahkan bahwa jalur Bogor juga akan diperpanjang melampaui stasiun akhir saat ini menuju kawasan wisata dan industri baru tersebut.

Pengembangan infrastruktur ini didorong oleh lonjakan permintaan perjalanan yang tak terbendung. Data KAI menunjukkan pertumbuhan penumpang pada semester I 2026 mencapai lebih dari 11 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Saat ini, rata-rata harian penumpang KRL sudah menyentuh angka 1,1 juta orang, dengan puncak kepadatan mencapai 1,3 juta penumpang per hari.

Meski demikian, penetrasi pasar masih dianggap rendah jika melihat demografi wilayah aglomerasi. Kawasan Jabodetabek dihuni sekitar 31,8 juta penduduk dengan total pergerakan harian mencapai 48 juta orang. Namun, porsi penggunaan KRL hanya berkisar 3 persen, jauh tertinggal dibanding sepeda motor yang mendominasi sebesar 45 persen, mobil pribadi 36 persen, dan bus 16 persen.

Untuk mengakomodasi target 2 juta penumpang, KAI tidak hanya menambah rel tetapi juga meningkatkan spesifikasi teknis sarana dan prasarana secara menyeluruh. Peningkatan mencakup gardu traksi, listrik aliran atas, persinyalan, depo, stabling, hingga perpanjangan peron. "Begitu nanti kita tingkatkan listriknya, semuanya itu akan SF12... headway-nya itu 10-15 menit, itu akan kita kurangi menjadi 4 sampai 5 menit," jelas Bobby mengenai efisiensi operasional yang diharapkan.

Selain jalur utama, fokus perbaikan juga menyasar Green Line atau jalur Rangkasbitung. Pada 2026, lima gardu traksi baru akan dipasang dan sembilan lainnya ditingkatkan dayanya. Langkah ini memungkinkan seluruh rangkaian di jalur tersebut beralih ke format SF12 mulai semester I 2027, menggantikan kombinasi SF8 dan SF10 yang selama ini digunakan akibat keterbatasan daya. Pengembangan ini difokuskan pada peningkatan kapasitas hingga Rangkasbitung, bukan perpanjangan rute ke Serang atau Pandeglang.

Analisis Redaksi

Transformasi Kapasitas vs Realitas Infrastruktur: Rencana KAI memperpanjang rute ke Cikampek dan Cigombong merupakan langkah berani yang mengubah peta mobilitas Jabodetabek. Dengan memangkas headway menjadi 4-5 menit dan mengoperasikan rangkaian SF12 secara penuh, KAI berupaya memecahkan hambatan psikologis masyarakat terhadap transportasi umum: ketidakpastian jadwal dan kepadatan ekstrem. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada sinkronisasi antar-moda. Tanpa integrasi mulus dengan feeder lokal dan park-and-ride yang memadai di ujung-ujung baru seperti Cikampek dan Lido, penambahan jarak tempuh justru bisa mengurangi waktu tempuh efektif bagi komuter yang tinggal di tengah koridor.

Risiko Keterlambatan dan Beban Fiskal: Target penyelesaian 2028 terdengar optimistis mengingat kompleksitas pembebasan lahan dan konstruksi di area padat maupun semi-perkotaan. Sejarah pembangunan infrastruktur kereta api di Indonesia sering kali dihadapkan pada kendala birokrasi dan teknis lapangan. Jika proyek ini meleset, defisit kepercayaan publik akan sulit dipulihkan, terutama karena KAI telah menaikkan ekspektasi melalui narasi '2 juta penumpang'. Selain itu, biaya investasi masif untuk elektrifikasi dan sinyal baru harus dibarengi dengan skema tarif yang berkelanjutan agar tidak membebani APBN atau membuat tiket menjadi terlalu mahal bagi segmen pekerja kelas menengah-bawah, yang merupakan basis pengguna terbesar saat ini.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ