Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

12 Bekantan Mati Terbakar di Hulu Sungai Selatan, BKSDA Kalsel Temukan 32 Ekor Masih Hidup

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

12 Bekantan Mati Terbakar di Hulu Sungai Selatan, BKSDA Kalsel Temukan 32 Ekor Masih Hidup
BAGIKAN:

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, merenggut nyawa 12 bekantan (Nasalis larvatus). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan segera mengerahkan tim wildlife rescue setelah menerima laporan kematian satwa endemik tersebut akibat terpapar api.

Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna Kepakisan menyatakan respons cepat dilakukan untuk memverifikasi kondisi di lapangan. "Kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan," ujar Agus di Banjarbaru, Jumat (18/9).

Sesampainya di lokasi, tim berkoordinasi erat dengan aparat desa, kepala desa, dan warga setempat untuk menyisir area sepanjang sungai. Hasil pemeriksaan awal yang menyebutkan korban berjumlah 10 ekor ternyata bertambah menjadi 12 ekor setelah peninjauan lebih teliti. Tim memastikan seluruh bangkai satwa tersebut mati akibat terbakar, lalu dikuburkan dengan disaksikan oleh kepala desa dan masyarakat sekitar.

Agus menjelaskan bahwa karhutla di wilayah tersebut membakar lahan seluas kurang lebih sembilan hektare. Meski tragedi ini menewaskan belasan primata, tim masih menjumpai kelompok bekantan lain yang selamat. "Dijumpai ada 32 bekantan dari kelompok yang sama yang masih hidup. Mereka berada di tempat lain, di sisi berbeda dari lokasi kebakaran," tuturnya.

Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil peninjauan, api diduga berasal dari luar areal habitat bekantan. Angin kencang pada sore menjelang malam hari membawa api dari tempat lain hingga merembet masuk ke kawasan habitat satwa. Masyarakat dan pemerintah desa sebenarnya telah berupaya menjaga kawasan tersebut sejak 2016 melalui pemasangan papan peringatan dan aktif membagikan dokumentasi pelestarian lingkungan via media sosial.

BKSDA Kalsel menyatakan keprihatinan mendalam atas kehilangan satwa yang menjadi ikon provinsi tersebut. Agus menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerhati lingkungan untuk melindungi habitat bekantan. Data BKSDA Kalsel mencatat populasi bekantan di daerah ini pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga berada di kawasan konservasi, sementara dua pertiganya tersebar di luar kawasan konservasi seperti hutan produksi, hutan lindung, dan Areal Penggunaan Lain (APL). Kasus di Balimau terjadi di kawasan APL milik desa.

Analisis Redaksi

Tragedi kematian 12 bekantan di lahan APL menyoroti kerentanan satwa liar di luar kawasan konservasi formal. Dengan dua pertiga populasi bekantan di Kalsel berada di area non-konservasi, risiko konflik dengan aktivitas manusia dan bencana seperti karhutla menjadi sangat tinggi. Komitmen BKSDA untuk mendata kawasan APL sebagai habitat satwa adalah langkah krusial, namun data saja tidak cukup tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar lahan, siapa pun pelakunya.

Upaya preventif berupa papan peringatan dan sosialisasi digital yang dilakukan warga Desa Balimau patut diapresiasi, namun terbukti tidak memadai menghadapi skala kebakaran yang dipicu faktor eksternal. Diperlukan mekanisme mitigasi bencana yang lebih konkret, seperti pembuatan sekat bakar alami atau jalur evakuasi satwa di area rawan. Penetapan area preservasi baru berbasis resor tanpa mengubah status tanah masyarakat bisa menjadi solusi win-win, asalkan disertai anggaran perawatan dan pengawasan yang berkelanjutan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸