Faisal: Industrialisasi Berorientasi Ekspor Kunci Perkuat Neraca Dagang
- Penilaian itu disampaikannya menanggapi rilis data neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) minggu ini.
- Menurut Faisal, pola ekspor yang selama ini masih didominasi bahan baku dan komoditas mentah justru membuat neraca rentan terhadap guncangan harga global.
- "Industrialisasi berorientasi ekspor itu krusial," ujar Faisal saat dihubungi, Senin (4/8/2026).
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industrialisasi berorientasi ekspor menjadi strategi fundamental untuk memperkuat struktur neraca dagang Indonesia ke depan.
Penilaian itu disampaikannya menanggapi rilis data neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) minggu ini. Menurut Faisal, pola ekspor yang selama ini masih didominasi bahan baku dan komoditas mentah justru membuat neraca rentan terhadap guncangan harga global.
"Industrialisasi berorientasi ekspor itu krusial," ujar Faisal saat dihubungi, Senin (4/8/2026). Ia menegaskan bahwa tanpa transformasi struktur ekspor dari berbasis sumber daya alami ke manufaktur bernilai tambah tinggi, surplus perdagangan akan sulit dijaga secara berkelanjutan.
Data BPS menunjukkan dinamisasi ekspor-impor semester pertama 2026 yang masih mencerminkan ketergantungan pada komoditas unggulan seperti minyak sawit, batubara, dan bijih nikel. Sementara sisi impor tetap didominasi bahan baku industri dan modal yang belum sepenuhnya dapat diproduksi dalam negeri.
Ketergantungan struktural ini menempatkan neraca dagang pada posisi rapuh saat permintaan global melandai, seperti yang terjadi pada paruh kedua 2023 silam. Faisal menambahkan, kebijakan hilirisasi yang digalakkan pemerintah sejak beberapa tahun lalu harus dievaluasi ketat apakah benar telah menciptakan rantai nilai industri yang kokoh atau hanya sekadar memindahkan bottleneck dari tambang ke pabrik pengolahan primer.
Bagi pelaku usaha dan investor, sinyal ini menegaskan arah kebijakan: insentif akan semakin condong ke sektor manufaktur yang mampu menciptakan daya saing ekspor, bukan sekadar memenuhi kebutuhan domestik. Stabilitas neraca dagang pada jangka panjang akan menentukan ruang gerak Bank Indonesia dalam mengelola kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah.
Analisis Redaksi
Pernyataan Faisal menggarisbawahi kekhawatiran klasik ekonomi Indonesia: perangkap komoditas. Surplus neraca dagang belakangan ini memang menggiurkan, tapi komposisinya yang menceritakan kebenaran. Selama ekspor kita masih "mengikuti" siklus harga komoditas global, kita bukan pemainkan pasar, tapi penentu harga. Industrialisasi berorientasi ekspor yang dimaksud bukan sekadar membangun pabrik peleburan nikel, tapi membangun ekosistem komponen, logistik, dan SDM yang memungkinkan produk jadi Indonesia bersaing di pasar Eropa dan AS.
Yang perlu diwaspadai adalah kecepatan eksekusi. Kebijakan downstreaming sering kali terjebak pada regulasi yang berputar-putar (misal larangan ekspor mentah yang berganti-ganti) dan infrastruktur yang tersendat. Langkah logis selanjutnya bukan lagi soal "apakah" industrialisasi diperlukan, tapi "bagaimana" menciptakan kepastian hukum dan biaya produksi yang kompetitif agar investor manufaktur bernilai tinggi benar-benar datang dan bertahan, bukan hanya menunggu momentum harga komoditas naik.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

PGN Raih Penghargaan Industri 2026: Emisi Turun 35,3% di Atas Target, Gas Bumi Jadi Pilar Transisi Energi

Pemerintah Siapkan Revisi Kebijakan DHE SDA, Dipastikan Tak Berkaitan dengan Operasional PT DSI

AIA Syariah Resmi Beroperasi Penuh, Perkuat Ekosistem Asuransi Berbasis Islam di Indonesia
