Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Dewan Pers Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis yang Hilang Kontak

HukumBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara News
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Dewan Pers Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis yang Hilang Kontak
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Dewan Pers menggelar doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap lima jurnalis yang hingga kini hilang kontak dan belum diketahui keberadaannya.
  • Langkah ini diambil setelah rentetan kekhawatiran dari keluarga dan rekan seprofesi yang kehilangan jejak kelima pekerja media tersebut.
  • Kehadiran keluarga korban menjadi momen paling menyita perhatian dalam acara itu.

Dewan Pers menggelar doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap lima jurnalis yang hingga kini hilang kontak dan belum diketahui keberadaannya. Langkah ini diambil setelah rentetan kekhawatiran dari keluarga dan rekan seprofesi yang kehilangan jejak kelima pekerja media tersebut.

Kehadiran keluarga korban menjadi momen paling menyita perhatian dalam acara itu. Rodiah Nasution, istri dari jurnalis iNews Yudistiro Pranoto, hadir di tengah kerumunan peserta doa bersama. Ia datang didampingi anaknya, Kenzie Hafizan Pranoto, yang berdiri di sisi kirinya. Posisi mereka tepat di tengah barisan, menandakan betapa berat beban yang ditanggung keluarga wartawan yang bertugas di lapangan.

Hilangnya kontak dengan lima jurnalis sekaligus bukan peristiwa biasa. Profesi wartawan kerap menempatkan pelakunya di area rawan konflik, baik saat meliput bencana alam maupun gesekan sosial di berbagai daerah. Ketidakjelasan nasib mereka memicu kecemasan luas di kalangan pers nasional.

Dewan Pers bergerak cepat merespons situasi ini. Sebagai lembaga yang mengawal kemerdekaan pers, mereka menggunakan forum doa bersama untuk menyatukan suara komunitas jurnalis. Tekanan moral ini diharapkan memaksa pihak-pihak terkait segera membuka akses informasi mengenai posisi terakhir kelima wartawan tersebut.

Bagi publik, hilangnya lima jurnalis berarti terputusnya aliran informasi dari wilayah kerja mereka. Masyarakat kehilangan mata dan telinga yang selama ini bertugas memverifikasi fakta di lapangan. Kekosongan ini berpotensi menutupi pelanggaran atau kejadian penting yang seharusnya menjadi hak tahu warga negara.

Analisis Redaksi

Doa bersama yang digagas Dewan Pers lebih dari sekadar ritual spiritual. Ini adalah sinyal darurat bahwa mekanisme perlindungan jurnalis kita masih bolong di sana-sini. Ketika lima pekerja media lenyang tanpa jejak secara bersamaan, kita berhadapan dengan ancaman sistematis terhadap kebebasan pers, bukan sekadar kecelakaan tunggal yang bisa diselesaikan lewat prosedur standar.

Yang patut diwaspadai adalah pola hilangnya kontak ini. Apakah kelima jurnalis tersebut bekerja di zona konflik yang sama? Atau mereka meliput isu berbeda namun menghadapi risiko pembungkaman serupa? Tanpa kejelasan data ini, spekulasi liar akan tumbuh dan justru membahayakan upaya pencarian. Keluarga seperti Rodiah Nasution dan Kenzie Hafizan Pranoto tidak boleh dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian yang menyiksa.

Langkah logis selanjutnya menuntut Dewan Pers menekan aparat penegak hukum untuk membentuk tim pencari khusus. Koordinasi dengan jaringan media nasional dan organisasi pers internasional juga mutlak dilakukan. Waktu adalah musuh utama dalam kasus orang hilang, dan setiap jam yang berlalu tanpa tindakan konkret hanya memperbesar risiko tragedi bagi profesi kewartawanan di negeri ini.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ