RI Produksi 25% Rumput Laut Dunia, Hilirisasi dalam Negeri Mendesak
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pemerintah terus mendorong pengembangan potensi ekonomi biru melalui hilirisasi rumput laut yang bernilai ekonomi tinggi untuk produk makanan, farmasi, kosmetik, bioteknologi, hingga tekstil. Dorongan itu kembali mencuat dalam diskusi Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (16/09/2026), saat ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, memaparkan besarnya potensi yang belum tergarap maksimal.
Indonesia memproduksi 25% rumput laut dunia dengan produksi 200 ribu ton. Namun, pengolahan lebih lanjut masih terkonsentrasi di luar negeri. Kondisi itu membuat nilai manfaatnya belum maksimal dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Salma Laiqa menyebut potensi produksi rumput laut RI yang besar belum dimaksimalkan pemanfaatannya. Baginya, kondisi ini menjadi peluang bagi hilirisasi rumput laut yang menjadi bagian dari pengembangan ekonomi RI.
Melalui hilirisasi rumput laut di dalam negeri, produksi dan kualitas rumput laut dapat meningkat. Langkah itu juga dinilai mampu mendorong produk olahan dengan lebih masif. Pemerintah menempatkan sektor ini sebagai bagian dari pengembangan potensi ekonomi biru.
Diskusi itu menghadirkan Aulia Wardhani dengan ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 16/09/2026). Pemaparan keduanya menyoroti prospek dan tantangan hilirisasi rumput laut RI. Hingga akhir diskusi, persoalan utama tetap sama: pengolahan di dalam negeri belum menjadi arus utama.
Analisis Redaksi
Fakta bahwa Indonesia memproduksi 25% rumput laut dunia dengan 200 ribu ton semestinya menjadi modal besar. Akan tetapi, selama pengolahan lebih lanjut masih terkonsentrasi di luar negeri, nilai tambah tidak sepenuhnya tinggal di dalam negeri. Inilah inti persoalan yang membuat hilirisasi rumput laut tidak bisa lagi ditunda.
Hilirisasi di dalam negeri berpotensi meningkatkan produksi dan kualitas rumput laut sekaligus memperluas produk olahan. Namun, tanpa ekosistem pengolahan yang siap, potensi itu hanya akan berhenti sebagai angka produksi. Pemerintah perlu memastikan kapasitas industri, teknologi, dan pasar domestik berjalan seiring.
Langkah selanjutnya yang logis adalah memperkuat pengolahan dalam negeri untuk makanan, farmasi, kosmetik, bioteknologi, dan tekstil. Jika arus ini konsisten, manfaat ekonomi bisa lebih dirasakan masyarakat Indonesia. Sebaliknya, jika ekspor mentah terus dominan, posisi Indonesia sebagai raksasa rumput laut tidak otomatis menjelma menjadi kekuatan industri.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rotasi Investasi Global ke Sektor AI Picu Aksi Jual Asing Rp97 Triliun di Bursa RI, AllianzGI: Jangan Pesimistis

OJK Dorong Keuangan Syariah Bergeser ke Era User-Centric: Tak Boleh Sekadar Jual Label

JB Syariah Klarifikasi Dugaan Hilangnya 2,2 Kg Emas Nasabah: Tak Ada Fasilitas Deposito, Sempat Gadai Lunas Sejak 2013
