Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Chairul Tanjung Jadi Korban Deepfake Investasi, CT Corp: Video Palsu Total

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Chairul Tanjung Jadi Korban Deepfake Investasi, CT Corp: Video Palsu Total
BAGIKAN:

Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, tercatat sebagai korban terbaru penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan berupa deepfake yang merekayasa wajah dan meniru suaranya mempromosikan platform investasi palsu. Video yang beredar luas di media sosial itu dipastikan hoaks sepenuhnya, tidak ada kaitannya dengan sang pengusaha maupun grup bisnisnya.

Dalam keterangan resmi yang diterbitkan Kamis (17/9), pihak CT Corp menegaskan video tersebut diciptakan dengan teknologi deepfake yang canggih untuk menipu publik. "Masyarakat diimbau untuk berhati-hati dan tidak mudah tergiur oleh tawaran investasi apa pun yang mencatut nama Chairul Tanjung maupun afiliasi perusahaan CT Corp," tulis pernyataan itu dengan tegas.

Kasus ini bukan kejadian terisolasi. Penyalahgunaan AI untuk penipuan finansial dengan mencatut identitas tokoh publik, pejabat, hingga pengusaha ternama dinilai kian marak dan terorganisir. Modus operandi para pelaku semakin menyulitkan karena hasil rekayasa video kini sulit dibedakan dari rekaman asli oleh mata telanjang.

Pakar keamanan siber yang mengawasi perkembangan ini menyebut ketersediaan alat generatif AI murah dan aksesibel menjadi katalisator ledakan kasus semacam ini. Pelaku tak lagi memerlukan keahlian teknis tinggi; cukup mengunggah foto dan sampel suara target ke platform tertentu, lalu video palsu siap dihasilkan dalam hitungan menit.

Bagi korban potensial, dampaknya nyata: kerugian finansial yang sering tak terkecil, serta kerusakan reputasi bagi tokoh yang namanya dicatut. CT Corp sendiri sudah menyiapkan langkah hukum, meski mengejar pelaku di dunia maya sering kali seperti mengejar bayang-bayang karena server dan akun palsu tersebar di jurisdiksi berbeda.

Analisis Redaksi

Peristiwa ini menegaskan bahwa literasi digital publik tidak lagi sekadar soal membedakan berita palsu teks, tetapi kemampuan memverifikasi konten audiovisual yang semakin dekat dengan realita. Verifikasi silang melalui saluran resmi perusahaan dan mengecek domain situs investasi sebelum mentransfer dana menjadi pertahanan terakhir yang wajib dimiliki siapa pun.

Langkah selanjutnya yang logis adalah tekanan kepada platform media sosial dan penyedia layanan AI generatif untuk memperketat moderasi dan menanamkan watermark tak terlihat pada setiap keluaran sintetis. Tanpa regulasi yang mengikat platform, siklus deepfake-hoaks-laporan-polisi akan berulang tanpa akhir, mengorbankan kepercayaan publik dan integritas tokoh-tokoh yang justru jadi sasaran mudah karena popularitasnya.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸