Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

AS Hentikan Operasional 27 Maskapai Iran di Seluruh Dunia Mulai 23 September

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

AS Hentikan Operasional 27 Maskapai Iran di Seluruh Dunia Mulai 23 September
BAGIKAN:

Amerika Serikat resmi menghentikan operasional seluruh maskapai penerbangan Iran di luar negeri mulai Rabu (23/9), sebuah eskalasi tajam dari kampanye tekanan ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Teheran. Langkah ini menyapu bersih ruang gerak 27 maskapai Iran yang sebelumnya telah dijatuhi sanksi oleh Kementerian Keuangan AS pada Selasa (8/9). Ancaman penghentian total itu disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (21/9), menandai babak baru isolasi sektor penerbangan sipil negara tersebut.

"Pada tanggal 23 September, semua maskapai penerbangan Iran akan dihentikan operasionalnya di seluruh dunia," kata Bessent. Pernyataan singkat itu tidak menyisakan ruang negosiasi. Pemerintah Washington secara gamblang membidik bukan hanya armada pesawat berlogo Iran, tetapi juga seluruh ekosistem pendukungnya di berbagai negara.

Jangkauan ancaman ini melampaui batas teritorial. Perusahaan asing yang nekat menyediakan layanan bagi maskapai Iran kini menghadapi risiko sanksi sekunder yang mematikan secara finansial. Bessent merinci bahwa bandara, pemasok bahan bakar, perusahaan penjualan tiket, hingga penyedia layanan penerbangan lainnya dilarang keras membantu operasional maskapai Iran di luar negeri. "Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, tidak boleh memberikan layanan pendaratan, dan tidak boleh menjual tiket kepada mereka; jika melanggar, Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," tegas Bessent. Kalimat terakhir itu adalah vonis mati bagi bisnis apa pun yang bergantung pada transaksi internasional.

Kronologi pemblokiran ini berjalan sistematis dan cepat. Berdasarkan laporan CH Aviation, sanksi terhadap 27 maskapai pada 8 September merupakan pukulan pertama setelah Washington menetapkan sektor penerbangan Iran sebagai sektor yang dapat dikenai sanksi pada Senin (24/8). Seluruh rangkaian kebijakan ini dibungkus dalam kerangka kampanye yang disebut Kementerian Keuangan AS sebagai Operasi Pengasingan Ekonomi. Tujuannya tunggal: mengisolasi total sektor penerbangan Iran sekaligus memutus aliran dukungan keuangan yang menurut Washington menopang pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Departemen Keuangan AS membangun justifikasi langkah ini dengan tuduhan berat. Menurut mereka, maskapai komersial Iran selama ini digunakan untuk mengangkut senjata, personel, dan kargo yang disebut ilegal. Sorotan paling tajam diarahkan pada Mahan Air. Maskapai ini bukan pemain baru dalam radar intelijen Amerika. Mahan Air telah masuk daftar sanksi AS sejak 2011 karena dituduh memberikan dukungan kepada Pasukan Quds IRGC (IRGC-QF). Empat tahun lalu, tepatnya pada 2019, Departemen Luar Negeri AS kembali menetapkan Mahan Air berdasarkan kewenangan yang berkaitan dengan proliferasi senjata. Sanksi terbaru ini sekadar melanjutkan langkah yang sudah diberlakukan Washington pada April dan Juli 2026 terhadap jaringan pendukung operasional maskapai tersebut.

Bagi publik global, khususnya industri penerbangan internasional, ultimatum ini memaksa pilihan biner yang brutal. Operator bandara dan agen perjalanan di Eropa, Asia, maupun Timur Tengah harus segera memutuskan rantai kerja sama dengan maskapai Iran atau bersiap kehilangan akses ke sistem dolar. Penumpang yang memiliki tiket penerbangan lanjutan menggunakan maskapai Iran dipastikan menghadapi pembatalan massal mulai Rabu ini.

Analisis Redaksi

Langkah Washington menghentikan operasional maskapai Iran bukanlah sekadar manuver diplomatik biasa. Ini adalah penggunaan instrumen keuangan sebagai senjata pemusnah massal di arena geopolitik. Dengan mengancam pencabutan akses ke sistem dolar, Menteri Keuangan Scott Bessent pada dasarnya memaksa seluruh entitas penerbangan global menjadi perpanjangan tangan penegak hukum Amerika. Tidak ada zona abu-abu. Bandara mana pun yang masih melayani pendaratan pesawat Iran setelah 23 September sedang mempertaruhkan kelangsungan bisnisnya sendiri.

Yang patut diwaspadai dari eskalasi ini adalah potensi efek domino terhadap stabilitas rute penerbangan di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah. Dua puluh tujuh maskapai yang diblokir mencakup jaringan logistik dan penumpang yang luas. Jika tuduhan pengangkutan senjata dan dukungan kepada IRGC terbukti benar, maka langkah AS menutup celah ini sangat logis. Namun, jika sebagian dari maskapai tersebut murni melayani penerbangan sipil komersial, jutaan warga sipil Iran akan terisolasi dari dunia luar. Isolasi total semacam ini kerap kali justru memperkuat narasi anti-Barat di dalam negeri Iran alih-alih melemahkan kekuasaan elite politik mereka.

Secara logis, langkah selanjutnya yang bisa diperkirakan adalah reaksi berantai dari negara-negara yang selama ini mempertahankan hubungan dagang dengan Teheran. Kita perlu melihat apakah mitra dagang tradisional Iran akan tunduk pada sanksi sekunder ini atau mencari mekanisme pembayaran alternatif di luar jangkauan dolar. Pemerintahan Presiden Donald Trump jelas bertaruh bahwa ancaman eksklusi finansial terlalu menakutkan untuk dilawan. Taruhan ini akan diuji dalam hitungan hari, tepat ketika pesawat-pesawat Iran dipaksa tinggal di landasan pacu mereka sendiri.

Meow! Tanya Nesi!
😸