Insinyur DeepSeek Sebut Anthropic Setara Hitler Terkait Rem AI

Perdebatan mengenai risiko keselamatan kecerdasan buatan semakin memanas setelah seorang insinyur DeepSeek mengecam seruan perlambatan pengembangan teknologi tersebut oleh CEO Anthropic, Dario Amodei. Liu Shengyu, pengembang model V4.1 DeepSeek, secara terbuka menyatakan ketidakpercayaannya terhadap perusahaan barat seperti Anthropic maupun OpenAI dalam memproduksi sistem kecerdasan buatan mutakhir yang bersifat terbuka dan terjangkau bagi publik.
Dalam unggahan media sosial yang dilansir dari South China Morning Post pada Selasa, 15 September, Liu menuliskan bahwa dirinya sangat menolak skenario di mana Anthropic menguasai kecerdasan buatan atau AGI yang paling canggih. Lebih lanjut, Liu menganalogikan dominasi Anthropic tersebut setara dengan kondisi ketika Adolf Hitler dan Nazi Jerman berhasil memperoleh senjata nuklir mendahului Blok Sekutu pada masa lalu.
Pernyataan keras ini muncul menjelang jadwal pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump yang diperkirakan berlangsung pada 24 September mendatang. Di tengah ketatnya perlombaan supremasi teknologi global, isu keselamatan kecerdasan buatan diprediksi bakal menjadi salah satu poin krusial yang dibahas oleh kedua pemimpin negara tersebut.
Seruan pembatasan laju inovasi yang disuarakan Dario Amodei atas dasar pertimbangan keamanan sebelumnya telah mendapat dukungan dari sejumlah tokoh industri terkemuka. CEO OpenAI Sam Altman serta pendiri xAI Elon Musk tercatat menyetujui gagasan perlambatan tersebut, meski kubu pengembang di China melihat adanya motif terselubung di balik narasi keamanan itu.
Dongbuyaqiao Research Institute menilai bahwa seruan Amodei berpotensi menjadi strategi untuk mengamankan kendali atas regulasi industri sebelum aturan baku ditetapkan secara resmi oleh pemerintah. Amodei sendiri pernah menyarankan Washington untuk mempertahankan pembatasan ekspor chip canggih ke China karena menganggap keunggulan teknologi Beijing sebagai ancaman besar bagi Amerika Serikat dan dunia.
Respons tajam juga datang dari pemerintah Tiongkok melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, yang menyebut seluruh kekhawatiran pengembang AS sebagai omong kosong. Guo menegaskan dalam konferensi pers pada Senin bahwa tindakan menakut-nakuti dan konfrontasi hanya akan menghambat penciptaan aturan kecerdasan buatan global yang sehat. Sikap senada diungkapkan Du Hengfeng dari National Business Daily yang menduga motif komersial mendasari seruan para raksasa teknologi AS tersebut.
Analisis Redaksi
Pernyataan kontroversial dari insinyur DeepSeek ini membuka tabir persaingan geopolitik yang kian meruncing di balik narasi normatif keselamatan teknologi. Isu regulasi kecerdasan buatan tidak lagi sekadar perdebatan etika para insinyur, melainkan instrumen pertarungan pengaruh ekonomi dan kedaulatan digital antara Amerika Serikat dan China. Analog ekstrem yang digunakan menunjukkan tingginya tingkat ketidakpercayaan struktural di antara ekosistem pengembang global yang terbelah.
Menghadapi pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump, isu tata kelola kecerdasan buatan berisiko menjadi ajang tawar-menawar strategis ketimbang konsensus ilmiah. Publik perlu mewaspadai bagaimana standar keselamatan global justru dibajak sebagai proteksionisme terselubung untuk menjegal inovasi kompetitor. Langkah selanjutnya yang perlu dicermati adalah apakah Washington dan Beijing mampu merumuskan kerangka etika netral atau justru mempercepat fragmentasi teknologi dunia ke dalam blok-blok eksklusif.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Samsung Catat Laba Operasional Rekor Rp1.450 Triliun, Sektor Memori AI Jadi Pendorong Utama
