Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Nusron Wahid Mundur dari Kepengurusan Golkar, Bahlil Lahadalia Diminta Buka Suara

PolitikBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Nusron Wahid Mundur dari Kepengurusan Golkar, Bahlil Lahadalia Diminta Buka Suara
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Menteri ATR/BPN Nusron Wahid akhirnya angkat bicara soal namanya yang tak lagi tercantum dalam struktur kepengurusan pusat Partai Golkar di bawah komando Ketua Umum Bahlil Lahadalia.
  • Politikus senior itu membenarkan telah menyampaikan niat mundur dari struktur kepengurusan—bukan sebagai kader—kepada Bahlil sejak tahun lalu.
  • Pernyataan ini dilontarkan Nusron seusai mengikuti rapat di kompleks parlemen, Senin (21/9).

Menteri ATR/BPN Nusron Wahid akhirnya angkat bicara soal namanya yang tak lagi tercantum dalam struktur kepengurusan pusat Partai Golkar di bawah komando Ketua Umum Bahlil Lahadalia. Politikus senior itu membenarkan telah menyampaikan niat mundur dari struktur kepengurusan—bukan sebagai kader—kepada Bahlil sejak tahun lalu. Pernyataan ini dilontarkan Nusron seusai mengikuti rapat di kompleks parlemen, Senin (21/9).

"Kalau soal itu kami sudah lama diskusi dengan Pak Bahlil dari tahun lalu. Jadi selebihnya lebih baik tanyakan sama Pak Bahlil selaku ketua umum," ujar Nusron. Ia secara tegas melempar bola panas tersebut kepada sang ketua umum untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dinamika internal partai berlambang beringin itu.

Sikap menghindar terlihat jelas ketika awak media mencoba menggali alasan di balik pengunduran dirinya. Nusron enggan menjawab dan langsung meminta wartawan memberikan ruang baginya untuk beranjak dari lokasi. "Mas mohon maaf ya, mohon maaf ya, saya punya privasi untuk jalan, boleh enggak saya jalan?" ucap dia sambil memotong rentetan pertanyaan.

Fakta mundurnya Nusron sebenarnya bukan informasi baru di lingkaran elite Golkar. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa Nusron sudah resmi mundur dari kepengurusan sejak lebih dari enam bulan lalu. Pengunduran diri itu, menurut Sarmuji, disampaikan Nusron secara langsung kepada Ketua Umum Bahlil Lahadalia.

"Ya mundur. Pak Nusron menyampaikan langsung ke Ketua Umum. Seingat saya lebih enam bulan lalu," kata Sarmuji saat dihubungi pada Minggu (20/9). Meski demikian, Sarmuji tidak merinci motif politik maupun personal yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Ia hanya menegaskan satu hal krusial: status Nusron sebagai kader Golkar tidak ikut gugur bersamaan dengan jabatannya.

Dalam susunan kepengurusan Golkar periode 2024-2029, Nusron sebelumnya menempati posisi strategis sebagai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian. Hilangnya nama seorang menteri aktif dari jajaran pengurus pusat tentu memunculkan tanda tanya besar di kalangan akar rumput partai. Publik kini menanti apakah Bahlil akan membuka suara atau memilih membiarkan isu ini mengendap tanpa klarifikasi resmi.

Analisis Redaksi

Langkah Nusron mengarahkan wartawan langsung kepada Bahlil bukanlah manuver komunikasi biasa. Dalam tradisi politik partai besar, pelemparan tanggung jawab jawaban seperti ini kerap menjadi sinyal adanya gesekan halus atau setidaknya perbedaan kalkulasi antara elite partai dan pejabat publik yang berasal dari partai yang sama. Posisi Nusron sebagai Menteri ATR/BPN membuatnya harus menavigasi dua kepentingan sekaligus: loyalitas mesin partai dan profesionalitas kabinet. Mundur dari struktur kepengurusan bisa dibaca sebagai upaya menjaga jarak agar kinerjanya di kementerian tidak terseret pusaran intrik internal Golkar.

Konfirmasi Sarmuji bahwa pengunduran diri sudah terjadi lebih dari enam bulan lalu menunjukkan bahwa pergantian ini bukan keputusan mendadak. Ada proses negosiasi panjang di belakang layar yang baru sekarang mencuat ke permukaan publik. Fakta bahwa status kader Nusron tetap dipertahankan juga patut dicermati. Ini mengindikasikan pintu kembali masih terbuka lebar, sebuah strategi klasik dalam politik organisasi untuk mempertahankan aset tanpa harus membebani struktur harian.

Yang perlu diwaspadai adalah efek domino dari absennya figur sekaliber Nusron di pos Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian. Golkar selama ini mengandalkan tokoh-tokoh berbasis massa Islam untuk memperlebar sayap elektoral. Tanpa penjelasan transparan dari Bahlil, kekosongan narasi ini berpotensi dimanfaatkan oleh faksi lain di dalam partai maupun lawan politik di luar pagar. Langkah logis selanjutnya, DPP Golkar perlu segera mengumumkan siapa pengganti definitif di bidang tersebut agar konsolidasi kepengurusan 2024-2029 tidak menyisakan lubang yang mengganggu soliditas partai menjelang kontestasi politik berikutnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸