Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

AS Akui Pertama Kali Mengerahkan Senjata di Orbit, Ahli: Sinyal ke China dan Rusia

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

AS Akui Pertama Kali Mengerahkan Senjata di Orbit, Ahli: Sinyal ke China dan Rusia
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Amerika Serikat secara resmi mengakui Senin (14/9) telah menempatkan senjata di orbit Bumi, pengakuan publik perdana yang menandai pergeseran doktrin militer Washington ke domain antariksa.
  • "Kami terus memastikan bahwa kami siap menghadapi tantangan ancaman yang terus berkembang di mana pun ancaman itu berada," kata Meink seperti dikutip CNN.
  • Penolakan memberikan rincian teknis itu sendiri menjadi pesan strategis: ketidakpastian memaksa lawan potensial menghitung risiko yang lebih besar.

Amerika Serikat secara resmi mengakui Senin (14/9) telah menempatkan senjata di orbit Bumi, pengakuan publik perdana yang menandai pergeseran doktrin militer Washington ke domain antariksa. Sekretaris Angkatan Udara Troy Meink menyatakan senjata tersebut bertujuan mendukung pasukan AS dari ancaman di luar angkasa, namun menolak mengungkap jenis, posisi, jumlah, maupun kapan sistem tersebut dikerahkan.

"Kami terus memastikan bahwa kami siap menghadapi tantangan ancaman yang terus berkembang di mana pun ancaman itu berada," kata Meink seperti dikutip CNN. Penolakan memberikan rincian teknis itu sendiri menjadi pesan strategis: ketidakpastian memaksa lawan potensial menghitung risiko yang lebih besar. Victoria Samson, direktur utama Keamanan dan Stabilitas Ruang Angkasa Secure World Foundation, menilai pengakuan ini mengirim sinyal jelas ke Beijing dan Moskow serta berpotensi mengubah orbit menjadi arena konfrontasi militer terbuka.

Para pakar memperkirakan senjata yang dimaksud bukan tipe kinetik yang meluncurkan proyektil fisik, melainkan platform peperangan elektronik atau pengacau komunikasi berbasis ruang angkasa. Bleddyn Bowen, profesor madya astropolitik Universitas Durham, menjelaskan ke BBC Radio 4 Today bahwa senjata anti-satelit non-kinetik โ€” seperti sistem pengacau radio โ€” sudah ada di Bumi dan lebih masuk akal secara operasional. "Yang kurang mungkin adalah kendaraan pembunuh kinetik," tandasnya, merujuk pada satelit bunuh diri yang menabrak target dan menciptakan puing berbahaya.

Sejarah militarisasi antariksa sebenarnya sudah dimulai sejak akhir 1960-an melalui program Istrebitel Sputnikov (IS) Uni Soviet yang meluncurkan satelit pelepasan proyektil ledakan. Era modern menambah fungsi satelit untuk pengintaian, komunikasi, pendeteksian rudal, dan penargetan presisi. Desember 2019, Presiden Donald Trump membentuk US Space Force di bawah Komando Ruang Angkasa AS di Pentagon, terpisah dari NASA yang bersifat sipil. Tugasnya: mengoperasikan dan melindungi satelit militer, memantau ancaman, serta mendukung pasukan di Bumi.

Rusia, China, dan India lama mengembangkan kemampuan anti-satelit. Sepuluh tahun terakhir, Moskow dan Beijing intensif melakukan operasi pertemuan dan kedekatan (RPO) โ€” manuver satelit mendekati objek lain. Dr. Rod Thornton dari King's College London memperingatkan satelit RPO teoritis bisa berubah jadi "pemburu-pembunuh" yang menabrak atau mendorong target keluar orbit. Dr. Mark Hilborne menambahkan uji coba rudal anti-satelit China 2007 meninggalkan puing yang masih mengancam hingga kini. Juliana Suess dari Stiftung Wissenschaft und Politik menegaskan: "Tidak harus potongan logam besar, sepotong plastik kecil pun mematikan di kecepatan orbit."

Analisis Redaksi

Pengakuan Meink bukan sekadar transparansi โ€” ini deklarasi deterrence. Dengan menegaskan kehadiran senjata tanpa spesifikasi, Washington menciptakan "keabadian ketidakpastian" yang memaksa China dan Rusia mengalokasikan sumber daya untuk menghadapi skenario terburuk. Risikonya, kebijakan ambiguity ini justru mendorong perlombaan persenjataan terselubung: lawan akan mengasumsikan kapabilitas paling mematikan dan membangun lawanannya. Orbit rendah (LEO) yang sudah padat satelit komersial โ€” Starlink, OneWeb, constellations China โ€” jadi rentan kerusakan lateral jika konflik pecah.

Langkah logis selanjutnya: AS akan mendorong norma perilaku bertanggung jawab di forum multilateral seperti UN COPUOS atau Open-Ended Working Group on Reducing Space Threats, sambil diam-diam memperluas armada Space Force. Indonesia sebagai negara maritim bergantung satelit untuk navigasi, komunikasi, dan pengawasan ZEE harus memperkuat ketahanan ruang angkasa nasional โ€” bukan hanya beli layanan, tapi bangun kapasitas pemantauan ancaman orbit sendiri. Keamanan laut kini tak terpisah dari keamanan di 400 kilometer di atas kepala.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ