Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kebakaran Kandang di Tabanan Hanguskan 24 Ribu Ayam Pedaging, Kerugian Capai Rp1 Miliar

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Kandang di Tabanan Hanguskan 24 Ribu Ayam Pedaging, Kerugian Capai Rp1 Miliar
BAGIKAN:

Sebanyak 24 ribu ekor ayam pedaging mati terpanggang setelah sebuah peternakan di Banjar Dinas Tibudalem, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali, ludes dilalap api pada Jumat (18/9) malam. Insiden yang menghanguskan kandang berukuran 100x12 meter itu menelan kerugian materiil ditaksir mencapai Rp1 miliar.

Kasi Humas Polres Tabanan, Iptu Ni Putu Wiwik Endrayani, memastikan kebakaran besar tersebut terjadi sekitar pukul 22.39 WITA. Peternakan yang hangus itu merupakan milik I Made Dharma Wiguna. "Kerugian materiil kurang lebih Rp1 miliar, berupa kandang dengan ukuran 100x12 meter beserta 24 ribu ekor ayam pedaging," kata Wiwik saat dikonfirmasi, Senin (21/9) sore. Ia juga menegaskan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden ini.

Api pertama kali terdeteksi oleh seorang saksi bernama Deden Rizky Nugraha. Telinganya menangkap suara letupan bambu dari arah kandang. Deden segera menghubungi petugas jaga malam, I Nyoman Anggi Hermawan. Mendapat laporan itu, Anggi bergegas mengecek lokasi dan mendapati api sudah membesar di bagian belakang bangunan. Separuh kandang telah terbakar. Sadar bahaya mengancam, Anggi langsung meminta bantuan rekan-rekannya.

Respons cepat warga mencegah kerugian bertambah parah. Mereka mengevakuasi sejumlah sepeda motor di sekitar lokasi ke tempat yang lebih aman sebelum api merembet. Saksi kemudian menghubungi pemilik kandang dan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Tabanan. Sembari menunggu bantuan tiba, warga bergotong royong menjinakkan si jago merah menggunakan peralatan seadanya.

Bantuan profesional baru menyentuh lokasi satu setengah jam kemudian. "Sekitar pukul 00.09 WITA, satu unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian. Petugas bersama warga melakukan upaya pemadaman kurang lebih 45 menit hingga api akhirnya berhasil dipadamkan," imbuh Wiwik. Kepolisian menduga pemicu kebakaran berasal dari kebocoran gas LPG yang digunakan sebagai alat pemanas di dalam kandang. Pemilik peternakan memilih mengikhlaskan kejadian ini. "Korban tidak melaporkan peristiwa yang dialaminya ke ranah hukum karena menganggap peristiwa itu murni sebagai musibah," pungkas Wiwik.

Kehilangan 24 ribu ekor ayam sekaligus bukan sekadar angka statistik bagi seorang peternak. Itu adalah modal kerja, tenaga berbulan-bulan, dan proyeksi pendapatan yang lenyap dalam hitungan jam. Nilai kerugian Rp1 miliar menunjukkan skala usaha yang cukup besar untuk ukuran peternakan lokal di Tabanan. Keputusan I Made Dharma Wiguna untuk tidak menempuh jalur hukum memang wajar mengingat dugaan penyebabnya murni teknis, yakni kebocoran gas LPG. Namun, beban finansial akibat kebakaran ini akan sangat terasa bagi kelangsungan usahanya ke depan.

Analisis Redaksi

Jeda waktu antara terbakarnya kandang pukul 22.39 WITA dan kedatangan mobil pemadam pukul 00.09 WITA menyisakan catatan kritis. Butuh waktu tepat 90 menit bagi satu unit armada Damkar Kabupaten Tabanan untuk mencapai lokasi. Rentang waktu sepanjang itu sangat menentukan nasib ribuan ternak yang terperangkap. Keterlambatan ini mencerminkan tantangan klasik infrastruktur penanganan darurat di wilayah pedesaan, di mana jarak tempuh dan keterbatasan armada sering kali menjadi faktor penentu antara kerugian parsial dan kehancuran total.

Penggunaan tabung gas LPG sebagai pemanas di dalam kandang tertutup berukuran 100x12 meter menyimpan risiko laten yang kerap diabaikan pelaku usaha peternakan rakyat. Ventilasi kandang ayam pedaging biasanya didesain untuk sirkulasi udara biologis, bukan untuk mitigasi akumulasi gas bocor. Tanpa sensor pendeteksi kebocoran gas atau sistem pemutus aliran otomatis, satu percikan kecil saja bisa memicu bencana berskala besar seperti yang terjadi di Banjar Dinas Tibudalem.

Sikap korban yang mengikhlaskan kejadian ini sebagai musibah menutup pintu penyelidikan forensik lebih lanjut dari kepolisian. Langkah logis selanjutnya seharusnya datang dari dinas terkait di tingkat kabupaten. Pemerintah daerah perlu mendorong audit keselamatan standar terhadap instalasi pemanas di peternakan-peternakan serupa. Jika evaluasi ini diabaikan, tragedi puluhan ribu ayam mati terpanggang hanya tinggal menunggu giliran di kandang berikutnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸