Prabowo Puji Amran Capai Swasembada Beras Setahun, Jauh Lebih Cepat dari Target Empat Tahun
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Presiden Prabowo Subianto terang-terangan mengakui kehebatannya Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai berhasil mengantarkan Indonesia ke swasembada pangan, khususnya beras, hanya dalam waktu setahun โ jauh melesat dari target awal empat tahun yang ia tetapkan.
Pengakuan itu disampaikan Prabowo dalam dialog tertutup bersama jurnalis senior dan pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026), tayang di CNBC Indonesia, Rabu (16/9/2026). "Saya beri waktu tadinya swasembada pangan 4 tahun. Tapi terus terang aja saya harus mengakui saya punya tim pertanian, saya punya Menteri Pertanian yang hebat," ucap Kepala Negara itu dengan nada yang terasa santai namun tegas.
Latar belakang penunjukan Amran justru menambah narasi menarik. Prabowo mengaku sama sekali tidak mengenal mantan Menteri Pertanian era Jokowi itu sebelumnya. "Kebetulan saya tadinya enggak kenal dia. Dia bukan partai saya, saya benar-benar saya tidak kenal Pak Amran," terangnya, menegaskan bahwa meritokrasi dan kinerja nyata menjadi landasan kepercayaan, bukan afiliasi politik Gerindra.
Kinerja Amran yang mengejutkan justru memicu kekecewaan Prabowo pada segelintir pakar. Capaian swasembada beras dalam satu tahun dinilai luar biasa, namun ada pihak yang enggan mengakui. "Dari 4 tahun, dia bisa hasilkan swasembada pangan 1 tahun. Ini kan luar biasa ini! Yang itu yang saya sedih ya. Ini ada pakar-pakar yang menganggap dirinya pinter apa, dia tidak mau mengakui prestasi bangsa. Padahal dia nikmati," tutur Prabowo, menepuk tangan sambil menatap hadirin.
Bagi Prabowo, swasembada pangan bukan sekadar statistik produksi, melainkan benteng pertahanan nasional di tengah geopolitik yang guncang. Ia mengaitkan ketahanan ini dengan ketidakpastian global, mulai perang di Timur Tengah hingga fluktuasi harga di negara tetangga. "Kita swasembada pangan berarti kita relatif aman menghadapi banyak masalah. Kita bayangkan kalau perang di Timur Tengah dan di mana-mana, kalau kita enggak swasembada pangan, bagaimana coba? Tetangga kita Malaysia, Filipina, Jepang, Anda cek harga beras di sana ya," ujarnya, menyoroti kesenjangan harga yang nyata.
Keyakinan itu kemudian dihubungkan Prabowo dengan respon rakyat. Ia percaya kehadirannya yang disambut berbondong-bondong masyarakat adalah cerminan dari bukti kerja nyata, bukan janji kosong. "Jadi saya pikir saya kok yakin sekali kalau tiap kali saya muncul di rakyat, rakyat berbondong-bondong nyambut saya. Jadi bagi saya yang penting saya kerja, kita kerja," pungkasnya, menutup dialog yang berlangsung cukup lama itu.
Analisis Redaksi
Pujiian Prabowo kepada Amran menandai langkah langka di mana Presiden memberikan kredit penuh pada kabinetnya atas capaian KPI strategis, sekaligus mengirim sinyal bahwa loyalitas pada hasil kerja di atas loyalitas partai. Klaim swasembada beras dalam satu tahun ini, jika diverifikasi data BPS dan Bulog, akan menjadi pencatatan sejarah pertanian modern Indonesia, mengingat target serupa selalu bergeser selama puluhan tahun.
Namun, tantangan sesudah 'swasembada' justru lebih kompleks: menjaga stabilitas harga di tingkat petani agar produksi berlanjut, mengamankan distribusi ke daerah 3T, serta mengantisipasi ancaman iklim seperti La Nina yang mengancam musim tanam mendatang. Kebanggaan Presiden wajar, tapi uji nyata keberlanjutan kebijakan Amran baru dimulai saat euforia pujian ini reda.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Di Tengah Eskalasi Perang Arab, Laba Saudi Aramco Melonjak 34,6% di Kuartal III-2026

Jelaskan Isu Karhutla Singapura, KEEN Tegaskan Tidak Terlibat Secara Hukum maupun Operasional

Tekanan Besar di Sesi I: Dana Asing Cabut Rp831,55 M, Saham BBRI dan TLKM Jadi Sasaran Utama
