⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pasokan Dataran Rendah Terbatas, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu per Kg

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pasokan Dataran Rendah Terbatas, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp100 Ribu per Kg
BAGIKAN:

Minimnya pasokan dari sentra produksi memaksa harga cabai rawit merah menembus level Rp100 ribu per kilogram di pasar tradisional, sebuah lonjakan yang langsung memukul daya beli masyarakat. Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengakui seluruh jenis cabai tengah mengalami kenaikan tajam akibat keterbatasan stok yang bersumber dari menyusutnya area tanam produktif.

Kenaikan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Di tingkat petani, harga cabai rawit merah sudah bertengger di kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kg. Selisih margin distribusi kemudian mendorong harga jual ke konsumen akhir meroket menjadi Rp90 ribu sampai Rp100 ribu per kg. "Cabai rawit memang ada kenaikan ya. Kenaikan di petani itu sekitar Rp60 ribu per kg sampai Rp65 ribu per kg. Jadi pas sampai (masyarakat) Rp100 (ribu). Jadi memang kondisi pasar ini sekarang," ujar Abdul saat dihubungi detikcom, Minggu (20/9).

Akar masalahnya terletak pada pergeseran geografis produksi. Abdul menjelaskan bahwa pasokan cabai saat ini hanya bertumpu pada wilayah dataran rendah. Sentra-sentra produksi di dataran tinggi yang biasanya menopang ketersediaan nasional praktis sudah tidak lagi berproduksi. Ketergantungan pada satu zona agroklimat inilah yang membuat rantai pasok menjadi sangat rapuh terhadap gangguan cuaca.

Data resmi memperkuat kekhawatiran para pedagang dan konsumen. Berdasarkan catatan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada Senin (21/9), cabai menduduki posisi komoditas pangan dengan persentase kenaikan tertinggi. Cabai merah keriting melonjak 43,72 persen atau naik sekitar Rp29.050 per kg menjadi Rp95.500 per kg. Sementara itu, harga cabai rawit merah tercatat naik 25,99 persen atau bertambah Rp24.050 per kg hingga menyentuh angka Rp116.600 per kg di level eceran.

Tren serupa terjadi merata pada varian cabai lainnya. PIHPS BI mencatat cabai merah besar terkerek 37,78 persen atau sekitar Rp21.250 per kg menjadi Rp77.500 per kg. Adapun cabai rawit hijau ikut terdorong naik 33,21 persen atau sebesar Rp21.900 per kg sehingga harganya mencapai Rp87.850 per kg. Lonjakan serentak pada keempat jenis cabai ini menandakan adanya tekanan struktural pada sisi penawaran, bukan sekadar spekulasi pasar sesaat.

Situasi ke depan belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Abdul memperingatkan bahwa penanaman baru yang diperkirakan berlangsung pada Oktober hingga November tidak akan serta-merta menambah volume stok secara signifikan karena lahan tanam tetap terbatas di dataran rendah. Kondisi normal baru diproyeksikan kembali pada periode Desember hingga Januari. Namun, waktu tersebut justru membawa ancaman baru berupa musim hujan yang berpotensi memicu gagal panen. "Kalau sananya enggak ada. Gagal semua ya bisa-bisa sampai Rp100 ribu-Rp120 ribu per kg (di masyarakat) di petani ya Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kg," tegasnya. Ia menambahkan, jika kemarau berkepanjangan terus berlanjut hingga November, tekanan terhadap pasokan akan semakin berat.

Analisis Redaksi

Lonjakan harga cabai hingga menembus Rp100 ribu per kg memperlihatkan betapa rentannya tata niaga komoditas hortikultura kita terhadap anomali iklim. Ketika produksi hanya tersisa di dataran rendah, satu variabel cuaca seperti kemarau berkepanjangan langsung memutus keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Margin distribusi yang melebar dari Rp65 ribu di tingkat petani menjadi Rp100 ribu di tangan konsumen juga mengindikasikan tingginya biaya logistik atau panjangnya rantai pasok yang harus diefisienkan oleh pemerintah.

Dari kacamata makroekonomi, data PIHPS Bank Indonesia yang menunjukkan kenaikan hingga 43,72 persen untuk cabai merah keriting patut menjadi sinyal peringatan dini bagi pengendali inflasi daerah. Cabai secara historis selalu menjadi penyumbang utama inflasi kelompok volatile food. Jika pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tidak segera melakukan operasi pasar atau memfasilitasi distribusi antardaerah, ekspektasi inflasi masyarakat bisa ikut terdorong naik dan menekan daya beli rumah tangga kelas menengah ke bawah.

Langkah paling logis dalam jangka pendek adalah mempercepat realisasi penanaman di bulan Oktober sambil memperluas intervensi teknologi pertanian yang tahan kekeringan di dataran rendah. Namun, solusi fundamentalnya menuntut pemetaan ulang sentra produksi agar tidak terlalu bergantung pada satu zona ketinggian tertentu. Tanpa diversifikasi wilayah tanam dan perbaikan sistem irigasi, siklus kelangkaan dan lonjakan harga setiap pergantian musim akan terus berulang dan membebani rakyat kecil.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸