Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Teka-teki Absennya Menteri Nusron Wahid di DPR Usai Penangkapan Empat Orang Kepercayaannya oleh KPK

HukumBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Teka-teki Absennya Menteri Nusron Wahid di DPR Usai Penangkapan Empat Orang Kepercayaannya oleh KPK
BAGIKAN:

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid belum menampakkan diri ke publik setelah empat orang kepercayaannya terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB). Ketidakhadiran Nusron terlihat mencolok saat ia absen dalam dua rapat kerja berturut-turut bersama Komisi II DPR RI pada Selasa (15/9) dan Rabu (16/9), tepat saat badai hukum mulai menerjang kementerian yang dipimpinnya.

Pada rapat hari Selasa yang membahas pengelolaan aset pemerintah daerah dan BUMD, kursi menteri justru diisi oleh Wakil Menteri ATR/BPN, Ossy Dermawan. Ketidakhadiran ini mengundang tanda tanya besar karena sejumlah pejabat tinggi lainnya, termasuk Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian hingga barisan gubernur, hadir memenuhi undangan parlemen hanya sehari setelah aksi senyap tim penyidik KPK tersebut berlangsung.

Situasi tidak berubah pada Rabu (16/9), tepat setelah lembaga antirasuah resmi mengumumkan status tersangka bagi para pihak yang terlibat dalam kasus suap tersebut. Nusron kembali mangkir dari rapat penetapan dan penyesuaian RKA K/L Tahun 2027 hasil pembahasan Badan Anggaran DPR. Hingga saat ini, empat nama yang dikenal dekat dengan sang menteri—Arif Sugiyanto, Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, Erwin, dan Muhammad Fakhry—telah resmi menyandang status tersangka dan mendekam di rumah tahanan.

Wakil Menteri Ossy Dermawan berupaya meredam spekulasi dengan menyatakan bahwa dirinya hadir di Senayan atas instruksi langsung dari Nusron. Meski membantah kabar bahwa bosnya sedang jatuh sakit karena komunikasi internal masih berjalan aktif, Ossy enggan merinci keberadaan pasti maupun agenda spesifik yang membuat Nusron harus absen dari agenda sepenting rapat anggaran negara. Ia hanya berdalih bahwa menteri memiliki penugasan dan kegiatan lain yang sudah terjadwal sebelumnya.

Di sisi lain, KPK mulai membidik potensi keterlibatan Nusron dalam pusaran kasus ini. Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK, Achmad Taufik Husein, menegaskan bahwa nama Nusron telah muncul dalam rangkaian pemeriksaan saksi-saksi. Tim penyidik kini tengah mendalami secara intensif sejauh mana peran atau pengetahuan sang menteri terkait praktik lancung pengurusan HGB yang melibatkan orang-orang dekatnya tersebut guna mencari benang merah aliran dana.

Analisis Redaksi

Absennya seorang menteri di tengah badai hukum yang menerjang lingkaran terdalamnya jarang sekali merupakan kebetulan semata. Secara politik, sikap diam atau "menghilangnya" Nusron Wahid dari hadapan publik dan mitra kerja di Komisi II DPR bisa dibaca sebagai upaya meminimalisir sorotan atau bagian dari konsolidasi internal menghadapi proses hukum. Namun, dalam tradisi akuntabilitas publik, langkah ini justru berisiko memperkuat kecurigaan bahwa ada masalah sistemik yang lebih besar di balik kasus suap HGB tersebut.

Pernyataan tegas Istana melalui Wamensesneg Bambang Eko Suhariyanto yang menyebut Presiden Prabowo tidak akan mengintervensi proses hukum adalah sinyal bahwa tidak ada "payung pelindung" bagi anggota kabinet yang terseret kasus korupsi. Fokus kini beralih pada keberanian KPK untuk menelusuri bukti-bukti hingga ke pucuk pimpinan. Jika penyidikan berkembang, posisi Nusron akan semakin terjepit, dan keterbukaan informasi dari kementerian menjadi harga mati agar kepercayaan publik terhadap reformasi agraria tidak runtuh seketika.

Meow! Tanya Nesi!
😸