Korea Utara Luncurkan Rudal ke-14 Tahun Ini ke Laut Jepang, Kim Jong Un Desak Penangkal Nuklir
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Korea Utara kembali menembakkan rudal ke arah Laut Timur atau yang kerap disebut Laut Jepang pada Minggu (20/9/2026), menandai aksi provokatif ke-14 sepanjang tahun ini di tengah eskalasi ketegangan militer Semenanjung Korea. Peluncuran terbaru ini terjadi hanya berselang sepekan setelah Pyongyang melepaskan sejumlah rudal balistik jarak pendek dari wilayah pesisir Wonsan, tepat sehari pasca berakhirnya latihan militer trilateral Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang.
Berdasarkan laporan Korea Herald, Kementerian Pertahanan Korea Selatan belum mengungkapkan rincian mengenai jumlah rudal yang diluncurkan maupun jenis proyektil yang digunakan dalam insiden Minggu tersebut. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan sebelumnya mengonfirmasi bahwa peluncuran pada 12 September 2026 melibatkan sejumlah rudal balistik jarak pendek yang terbang sekitar 250 kilometer menuju perairan timur Korea Utara. Militer Korea Selatan langsung meningkatkan status pengawasan dan bertukar informasi mengenai peluncuran tersebut dengan Amerika Serikat dan Jepang.
Rentetan aksi militer Pyongyang tidak lepas dari respons terhadap latihan Freedom Edge. Latihan trilateral yang berlangsung selama lima hari itu berakhir pada Jumat (11/9/2026) sesuai jadwal. Komando Pasifik AS menyebut militer ketiga negara berlatih bersama dalam domain udara, laut, dan siber, termasuk manuver maritim, pengisian bahan bakar di udara, koordinasi siber, dan latihan medis. Militer Korea Selatan menegaskan latihan tersebut bersifat defensif dan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan respons bersama terhadap ancaman nuklir Korea Utara. Beberapa jam setelah latihan dimulai pada Senin pekan lalu, Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Song Gi mengecam latihan tersebut sebagai tindakan provokatif dan mengancam akan mengambil tindakan balasan.
Langkah diplomatik dan militer terus bergulir menyikapi situasi ini. Dewan Keamanan Nasional kepresidenan Korea Selatan mendesak Korea Utara menghentikan peluncuran rudal balistik yang dinilai melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di sisi lain, Komando Pasifik AS menyatakan peluncuran tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap wilayah AS maupun sekutunya. Sikap Washington terlihat terbelah ketika Presiden AS Donald Trump pada bulan lalu memerintahkan Pentagon untuk secara signifikan mengurangi latihan tahunan Ulchi Freedom Shield bersama Korea Selatan, dengan alasan hubungan yang baik dengan Kim Jong Un. Namun, saudara perempuan Kim Jong Un sekaligus pejabat senior Korea Utara, Kim Yo Jong, menolak langkah tersebut dengan mengatakan pemangkasan durasi latihan tidak mengubah sifat yang disebutnya provokatif dan agresif. Setelah penolakan itu, militer Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke laut.
Di tengah rentetan peluncuran rudal, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyerukan pembangunan penangkal nuklir yang lebih andal dalam upacara peresmian kapal perusak angkatan laut kedua negara tersebut pada Minggu. Korea Utara menyatakan kedua kapal perusaknya dapat membawa rudal berkemampuan nuklir. Kapal perusak kedua ini sebelumnya mengalami kerusakan akibat kegagalan peluncuran pada tahun lalu sebelum akhirnya diperbaiki dan diluncurkan kembali. Kim Jong Un diketahui terus memperluas persenjataan nuklir Korea Utara setelah diplomasi tingkat tinggi dengan Presiden AS Donald Trump runtuh pada 2019.
Analisis Redaksi
Pola peluncuran rudal ke-14 pada tahun 2026 ini memperlihatkan kalkulasi politik Pyongyang yang sangat terukur. Korea Utara secara konsisten menggunakan jeda waktu yang singkat antara berakhirnya latihan militer gabungan dan aksi tembakan rudal mereka untuk mengirimkan pesan tunggal: setiap pergerakan militer lawan akan dibalas dengan demonstrasi kekuatan. Peresmian kapal perusak berkemampuan nuklir oleh Kim Jong Un pada hari yang sama dengan peluncuran rudal bukanlah kebetulan, melainkan upaya terpadu untuk memproyeksikan kesiapan tempur maritim yang selama ini menjadi kelemahan strategis mereka.
Sinyal campuran dari Washington patut diwaspadai secara cermat. Perintah Presiden Donald Trump untuk memangkas latihan Ulchi Freedom Shield justru ditolak mentah-mentah oleh Kim Yo Jong, yang membuktikan bahwa konsesi sepihak tanpa kerangka negosiasi formal tidak lagi mempan meredam ambisi nuklir Pyongyang. Pengembangan program nuklir Korea Utara serta hubungan yang semakin erat dengan Rusia dan China dinilai oleh sejumlah pakar dapat memengaruhi posisi Kim Jong Un dalam kemungkinan diplomasi dengan Amerika Serikat. Dukungan geopolitik baru ini membuat Pyongyang merasa tidak lagi terisolasi seperti saat diplomasi tingkat tinggi dengan Trump runtuh pada 2019.
Ke depan, ruang bagi diplomasi konvensional tampak semakin menyempit. Syarat yang diajukan Kim Jong Un agar Korea Utara kembali ke meja perundingan—yakni penghentian kebijakan yang disebutnya bermusuhan dan pengakuan penuh atas status Korea Utara sebagai negara nuklir—merupakan garis merah yang mustahil diterima oleh Seoul, Tokyo, maupun Washington. Tanpa perubahan mendasar pada pendekatan ketiga negara sekutu tersebut, siklus provokasi dan peluncuran rudal ini hampir pasti akan berlanjut hingga akhir tahun, menjadikan Semenanjung Korea tetap menjadi titik rawan paling berbahaya di kawasan Indo-Pasifik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Kementerian UMKM dan BEI Akselerasi 200 UKM Menuju Pasar Modal Lewat Go Public Academy

Kementerian UMKM Ingatkan UKM Jangan Buru-Buru IPO: Kesiapan Tata Kelola Jadi Kunci Utama

Laba Bersih Phapros Melonjak 311,58 Persen, Didukung Efisiensi Operasional dan Penguatan Margin EBITDA
