Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Prabowo Targetkan Dampak Ekonomi Kopdes Merah Putih Terasa 2027

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Prabowo Targetkan Dampak Ekonomi Kopdes Merah Putih Terasa 2027
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto menegaskan dampak ekonomi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) baru akan terasa nyata pada 2027 mendatang, meskipun saat ini baru sekitar 6.000 unit yang beroperasi. Pernyataan itu disampaikannya dalam Program Presiden Prabowo Menjawab yang dirilis Bakom RI, Rabu (16/9).

"Dan ini nanti efeknya akan terasa saya kira beberapa bulan, mungkin tahun 2027, 2028 akhir. Ini kurang lebih," ucap Prabowo dengan nada realistis soal jangka waktu program andalannya itu. Ia menempatkan Kopdes sebagai sarana rantai pasok utama yang menembus ke tingkat desa, dirancang untuk memangkas rantai distribusi agar kebutuhan pokok terjangkau bagi masyarakat.

Kepala Negara itu menyebut keberadaan koperasi ini sebagai terobosan baru yang membuka ruang sistem rantai pasok lebih efisien. Lewat mekanisme tersebut, produsen diharapkan bisa menyalurkan produk langsung ke konsumen tanpa perantara berlapis-lapis yang selama ini menebalkan biaya.

Prabowo meng ilustrasikan kasus hasil panen petani yang harus melewati sekitar lima lapis perantara sebelum sampai ke tangan pembeli akhir. Menurut perhitungannya, para perantara itu menyedot margin keuntungan 30 hingga 40 persen, menciptakan distorsi di mana konsumen beli mahal, petani jual murah, dan keuntungan justru mengendap di tengah.

"Ada tambahan (penghasilan) untuk petani, tapi konsumen juga hemat. Jadi ini kurang lebih gagasan intinya," tegas Prabowo merangkum filosofi program. Ia meyakini semakin banyak jumlah koperasi yang dibangun, semakin terasa dampak efisiensi distribusi bagi ekonomi rakyat.

Analisis Redaksi

Target 2027 yang dibuka Prabowo mengisyaratkan kesadaran akan jarak waktu maturasi institusi koperasi di tingkat akar rumput. Hanya 6.000 unit dari puluhan ribu desa yang beroperasi saat ini menunjukkan skala tantangan manajemen, modal, dan kapasitas SDM yang masif. Keberhasilan tidak hanya bergantung pada jumlah pendirian, tapi pada disiplin tata kelola agar tidak terjebak praktik markup baru di tangan pengurus koperasi itu sendiri.

Potongan rantai distribusi lima lapis jadi satu via Kopdes adalah logika ekonomi yang benar, tapi eksekusinya memerlukan infrastruktur logistik pendukung โ€” cold storage, transportasi, dan sistem informasi harga โ€” yang belum tentu siap di seluruh pelosok. Tanpa itu, koperasi berisiko jadi sekadar perantara baru dengan beban operasional lebih tinggi. Langkah selanjutnya yang logis adalah percepatan pembentukan badan usaha milik desa yang profesional, dibarengi pengawasan ketat agar margin 30-40 persen itu benar-benar kembali ke petani dan konsumen, bukan mengisi kantong oknum baru.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ