Terapis Jelaskan Waktu Ideal Tidur Siang untuk Manfaat Kesehatan Tubuh
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Seorang terapis kesehatan menjelaskan bahwa tidur siang yang dilakukan pada waktu yang tepat dapat memberikan manfaat signifikan bagi pemulihan energi dan fokus tubuh sepanjang hari.
Pakar kesehatan dan terapis bernama Dr. Sara Mednick dari Sleep Neuroscience and Cognition Lab, Johns Hopkins University, menyatakan bahwa durasi tidur siang yang ideal berkisar antara 20 hingga 30 menit. Waktu tersebut cukup untuk masuk ke fase tidur ringan tanpa menyebabkan rasa ngantuk berkepanjungan setelah bangun. "Tidur siang singkat membantu meningkatkan kewaspadaan, kinerja kognitif, dan suasana hati," ujarnya.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews, tidur siang panjang di atas 60 menit justru dapat mengganggu kualitas tidur malam dan memicu gangguan tidur seperti insomnia. Fase tidur dalam (deep sleep) yang dimulai sekitar 40 menit setelah tertidur membuat seseorang sulit bangun segar dan sering mengalami groggy sensation atau disebut sleep inertia.
Waktu terbaik untuk tidur siang adalah pada pukul 13.00 hingga 15.00 siang, seiring dengan turunnya kadar kortisol alami tubuh yang dikenal sebagai afternoon dip. Riset dari National Sleep Foundation menunjukkan bahwa kebanyakan orang mengalami penurunan energi puncak pada rentang waktu tersebut. Tidur siang di luar jendela waktu ini berpotensi menggeser jam sirkadian dan mempersulit tidur malam.
Dampak bagi publik cukup luas mengingat jumlah pekerja di Indonesia yang melaporkan kekurangan waktu istirahat siangnya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat sekitar 59,6% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas kurang tidur dengan rata-rata 6,7 jam per malam. Terapan praktis dari temuan ini mencakup kebijakan tempat kerja yang memperbolehkan istirahat singkat dan edukasi masyarakat tentang hygiene tidur yang tepat.
Analisis Redaksi
Pernyataan terapis ini mengonfirmasi temuan ilmiah yang sudah mapan: tidur siang bukan sekadar kebiasaan, melainkan intervensi kesehatan yang efektif jika dilakukan secara tepat. Masalah utamanya bukan pada apakah tidur siang baik atau buruk, tetapi pada bagaimana seseorang melaksanakannya. Durasi 20-30 menit dengan waktu pelaksanaan sore hari menjadi formula yang paling banyak didukung bukti empiris.
Yang perlu diwaspadai adalah tren masyarakat Indonesia yang cenderung mengabaikan istirahat siang demi produktivitas kerja. Kebiasaan ini berkontribusi pada akumulasi kekurangan tidur kronis. Edukasi publik yang lebih masif tentang timing dan durasi tidur siang bisa menjadi langkah preventif terhadap dampak kesehatan jangka panjang berupa penurunan imunitas, risiko kardiovaskular, hingga gangguan metabolik.
Kemungkinan langkah selanjutnya secara logis mencakup adopsi kebijkan workplace nap break di perusahaan-perusahaan besar, kolaborasi与 Kementerian Kesehatan untuk kampanye sleep hygiene, serta penelitian lebih lanjut terkait karakteristik tidur siang optimal pada populasi Indonesia yang memiliki pola makan dan aktivitas fisik berbeda dari sampel riset Barat.