Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Netanyahu Serang Sutradara Israel Usai Film NAZA Bongkar Metode Bunuh AI di Gaza

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Netanyahu Serang Sutradara Israel Usai Film NAZA Bongkar Metode Bunuh AI di Gaza
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kemarahan itu meledak setelah tepuk tangan berdurasi lebih dari 20 menit menyambut pemutaran film di Venesia, menurut laporan media pro-Israel, The Algemenier.
  • Tekanan politik pun turut menyertai ancaman hukum.
  • Respons ganda ini menandakan upaya sistematis untuk mendelegitimasi karya yang mengungkap sisi gelap operasi militer.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan serangan verbal keras kepada dua warganya, Yuval Abraham dan Rachel Szor, usai film dokumenter "NAZA" yang mereka sutradarai meraih penghargaan tertinggi di Festival Film Venesia, Kamis (10/9) waktu setempat. Dalam video yang diunggah ke Telegram pada Senin, Netanyahu menuduh karya itu mendorong kekerasan serta antisemitisme, menilai hasutan dari dalam negeri sendiri tak bisa ditoleransi saat Israel menghadapi gelombang anti-Semit global.

Kemarahan itu meledak setelah tepuk tangan berdurasi lebih dari 20 menit menyambut pemutaran film di Venesia, menurut laporan media pro-Israel, The Algemenier. Netanyahu secara spesifik menyinggung gambaran Tentara Pertahanan Israel (IDF) sebagai penjahat perang yang justru mendapat apresiasi di panggung internasional, sebuah kontras tajam yang memicu amarah di lingkungan pejabat tinggi.

Tekanan politik pun turut menyertai ancaman hukum. Menteri Kebudayaan dan Olahraga Miki Zohar berancang mencabut kewarganegaraan Israel kedua sutradara tersebut, sementara Kepala Staf Militer Eyal Zamir menilai "NAZA" sebagai fitnah berdarah dan distorsi realitas yang disengaja terhadap tentara serta komandan IDF. Respons ganda ini menandakan upaya sistematis untuk mendelegitimasi karya yang mengungkap sisi gelap operasi militer.

Film yang diproduksi The Guardian ini mengangkat betapa entengnya petugas intelijen Israel menargetkan warga Gaza melalui sistem NAZA โ€” akronim militer untuk perkiraan jumlah korban sipil dalam satu serangan udara. Sumber dalam film mengklaim standar persetujuan pernah mencapai 500 NAZA, artinya 500 warga sipil diperbolehkan tewas hanya untuk membunuh satu anggota Hamas. Kecerdasan buatan memilih target, drone menjatuhkan bom, dan seluruh proses dijauhkan dari rasa bersalah melalui eufemisme birokratis.

Kecaman paling menusuk datang dari narasi para petugas sendiri. "Peran saya bersifat teknis," ujar satu petugas. "Saya hanya roda gigi kecil," tambah yang lain. Yuval Abraham, dalam wawancara, menegaskan betapa mudahnya membunuh melalui layar. Ia mengungkap para analis intelijen mendengar tangisan bayi dan percakapan keluarga lewat penyadapan telepon, mengetahui rumah target penuh anak-anak, namun tetap memerintahkan serangan lanjutan โ€” sebuah pengakuan yang menggeser diskusi dari kesalahan taktik ke kebijakan institusional.

Penghargaan di Venesia justru memvalidasi keberanian Abraham dan Szor mengorek luka terbuka di tengah tekanan nasionalis. Karya ini tidak hanya sekadar film, melainkan bukti terdokumentasi bahwa arsitektur pembunuhan massal telah dibangun di atas algoritma dan pembagian tugas yang sengaja memecah rantai tanggung jawab moral. The Guardian sebagai produser internasional memberikan lapisan perlindungan jurnalistik yang sulit dibantah oleh narasi resmi Tel Aviv.

Analisis Redaksi

Ancaman pencabutan kewarganegaraan terhadap Abraham dan Szor menciptakan preseden berbahaya: disiden yang membongkar kejahatan perang kini diperlakukan sebagai musuh negara. Langkah Miki Zohar mengesampingkan proses hukum dan menempatkan loyalitas politik di atas kebenaran faktual, sinyal bahwa ruang kritik di Israel semakin menyempit bahkan bagi mereka yang memakai kamera, bukan senjata.

Klaim "fitnah berdarah" dari Kepala Staf Zamir bertentangan keras dengan bukti visual dan testimoni internal yang disajikan film. Jika IDF yakin data mereka bersih, jalur paling logis adalah mengundang investigasi independen, bukan menyensor sutradara. Kemenangan di Venesia memaksa dunia menghadapi realitas NAZA: sistem yang mengubah nyawa manusia menjadi angka statistik dalam kalkulasi algoritma, sebuah isu yang melampaui batas Israel-Gaza dan menyentuh etika perang modern.

Langkah selanjutnya yang paling realistis adalah tekanan diplomatik ke Italia dan badan festival, serta upaya hukum untuk memblokir distribusi film di platform global. Namun, semakin keras Israel menolak, semakin kuat narasi bahwa NAZA bukan sekadar film โ€” melainkan cermin yang harus dibongkar. Untuk publik global, ini uji nyata: apakah dunia menerima pembunuhan otomatis dengan alasan keamanan, atau menuntut akuntabilitas atas setiap angka NAZA yang disetujui.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ