Pekerja King Pengembang Candy Crush Saga Rencanakan Mogok Pekan Depan

Teknologi
Kevin SanjayaKevin Sanjaya
Sumber: Antara News
Kevin Sanjaya
Kevin Sanjaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Pekerja King Pengembang Candy Crush Saga Rencanakan Mogok Pekan Depan
BAGIKAN:

Pekerja di King, pengembang gim populer "Candy Crush Saga", mengumumkan rencana mogok kerja pekan depan menuntut perbaikan kondisi tenaga kerja di perusahaan anak usaha Activision Blizzard tersebut.

Rencana aksi mogok itu disampaikan melalui pernyataan kolektif yang dibagikan pekerja kepada rekan media, Minggu (18/9/2026). Dalam pernyataan tersebut, pekerja menegaskan keputusannya setelah proses negosiasi dengan manajemen King dinilai tidak membuahkan hasil memadai selama berbulan-bulan.

King yang bermarkas di Stockholm, Swedia, dan memiliki kantor besar di London, Berlin, dan Barcelona, mengaku mengetahui rencana aksi tersebut. Perusahaan yang diakuisisi Activision Blizzard pada 2016 senilai 5,9 miliar dolar itu menyatakan tetap terbuka untuk dialog, namun belum mengeluarkan penawaran konkret terbaru terkait tuntutan pekerja.

Mogok rencana ini mengikuti gelombang aksi serupa di industri gim global sepanjang 2024 hingga 2026, di mana pekerja menuntut transparansi gaji, perlindungan terhadap pengoutsourcing-an, serta kebijakan kerja fleksibel yang adil. King sendiri pernah menghadapi kritik internal soal budaya kerja pada 2021 seiring akuisisi oleh Microsoft yang menelan Activision Blizzard senilai 68,7 miliar dolar.

Dampak mogok berpotensi mengganggu operasional langsung dari "Candy Crush Saga" yang masih menjadi penghasil pendapatan terbesar King dengan ratusan juta pemain aktif bulanan. Gangguan server, keterlambatan pembaruan konten, hingga penanganan keluhan pemain jadi risiko nyata jika aksi mogok berlangsung lama dan diikuti mayoritas pekerja teknis.

Analisis Redaksi

Rencana mogok di King menandakan ketegangan hubungan industrial di sektor gim belum reda meski akuisisi besar-besaran seperti Microsoft-Activision sudah rampung. Pekerja di studio besar kini lebih terorganisir dan berani menantang manajemen soal kesejahteraan, bukan hanya soal gaji. King sebagai studio yang sangat bergantung pada satu franquasi utama — Candy Crush — rentan terhadap gangguan operasional jika tenaga kerja inti berhenti.

Langkah selanjutnya yang logis adalah mediasi oleh pihak ketiga atau intervensi dari induk perusahaan Microsoft, yang memiliki kebijakan netral terhadap serikat pekerja di studio-studio anaknya. Jika mogok terealisasi dan berdampak signifikan ke pendapatan, tekanan investor akan memaksa manajemen King ke meja negosiasi dengan tawaran lebih substansial. Publik dan investor perlu mengawasi apakah ini memicu reaksi rantai di studio lain di bawah payung Xbox Game Studios.

Meow! Tanya Nesi!
😸