Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

18 Korban Tewas KM Virgo, Basarnas Kerahkan E-Broadcast dan Libatkan Nelayan Kalimantan

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

18 Korban Tewas KM Virgo, Basarnas Kerahkan E-Broadcast dan Libatkan Nelayan Kalimantan
BAGIKAN:

Tim SAR gabungan masih berjibaku menyisir perairan Masalembo, Laut Jawa, mencari 117 korban yang belum ditemukan dari insiden terbaliknya KM Virgo Transport 8. Hingga Selasa (22/9) malam, operasi penyelamatan ini mencatatkan 126 korban telah ditemukan, dengan rincian 108 orang selamat dan 18 orang meninggal dunia.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana menegaskan bahwa seluruh instrumen pencarian sudah dikerahkan maksimal. Operasi fisik di lapangan berjalan beriringan dengan penyebaran sinyal elektronik ke berbagai kapal yang melintas di zona bencana.

"Jadi e-broadcast yang dilaksanakan oleh Basarnas Command Center di Jakarta sampai dengan saat ini masih on, sehingga semua kapal yang melewati jalur operasi atau jalur tempat kejadian tenggelamnya KMP Virgo ini akan mendapatkan pesan bahwa telah terjadi kapal tenggelam di daerah ini," kata Putu dalam konferensi pers, Selasa.

Ia menambahkan instruksi itu sangat jelas bagi para pelaut. "Kalau menemukan korban agar memberikan bantuan dan penyelamatan. Nah, itu pesan-pesan yang dikirim dari e-broadcast yang akan diterima oleh seluruh kapal yang melalui jalur pelayaran tersebut," sambungnya. Selain teknologi siaran elektronik, Basarnas menerbitkan maklumat pelayaran (mapel) dan meminta Stasiun Operasi Radio Pantai (SROP) menyebarluaskan informasi serupa kepada setiap kapal di sekitar lokasi kejadian.

Jangkauan pencarian kini diperlebar secara signifikan. Putu menyebutkan koordinasi intensif telah dijalin dengan sejumlah Kantor SAR di wilayah lain, mencakup Palangkaraya, Pontianak, Surabaya, dan Semarang. Langkah ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan kebutuhan mendesak mengingat arus laut bisa membawa korban menjauh dari titik awal kecelakaan.

Sasarannya langsung menyentuh akar rumput. Informasi disebarkan kepada masyarakat pesisir hingga ke kampung-kampung nelayan tradisional. "Jadi, mereka biasanya mencari ikan di daerah Kalimantan, jadi apabila mereka diinformasikan dan menemukan korban-korban yang dicurigai sebagai apa penumpang dari KM Virgo ini agar memberikan bantuan dan mengevakuasi serta melaporkan ke instansi terkait atau ke Kantor SAR Banjarmasin," tutur dia. Keterlibatan nelayan lokal menjadi mata dan telinga tambahan yang krusial di area yang sulit dijangkau radar resmi.

Tragedi ini bermula ketika KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9), pukul 02.00 Wita. Kapal yang mengangkut total 243 orang tersebut sedang menempuh rute pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Dugaan kuat penyebab hilangnya kontak adalah cuaca buruk yang menghantam perairan Laut Jawa. Pada hari yang sama, tim pencari menemukan kapal dalam kondisi terbalik.

Analisis Redaksi

Pengerahan e-broadcast yang dikombinasikan dengan pelibatan nelayan tradisional menunjukkan satu realitas pahit: teknologi secanggih apa pun memiliki batas jangkauan di lautan seluas Laut Jawa. Dengan 117 orang masih hilang setelah sembilan hari pencarian, waktu menjadi musuh paling brutal. Mengandalkan armada nelayan Kalimantan yang sehari-hari beroperasi di zona tersebut adalah langkah taktis yang masuk akal, karena mereka memahami pola arus dan celah-celah perairan yang kerap luput dari pantauan kapal resmi.

Angka 18 korban tewas dan 108 selamat dari total 243 penumpang meninggalkan ruang gelap tentang nasib mayoritas orang di kapal itu. Cuaca buruk memang selalu menjadi ancaman laten di jalur Surabaya-Banjarmasin, namun pertanyaan mendasar soal kelayakan kapal dan ketepatan keputusan berlayar saat peringatan cuaca harus segera dijawab. Insiden ini bukan sekadar musibah alam, melainkan ujian bagi sistem keselamatan pelayaran kita.

Langkah logis selanjutnya menuntut investigasi menyeluruh terhadap standar operasional KM Virgo Transport 8 sebelum berangkat pada 12 September lalu. Keluarga korban berhak mendapat kejelasan utuh. Jika ada kelalaian dalam membaca data cuaca atau pelanggaran kapasitas muat, penegak hukum tidak boleh tinggal diam menunggu proses pencarian selesai.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ